Konten dari Pengguna

Resensi Buku: Filosofi Bahagia di Dunia yang sibuk

M Rifki Maulana

M Rifki Maulana

Master of Public Policy in International Economic Development Policy - University of Michgan // Manajer Bank Indonesia

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Rifki Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Resensi Buku: Filosofi Bahagia di Dunia yang sibuk
zoom-in-whitePerbesar

“Kebahagiaan bukanlah hasil akhir, tapi cara kita menjalani hidup” – Fahruddin Faiz

Kutipan tersebut menjadi pembuka pada Buku “Filosofi Bahagia di Dunia yang Sibuk” yang juga sekaligus bisa menyarikan seluruh isi pesan pada buku tersebut. Analogi yang tepat untuk menggambarkan buku ini adalah rest area di tengah perjalanan yang dipenuhi oleh kemacetan panjang. Sebagaimana rest area pada umumnya, buku ini memang tidak akan menyediakan solusi praktis untuk menerabas kemacetan, tapi setidaknya rest area bisa menjadi tempat kita bersitirahat sejenak untuk kembali mengarungi kemacetan yang menyebalkan.

Buku ini ditulis oleh Junanto Herdiawan, Doctor of Philosophy yang juga telah mengabdikan hidupnya sebagai pekerja kantoran selama 30 tahun. Maka, tidak mengherankan jika buku ini menawarkan pengalaman kebijaksanaan ala pegawai korporat yang diselipi oleh nilai-nilai filsafat di tiap bab-nya. Konsep penceritaan seperti itu membuat pembaca tidak bosan, karena selalu ada rasa penasaran: nilai filsafat apa yang akan dihadirkan untuk menghadapi lika liku dunia kantor di bab-bab selanjutnya. Selain itu, pengalaman penulis yang telah lama berkecimpung di dunia komunikasi dan bahkan sekarang menjabat sebagai Pimpinan Departemen Komunikasi, membuat filosofi yang biasanya dibawakan secara serius dan ruwet, bisa disajikan dengan ringan dan menghibur.

Konsep “Stoik” lebih membumi dan relevan

Intisari dari 25 bab yang ditulis di buku ini adalah kita hanya bisa mengendalikan respons kita terhadap sesuatu, bukan pada keadaan yang menimpa kita. Panduan “stoikisme” ini mungkin sering kita dengar dalam beberapa waktu terakhir karena influencer stoik yang banyak bermunculan. Namun, seringkali prinsip stoikisme itu hanya berada di tataran langit dan kurang membumi. Buku ini, setidaknya sudah berhasil membumikan konsep stoikisme dengan problematika kantoran yang kita hadapi sehari-hari dengan pilihan opsi lebih beragam. Misalnya, di Bab 7: Kutukan Rutinitas, penulis mengambil nilai filsafat dari kisah Sisyphus dan Nietzsche yang berpesan bahwa se-absurd dan se-membosankan apa takdir harus tetap dijalani karena itu adalah satu-satunya pilihan masuk akal yang kita punya. Konsep menyikapi rutinitas absurd disajikan secara baik oleh penulis dengan merefleksikan kehidupan kantornya selama 30 tahun yang penuh lika-liku. Hal yang sama juga terlihat di Bab 22: Bergerak itu Berkah. Dibuka dengan falsafah Arab: “Al Harokah, Barokah” yang berarti “Bergerak itu Berkah”, penulis dengan piawai membedah teknik-teknik golf yang dikaitkan dengan prinsip kehidupan agar senantiasa berikhtiar dengan ekspektasi seminimal mungkin.

Secara pribadi, salah satu bagian paling berkesan, relevan, dan wajib dibaca oleh generasi muda ada pada Bab 17 yang bertajuk sukses tak selalu sempurna. Pada bab ini, penulis menyajikan pendekatan Kintsugi: Filosofi hidup dengan ketidaksempurnaan. Mungkin kita sering mendengar petuah “Gelas yang telah jatuh, kalaupun direkatkan maka bentuknya tidak akan sama dan seindah sebelumnya” dan petuah tersebut pada akhirnya membuat kita takut untuk berbuat salah. Tidak hanya itu, adanya petuah tersebut seringkali justru menjadikan kita semakin sering berbuat salah dan pada akhirnya terjerembab. Namun, ada pendekatan lain yang bisa kita pinjam dari filosofi Kintsugi: seni perbaikan keramik asal Jepang, di mana retakan tidak disembunyikan, melainkan diisi dengan pernis emas hingga benda yang pecah justru menjadi lebih indah dari sebelumnya. Prinsip kintsugi di Jepang tidak hanya terbatas pada teknik perbaikan kemarik, namun berkembang menjadi simbol yang lebih luas dan mencerminkan budaya wabi-sabi (keindahan dalam ketidaksempurnaan) dan resiliensi (kemampuan bangkit dan kegagalan). Nilai ini penting untuk terus digaungkan, sebab sebagaimana cerita pengalaman rekan kerja penulis di bab ini, generasi muda seringkali masih terjebak dalam kesalahan masa lalu.

Bukan solusi hari ini, tapi bisa jadi harapan di masa depan

Seperti yang disebutkan di awal, buku ini memang belum sepenuhnya menjadi solusi instan masalah kehidupan. Namun, buku ini juga bisa menjadi sumber harapan untuk perubahan positif di masa depan, terutama apabila dibaca oleh para pimpinan/calon pimpinan di masa mendatang. Contohnya di Bab 13: Digitalisasi dan Hidup yang tidak baik-baik saja, dimana di situ penulis bercerita tentang fenomena burnout di era digital dengan menggunakan PoV sebagai pimpinan satuan kerja yang menjunjung tinggi kehidupan pribadi pegawainya untuk tidak menghubungi mereka di luar jam kerja yang juga dikaitkan dengan perspektif deontologi Kantian. Nilai-nilai yang ada di bab ini bisa menjadi sumber perubahan positif apabila bisa direplikasi, namun tentunya nilai tersebut akan optimal bila diinisiasi oleh level pimpinan, mengingat kebanyakan pola/budaya kerja di Indonesia yang mayoritas masih menganut sistem top-down.

Hal serupa juga ada di Bab 14: Carilah Mentor, dimana penulis bercerita kalau keberhasilan karier yang penulis raih sekarang tidak terlepas dari jasa mentor-mentornya. Pada bab tersebut, kita akan dibawa penulis menyusuri perjalanan kariernya dengan mentor-mentor di setiap fasenya yang dipadukan dengan nilai filsafat dari Teori Falsifikasi Popper. Di satu sisi, tips mencari mentor ini akan sangat memudahkan mereka yang tengah merintis karirnya untuk tetap bisa berada di jalan yang benar. Di sisi yang lain, jika direnungi lebih dalam, ketersediaan mentor yang “baik” bisa jadi menjadi sebuah privilege mahal karena tidak semua orang berada di lingkungan ideal. Namun demikian, bab ini menyadarkan kita, bahwa kita pun dapat mengambil peran tersebut, yakni menjadi mentor bagi mereka yang baru memulai perjalanannya. Nilai-nilai yang kita tanamkan tidak akan berhenti pada satu titik karena nilai tersebut akan terus dibawa, dihidupi, dan diwariskan lintas generasi.

Judul Buku: Filosofi Bahagia di Dunia yang sibuk

Penulis: Junanto Herdiawan

Penerbit: Gagas Media

Jumlah halaman 272

ISBN 978-623-493-340-6