Bisa Aktif di Chat, Kenapa Masih Gugup Saat Bicara di Depan Kelas?

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang (UNPAM) yang aktif menulis dan berbagi informasi seputar pendidikan, mahasiswa, dan kehidupan perkuliahan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Atthifah Alfisyahrin Setyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah melihat teman yang kelihatannya sangat aktif di grup WhatsApp, tetapi ketika diminta menyampaikan pendapat di depan kelas malah diam? Atau mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Mengetik pesan panjang terasa mudah, tetapi ketika harus berdiri di depan teman-teman untuk presentasi, tiba-tiba bingung harus mulai dari mana.

Materi sebenarnya sudah dipelajari. Slide juga sudah selesai dibuat. Bahkan beberapa menit sebelumnya masih merasa siap. Namun, begitu nama dipanggil dan semua mata mulai mengarah ke depan kelas, rasa gugup datang begitu saja.
Suara bisa berubah menjadi lebih pelan atau justru terlalu cepat. Tangan terasa dingin. Ada juga yang akhirnya terus melihat layar laptop karena tidak berani menatap audiens. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal bagi mahasiswa yang mengalaminya, situasi tersebut bisa cukup mengganggu.
Public speaking memang bukan kemampuan yang otomatis dimiliki semua orang. Ada mahasiswa yang bisa berbicara dengan santai, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman ketika menjadi pusat perhatian.
Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V dalam tulisan mengenai public speaking yang dimuat pada 2023 menyebutkan bahwa kemampuan berbicara di depan umum penting bagi mahasiswa, salah satunya untuk membangun kepercayaan diri dan melatih kemampuan berpikir kritis. Dalam penjelasan tersebut, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, Eka Anisa Sari, juga menekankan bahwa public speaking tidak sekadar berbicara, tetapi membutuhkan teknik yang perlu dipelajari dan dilatih secara konsisten.
Kalau begitu, kenapa mahasiswa yang setiap hari berkomunikasi lewat ponsel masih bisa merasa gugup ketika berbicara langsung?
Salah satu alasannya mungkin karena komunikasi melalui layar memberikan ruang untuk berpikir lebih lama. Saat mengetik pesan, kita bisa menghapus kalimat yang terasa kurang tepat, mengganti kata, membaca ulang, lalu mengirimkannya ketika sudah merasa yakin.
Situasinya berbeda ketika berbicara langsung. Tidak ada tombol hapus untuk kalimat yang baru saja keluar dari mulut. Kita harus berpikir sambil berbicara dan menerima respons dari orang lain pada saat yang sama.
Di titik inilah rasa takut salah sering muncul.
Mahasiswa bisa saja sebenarnya memahami materi, tetapi pikirannya justru dipenuhi pertanyaan lain. Bagaimana kalau saya salah? Bagaimana kalau ada yang menertawakan? Bagaimana kalau dosen bertanya dan saya tidak bisa menjawab? Bagaimana kalau suara saya terdengar gugup?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun, kalau muncul terus-menerus, perhatian kita akhirnya lebih banyak tertuju pada rasa takut daripada materi yang ingin disampaikan.
Hal ini juga pernah diteliti dalam konteks mahasiswa. Fatmah, Anward, dan Mayangsari dalam penelitian yang diterbitkan pada 2021 mengkaji hubungan efikasi diri dan kepercayaan diri dengan kecemasan berbicara di depan umum pada 60 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Lambung Mangkurat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri dan kepercayaan diri secara bersama-sama memiliki peranan sebesar 46,2% terhadap kecemasan berbicara di depan umum pada kelompok mahasiswa yang mereka teliti.
Angka tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa kondisi semua mahasiswa pasti sama. Penelitian itu dilakukan pada kelompok mahasiswa tertentu. Namun, hasilnya memberikan gambaran bahwa faktor dalam diri seseorang memang berkaitan dengan bagaimana ia menghadapi situasi berbicara di depan umum.
Menurut saya, bagian ini menarik karena mahasiswa sering menganggap orang yang pandai berbicara memang sudah memiliki bakat sejak awal. Padahal, yang terlihat di depan kelas hanyalah hasil akhirnya.
Kita tidak melihat berapa kali orang tersebut berlatih. Kita juga tidak tahu berapa kali ia pernah salah bicara, lupa materi, atau merasa gugup sebelum akhirnya terbiasa.
Karena itu, kemampuan public speaking seharusnya tidak hanya dinilai dari penampilan ketika seseorang sudah mahir. Proses latihan juga perlu diperhatikan.
Latihannya pun tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mahasiswa bisa mulai dari hal sederhana. Misalnya, berani menyampaikan pendapat ketika diskusi, bertanya kepada dosen, menjelaskan bagian tugas kelompok, menjadi moderator, atau mengambil bagian untuk membuka presentasi.
Kelihatannya sederhana, tetapi kesempatan seperti itu bisa menjadi latihan yang cukup berarti.
Persiapan sebelum berbicara juga tidak kalah penting. Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan adalah menghafalkan seluruh isi materi. Cara ini memang bisa membuat kita merasa lebih siap, tetapi ada masalah ketika satu bagian hafalan tiba-tiba lupa.
Kalau presentasi hanya bergantung pada hafalan, satu kalimat yang terlupakan bisa membuat pembicara kehilangan arah. Sebaliknya, ketika materi benar-benar dipahami, kita masih bisa menjelaskan dengan bahasa sendiri meskipun tidak mengingat setiap kalimat yang sudah dibuat sebelumnya.
Hal yang sama berlaku pada penggunaan PowerPoint. Slide seharusnya membantu pembicara menjelaskan materi, bukan menjadi naskah yang dibaca dari awal sampai akhir.
Bayangkan seseorang sudah membuat slide penuh tulisan, kemudian selama presentasi hanya membaca isi layar. Audiens mungkin tetap mendapatkan informasi, tetapi komunikasi dua arah menjadi kurang terasa. Padahal, salah satu bagian menarik dari public speaking adalah ketika pembicara benar-benar berinteraksi dengan orang yang mendengarkannya.
Public speaking juga tidak berarti harus menjadi orang yang paling banyak bicara. Orang yang pendiam tetap bisa menjadi pembicara yang baik jika mampu menyampaikan gagasannya dengan jelas.
Sebaliknya, banyak bicara juga tidak otomatis berarti mampu berkomunikasi dengan baik. Yang lebih penting adalah apakah orang lain bisa memahami apa yang sedang kita sampaikan.
Kemampuan tersebut akan tetap berguna setelah masa kuliah selesai. Ketika memasuki dunia kerja, mahasiswa akan bertemu dengan situasi yang membutuhkan kemampuan menjelaskan ide, mengikuti rapat, melakukan presentasi, berbicara dengan rekan kerja, maupun berkomunikasi dengan pelanggan.
Artinya, presentasi di kelas sebenarnya bukan sekadar tugas untuk mendapatkan nilai. Ada kemampuan yang sedang dibentuk di balik kegiatan tersebut.
Lalu, apakah rasa gugup harus dihilangkan sepenuhnya?
Saya rasa tidak perlu.
Gugup sebelum berbicara adalah hal yang manusiawi. Yang perlu dilakukan bukan memaksa diri agar tidak merasa gugup sama sekali, tetapi belajar supaya rasa gugup tersebut tidak membuat kita kehilangan kendali.
Presentasi pertama mungkin masih sering melihat catatan. Presentasi berikutnya mulai berani melihat audiens. Setelah beberapa kali mencoba, mungkin kita sudah bisa menjelaskan materi tanpa terlalu bergantung pada slide.
Perubahannya mungkin tidak langsung terlihat. Namun, kemampuan berbicara memang lebih masuk akal jika dipandang sebagai proses, bukan sesuatu yang sekali latihan langsung dikuasai.
Mahasiswa juga tidak perlu menunggu sampai merasa percaya diri sepenuhnya untuk mulai berbicara. Justru keberanian untuk mencoba bisa menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan diri.
Jadi, kalau masih lancar mengetik di grup chat tetapi gugup ketika berdiri di depan kelas, mungkin masalahnya bukan karena kita tidak bisa berbicara. Bisa jadi kita hanya belum cukup sering memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berbicara.
Tidak harus langsung hebat. Cukup mulai dari satu kesempatan, satu pendapat, satu presentasi. Dari sana, kemampuan itu bisa terus dilatih.
