Konten dari Pengguna

Cafe Lawu Kala Senja: Ruang Tenang di Lereng Gunung Lawu

Rifka Wahyu Apriliana
Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Angkatan 2024, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
1 Desember 2025 16:26 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cafe Lawu Kala Senja: Ruang Tenang di Lereng Gunung Lawu
Lawu Kala Senja menawarkan suasana tenang khas Tawangmangu. Pengunjung datang untuk menikmati kopi, kabut, dan pemandangan Lawu yang membuat waktu seolah berjalan lebih pelan.
Rifka Wahyu Apriliana
Tulisan dari Rifka Wahyu Apriliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(Suasana Cafe Lawu Kala Senja di Siang Hari, Sabtu (1/11) — Dok. Rifka)
zoom-in-whitePerbesar
(Suasana Cafe Lawu Kala Senja di Siang Hari, Sabtu (1/11) — Dok. Rifka)
ADVERTISEMENT
Sabtu, 1 November 2025. Udara Tawangmangu terasa sejuk dengan cara yang khas. Terasa dingin, tetapi tidak menusuk. Segar, namun tetap lembut. Aku dan keluargaku tiba di kawasan Blumbang Kidul sekitar pukul sebelas siang, setelah menempuh perjalanan berliku dari pusat kota. Di tepi jalan, papan kayu bertuliskan Lawu Kala Senja berdiri sederhana di antara pepohonan pinus. Dari luar, kafe ini tampak biasa, tetapi punya daya tarik yang membuat langkah berhenti sejenak.
ADVERTISEMENT
Begitu masuk, aroma kopi menyeruak hangat, berpadu dengan udara pegunungan yang wangi tanah lembap. Interior didominasi kayu dengan cahaya alami yang masuk dari jendela besar. Kami memilih duduk di dekat pintu yang langsung mengarah ke halaman belakang—lokasi favorit pengunjung untuk berfoto karena pemandangannya menghadap lembah dan Gunung Lawu. Dari bangku itu, angin gunung masuk perlahan, kadang membawa kabut tipis yang melintas seperti helai kain putih.
Suasana terasa tenang. Musik akustik pelan mengalun, sesekali menyatu dengan suara sendok beradu dengan cangkir. Beberapa pengunjung tampak tenggelam dalam percakapan, sementara lainnya hanya menikmati pemandangan sambil memeluk cangkir kopi.
Saat menikmati latte yang terasa lembut dan hangat, aku melihat seorang perempuan muda memotret pemandangan di halaman belakang. Wajahnya tampak sumringah, seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini. Ketika ia kembali ke dalam, kami sempat berbincang sejenak. Namanya Renjani, berasal dari Semarang, dan hari itu adalah kunjungan pertamanya.
ADVERTISEMENT
“Awalnya saya lihat tempat ini di TikTok,” katanya sambil menunjukkan beberapa foto di ponselnya. “Kupikir cuma kafe estetik yang ramai karena visualnya. Tapi setelah duduk di sini sebentar, ternyata rasanya lebih dari itu. Udara dingin, musik lembut, dan pemandangan ini… bikin lega.”
Renjani datang seorang diri. Ia bercerita baru menyelesaikan pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan ingin kabur sebentar dari rutinitas. “Aku butuh tempat yang bisa bikin napas panjang,” ujarnya pelan. “Begitu kabut turun sedikit, rasanya kayak disambut alam. Kayak dia bilang, ‘sini dulu, istirahat bentar’.”
Di meja lain, sepasang suami-istri paruh baya duduk berdampingan sambil melihat ke arah Gunung Lawu. Aku sempat bertanya sedikit tentang kesan mereka. Sang suami, Pak Yudhi, tersenyum sambil meneguk kopinya. “Kami sudah beberapa kali ke sini. Biasanya buat menenangkan pikiran,” katanya. “Kalau siang begini paling pas. Tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup.”
ADVERTISEMENT
Istrinya, Bu Aya, menambahkan, “Yang bikin saya suka itu suasananya. Rasanya waktu berjalan lebih lambat. Anak-anak kami sudah besar dan jarang ikut, jadi momen seperti ini terasa berharga.”
(Pemandangan Halaman Belakang Cafe Lawu Kala Senja di Siang Hari, Sabtu (1/11) — Dok. Rifka)
Menjelang pukul dua, kafe mulai lebih ramai. Anak-anak kecil berlarian di halaman belakang, sementara beberapa pengunjung lain sibuk mencari angle terbaik untuk foto. Meski demikian, suasana tidak berubah menjadi riuh; justru terasa lebih hangat, seperti banyak orang sedang berbagi ketenangan yang sama.
Aku sempat berbincang dengan pengunjung lain, seorang mahasiswa rantau bernama Viani yang datang bersama temannya. “Kalau capek nugas atau skripsi, kami sering lari ke tempat begini,” katanya sambil tertawa kecil. “Soalnya bener-bener jauh dari hiruk pikuk. Duduk sebentar aja bisa bikin kepala plong.”
ADVERTISEMENT
Sekitar pukul tiga sore, kabut mulai turun pelan, menutup puncak Lawu dengan selimut putih. Lampu-lampu gantung menyala satu per satu, memantulkan cahaya lembut pada dinding kayu. Udara makin dingin, tapi justru terasa menenangkan. Pengunjung lain juga tampak mulai memperlambat gerak—ada yang diam lama melihat ke luar jendela, ada yang menulis di jurnal kecil, ada yang sekadar menyandarkan kepala dan menutup mata.
Saat hendak pulang, aku menoleh sekali lagi. Dari luar, bangunan kafe itu tetap terlihat sederhana, seperti tempat singgah kecil di kaki gunung. Tapi kehangatan dan ketenangan yang ditawarkannya meninggalkan kesan yang sulit terlupakan.
Lawu Kala Senja mengingatkanku pada satu hal,
terkadang, yang kita cari bukanlah tempat baru—melainkan perasaan lama yang sempat hilang. Sebuah jeda. Sebuah napas. Sebuah ketenangan yang diam-diam selalu kita rindukan.
ADVERTISEMENT