Konten dari Pengguna

Kotor Itu Indah

Rifky Akbar
Diplomat Indonesia. Anggota tetap Sesdilu ke-79 Kemlu RI. Kadang duduk di depan komputer. Kadang lari di lapangan. Kadang jungkir balik di atas matras.
20 Oktober 2025 11:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kotor Itu Indah
Kotor bukan sekadar nama. Kota di Montenegro ini menyimpan pesona abadi yang membuat siapa pun pulang dengan hati bersih.
Rifky Akbar
Tulisan dari Rifky Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Iya, kamu tidak salah baca.
Kotor itu indah.
Tapi bukan "kotor" seperti yang kamu bayangkan, ya.
Pemandangan kota tua Kotor dari jalur pendakian (Dok. pribadi - 2023)
Begitulah namanya – Kotor, sebuah kota teluk di pesisir Laut Adriatik, Montenegro. Jauh dari makna “kotor” dalam Bahasa Indonesia, kota ini justru sangat memesona hingga dinobatkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Tak heran pula jika Kotor menjadi salah satu destinasi di Montenegro yang paling ramai dikunjungi wisatawan.
ADVERTISEMENT
Meskipun terletak di kawasan Balkan, kota ini punya pesona yang khas, mirip dengan kota-kota Venesia di masa lampau. Dalam sejarahnya, Kotor pernah berada di bawah kekuasaan Republik Venesia (sekarang wilayah Italia) selama berabad-abad. Setiap sudut kotanya seakan membawa kita kembali ke abad pertengahan, ke zaman para pelaut dan pedagang berlayar di Laut Adriatik.
Pemandangan alamnya pun sangat memukau. Di satu sisi ada pegunungan yang menjulang dramatis, di sisi lain laut biru yang menjadi cermin langit. Di antara keduanya, berdiri kota kecil yang seolah tak tersentuh waktu.
Bangunan-bangunan di salah satu sudut kota tua Kotor (Dok. pribadi - 2023)
Berjalanlah di Stari Grad, kota tua Kotor yang dikelilingi oleh benteng kuno yang kokoh. Tanpa peta, saya hanya mengikuti langkah dan rasa ingin tahu. Jalan-jalan sempit berliku membawa saya melewati Sea Gate, Cathedral of Saint Tryphon, Orthodox Church of St. Nicholas, dan Clock Tower yang masih berdiri gagah. Sesekali saya berhenti di toko suvenir, melihat kerajinan tangan khas Montenegro, atau duduk sejenak di kafe mungil di pojokan jalan, menyeruput secangkir kopi sambil memperhatikan turis yang lalu lalang dan warga lokal yang beraktivitas seperti biasa. Tak perlu khawatir tersesat, karena area kota tuanya cukup kecil dan ramah dijelajahi dengan berjalan kaki.
ADVERTISEMENT
Untung saja hari itu langit cerah dan udara cukup hangat. Cuaca sempurna untuk tersesat dalam keindahan.

Si Kaki Empat Penduduk Kotor

Hal yang paling mencuri perhatian saya bukan hanya bangunan tuanya, melainkan kucing-kucing yang berkeliaran di mana-mana. Mereka berjemur di jalanan batu, tidur di bawah meja kafe, atau duduk manis di depan gereja. Tanpa rasa takut, mereka justru menghampiri manusia untuk dimanja.
Kucing lokal, penduduk kota Kotor yang ramah (Dok. pribadi - 2023)
Terlihat jelas bagaimana warga lokal merawat kucing-kucing ini. Mereka diberi makan, minum, bahkan disediakan kandang-kandang kecil di beberapa tempat umum. Dulu, kucing-kucing ini dipelihara untuk membasmi hama. Kini, mereka menjadi simbol tak resmi kota Kotor yang dipercaya membawa keberuntungan. Tak heran banyak wisatawan menghampiri dan memotret mereka, termasuk saya.
ADVERTISEMENT
Bagi pecinta kucing, jangan lewatkan The Cats Museum. Seperti namanya, museum ini memamerkan berbagai koleksi dan artefak yang menggambarkan peran kucing dalam sejarah dan budaya Montenegro dari masa ke masa. Lebih dari sekadar tempat lucu untuk berfoto, museum ini punya pesan yang mulia: melalui sosok hewan yang paling dekat dengan manusia, pengunjung diajak untuk lebih menghargai alam dan lingkungan, yang kini semakin terancam oleh ulah manusia. Sebuah pesan sederhana, tapi meninggalkan renungan mendalam.

Ingat, di Atas Bukit Masih Ada Langit

Hari itu pelabuhan Kotor tampak ramai. Kapal pesiar baru saja bersandar, dan puluhan pelancong turun membawa kamera dan topi lebar. Rupanya, banyak rute pelayaran Mediterania dan Adriatik yang menjadikan Kotor sebagai salah satu persinggahan.
ADVERTISEMENT
Saya pun bergegas melanjutkan petualangan, mendaki ke San Giovanni Fortress, sebelum puncaknya dipenuhi rombongan turis kapal pesiar yang baru tiba. Lebih dari 1.300 anak tangga harus ditapaki dari kota tua. Pendakian ini butuh tenaga, tapi juga banyak alasan untuk berhenti sejenak dan menikmati pemandangan.
Anak tangga di jalur pendakian ke San Giovanni Fortress (Dok. pribadi - 2023)
Sebagai orang Indonesia, tentu saya tahu prioritasnya: istirahat dulu di Church of Our Lady of Remedy, gereja kecil di tengah jalur pendakian yang cukup terjal. Dari sana saja, pemandangannya sudah luar biasa.
Pemandangan Teluk Kotor dan Church of Our Lady of Remedy (Dok. pribadi - 2023)
Setelah beberapa waktu, akhirnya saya tiba di puncak. Di antara sisa-sisa dinding batu yang hancur dimakan waktu, bendera Montenegro berkibar di atas reruntuhan benteng. Sederhana tapi megah dalam caranya sendiri.
Kalau bicara soal bentengnya, mungkin San Giovanni tidak terlalu istimewa. Sebagian besar hanyalah puing dan tembok tua yang dibiarkan terbuka bagi siapa pun yang ingin menjelajahinya. Tapi yang membuat pendakian ini layak dilakukan adalah pemandangannya. Laut biru tenang, pegunungan hijau yang melingkari teluk, dan atap-atap oranye kota tua yang berjejer rapi memberikan kesan dunia tanpa batas.
Peradaban yang menyatu dengan alam (Dok. pribadi - 2023)

Renungan dari Kotor

Dari atas benteng, saya duduk lama menatap lukisan Tuhan. Kota kecil ini mungkin sederhana, tapi menyimpan banyak pesona: sejarah, alam, dan kehidupan yang hangat.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, Kotor mengajarkan saya bahwa keindahan itu tidak selalu harus megah. Kadang, ia hadir dalam kesederhanaan: bukan karena apa yang dimilikinya, tapi karena bagaimana ia membuat kita merasakan kecukupan di dalamnya.

Sebuah Tips: Pakai Euro di Montenegro

Sedikit tips buat kamu yang berencana ke Montenegro: meskipun negara ini bukan anggota Uni Eropa dan tidak termasuk dalam zona Euro, mata uang Euro pada kenyataannya dapat digunakan untuk transaksi resmi di seluruh negeri. Jadi, kamu tidak perlu menukar uang kalau datang dari negara-negara Eropa lainnya. Praktis, kan?