Pelajaran Masa Lalu untuk Menghadapi El Nino 2026

Master of Public Policy in International Economic Development Policy - University of Michgan // Manajer Bank Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Rifki Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2025 menjadi tahun yang luar biasa bagi sektor pertanian Indonesia: cadangan beras di Bulog posisi Juli 2025 tercatat sebesar 4,2 juta ton dan merupakan tertinggi sepanjang sejarah bangsa . Tidak hanya itu, pertumbuhan PDB sektor pertanian pada tahun 2025 yang tercatat tumbuh sebesar 5,74% merupakan pertumbuhan tertinggi selama 25 tahun terakhir yang juga diiringi dengan NTP tertinggi selama 33 tahun terakhir . Namun, memasuki tahun 2026, sektor pertanian perlu kembali bersiap karena akan menghadapi tantangan laten yakni datangnya El Nino.
El Nino: Tantangan Berulang Pangan Indonesia
Saat musim hujan belum sepenuhnya berlalu, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya, dipicu oleh bergesernya kondisi iklim ke fase netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun. Lebih lanjut, BMKG menyatakan terdapat peluang sebesar 50 hingga 60 persen terjadinya El Nino dengan kategori Lemah-Moderat mulai pertengahan tahun 2026. Lebih lanjut, Puncak kemarau diperkirakan jatuh pada Agustus, ketika 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya, sementara durasi kemarau di 57,2 persen wilayah diprediksi lebih panjang dari normalnya.
Pelajaran masa lalu mencatat betapa dampak El Nino terhadap produksi pangan tidak bisa diabaikan. Pada tahun 2023, BPS menyebutkan bahwa total produksi beras pada tahun 2023 yang turun karena el nino tercatat mencapai 645,09 ribu ton. Tidak hanya beras, produksi jagung pipilan, yang merupakan input utama pakan ayam, mengalami penurunan cukup dalam yakni 10,03% secara tahunan. Angka tersebut tidak hanya sekadar statistik tapi juga berimplikasi pada gagal panen yang menyebabkan penurunan pendapatan petani maupun tekanan harga pada level konsumen. Pada tahun tersebut, Inflasi Pangan Bergejolak (Volatile Food) tercatat sebesar 6,73% (yoy) yang merupakan nilai tertinggi dalam beberap tahun terakhir, dimana beras, cabai merah, dan daging ayam ras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.
Tidak berhenti di situ, sejarah menunjukkan El Nino telah berulang kali mengguncang ketahanan pangan nasional dalam skala lebih luas, salah satunya El Nino 1997–1998. Selama Pada periode itu, kebakaran menghanguskan sekitar 8 juta hektar lahan di Indonesia, dengan kerugian diperkirakan antara 4,5 miliar hingga 19,7 miliar dolar AS yang meliputi kerusakan pertanian, hutan, emisi CO₂, dan dampak kesehatan akibat kabut asap. Dua dekade kemudian, El Nino 2015–2016, yang juga dijuluki "Godzilla El Nino" karena kekuatannya yang luar biasa, memicu kekeringan yang melanda 16 provinsi mencakup 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan, dengan lahan pertanian seluas 111 ribu hektar mengalami kekeringan . Oleh karenanya, banyak yang berasumsi tahun 2026 ini adalah tahun kembalinya Godzilla El Nino.
Belajar dari Sejarah: Tiga Jurus Penting
El Nino boleh berulang, tetapi Indonesia tidak harus terperangkap dalam pola yang sama. Kali ini kita berangkat dari posisi yang lebih baik: cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah dan pertumbuhan sektor pertanian yang paling tinggi dalam 25 tahun bisa menjadi bantalan yang belum pernah dimiliki Indonesia dalam menghadapi ancaman El Nino sebelumnya. Posisi tersebut perlu diperkuat melalui tiga jurus penting.
Pertama, perluasan pompanisasi yang agresif dan terukur, dipadukan dengan adopsi varietas padi tahan kering secara masif. Kedua instrumen ini saling melengkapi dan harus berjalan bersamaan. Pada 2015, intervensi pompanisasi dini berhasil menyelamatkan 114.701 hektar lahan dari ancaman puso . Namun air saja tidak cukup jika varietas yang ditanam tidak adaptif terhadap kekeringan. BRIN telah mengidentifikasi setidaknya 11 varietas padi toleran kemarau, mulai dari Inpari 38 hingga Inpago 12 yang terbukti mampu menghemat konsumsi air hingga 20 persen dibanding varietas konvensional . Agar proses tersebut bisa diaplikasikan dengan baik di lapangan, maka distribusi benih adaptif perlu diintegrasikan langsung dengan jadwal pompanisasi dan kalender tanam BMKG, sehingga petani di zona rawan kekeringan sudah menerima solusi air dan benih yang tepat sebelum musim tanam dimulai.
Kedua, sistem deteksi dini pangan berbasis data yang terintegrasi. BMKG sudah mempublikasikan prakiraan kemarau per zona agroklimat, namun data ini belum tersambung secara sistematis dengan data stok Bulog, data luas tanam BPS, dan citra satelit indeks vegetasi (NDVI) secara real-time. Ketiga sumber data ini perlu disatukan dalam satu dasbor pemantauan nasional, sehingga pemerintah dapat mengidentifikasi tekanan produksi sebelum berubah menjadi krisis harga. Pengalaman El Nino 2023 menunjukkan bahwa penurunan luas panen sudah terdeteksi sejak awal tahun, namun respons kebijakan baru terasa ketika inflasi beras sudah mencapai 13,76% pada Agustus 2023.
Ketiga, penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebagai garda terdepan pengendalian inflasi pangan di daerah. Dengan 4,2 juta ton cadangan beras di Bulog, Indonesia memiliki amunisi stabilisasi harga yang belum pernah sebesar ini. Namun hal tersebut tidak akan efektif jika sistem distribusinya terhambat di tingkat daerah. Di sinilah TPIP dan TPID memegang peran yang tidak bisa digantikan. Rekam jejak menunjukkan bahwa sinergi TPIP-TPID yang aktif membuahkan hasil nyata: inflasi volatile food Indonesia berhasil ditekan dari puncak 6,73% pada 2023 menjadi hanya 0,12% pada 2024 dan salah satu faktor penentunya adalah koordinasi lintas daerah dalam menjaga pasokan dan distribusi pangan antar daerah. Pentingnya koordinasi lintas daerah adalah karena ketika El Nino datang, tekanan tidak merata: Sulawesi Bagian Tenggara, NTT, dan sebagian Kalimantan secara historis menanggung beban kekeringan lebih berat dibanding daerah lain, dan tanpa koordinasi antar daerah yang aktif, surplus di satu provinsi tidak akan pernah sampai ke defisit di provinsi lain. Oleh karenanya, sinergi TPIP-TPID yang diharapkan mampu memetakan zona defisit pangan antisipatif berbasis prakiraan kemarau BMKG, memastikan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk distribusi komoditas sudah terkontrak sebelum kemarau puncak tiba.
El Nino telah berulang kali datang ke Indonesia, berulang kali dapat diprediksi, dan berulang kali kita diperingatkan. Sudah saatnya kita bisa belajar dari Sejarah agar mampu merespon datangnya Godzila El Nino 2026 dengan lebih sigap.
