Saat Gentle Parenting Disalahartikan dalam Pengasuhan Anak

Mahasiswa - Universitas Pamulang Prodi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Riffa Fauriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah lihat anak kecil tantrum di tempat umum, sementara orang tuanya cuma tersenyum atau membiarkan? Belakangan ini, istilah gentle parenting makin sering muncul di media sosial. Banyak orang tua mulai beralih ke pola asuh yang lebih tenang, tanpa bentakan, dan lebih berusaha memahami emosi anak. Sekilas, ini terlihat seperti langkah yang tepat. Tapi di balik itu, muncul satu pertanyaan yang mulai terasa relevan: apakah semua yang terlihat “lembut” benar-benar gentle parenting, atau justru tanpa sadar berubah jadi sikap membiarkan?
Tantrum pada anak usia 1–2 tahun sebenarnya bukan hal yang aneh. Dalam psikologi perkembangan anak, fase ini memang jadi bagian dari proses mereka belajar mengenali emosi dan lingkungan. Mereka belum bisa mengontrol diri sepenuhnya, dan seringkali mengekspresikan keinginan lewat tindakan impulsif, seperti melempar barang atau menangis di tempat umum.
Yang jadi menarik, respon orang tua justru punya peran besar dalam membentuk kebiasaan itu. Ada momen ketika anak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak tepat—misalnya melempar barang saat makan—tapi direspon dengan senyuman atau tawa karena dianggap lucu. Dari sudut pandang anak, ini bukan sekadar reaksi, tapi “sinyal”. Mereka belajar bahwa tindakan itu tidak masalah, bahkan bisa jadi cara efektif untuk menarik perhatian.
Tanpa disadari, pola kecil seperti ini bisa terus berulang. Anak mengulangi perilaku yang sama, orang tua merespon dengan cara yang sama, dan akhirnya terbentuk kebiasaan. Ketika kebiasaan itu terbawa ke ruang publik, barulah muncul label “anaknya aktif” atau “memang lagi fase-nya”. Padahal, bisa jadi ada pola yang sebelumnya tidak diarahkan dengan jelas.
Di sinilah gentle parenting sering kali disalahartikan. Banyak yang mengira bahwa menjadi orang tua yang lembut berarti tidak boleh melarang, tidak boleh tegas, atau harus selalu membiarkan anak mengekspresikan diri sebebas mungkin. Padahal, inti dari gentle parenting bukan sekadar lembut, tapi juga konsisten dan tetap punya batasan.
Memberi pemahaman ke anak memang penting, bahkan sering disarankan dalam pendekatan tumbuh kembang. Tapi untuk usia toddler, pemahaman tidak cukup hanya lewat kata-kata. Anak belum sepenuhnya mengerti logika, mereka lebih peka terhadap ekspresi dan respon yang berulang. Artinya, ketika suatu perilaku tidak tepat, mereka butuh respon yang jelas—tenang, tapi tegas.
Bukan berarti harus membentak atau menghukum secara keras. Tapi juga bukan sekadar tersenyum dan mengatakan “no no” tanpa tindakan lanjutan. Karena di usia ini, anak sedang belajar batasan pertama dalam hidupnya, dan orang tua jadi sumber utama pembelajaran itu.
Fenomena tantrum di ruang publik akhirnya bukan cuma soal anak yang belum bisa mengontrol emosi, tapi juga tentang bagaimana lingkungan terdekatnya merespon sejak awal. Hal-hal kecil yang terlihat sepele, bahkan lucu, bisa punya dampak jangka panjang kalau terus diulang tanpa arahan.
Pada akhirnya, gentle parenting bukan tentang memilih jadi lembut atau tegas, tapi bagaimana menggabungkan keduanya dengan seimbang. Karena memahami anak itu penting, tapi membantu mereka mengenal batasan juga tidak kalah penting. Karena kadang, hal yang kita anggap sepele hari ini, bisa jadi kebiasaan yang terbawa ke masa depan.
