Konten dari Pengguna

Budaya Ultras di Sekolah Menengah Atas: Solidaritas atau Fanatisme Berlebihan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rifqi Sondari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ultras adalah kelompok suporter sepak bola yang sangat fanatik dan terorganisasi. Mereka terkenal karena dukungan yang intens terhadap klubnya, baik di stadion maupun di luar stadion. Belakangan ini, budaya ultras tidak lagi hanya identik dengan tribun sepak bola. Di berbagai sekolah menengah atas (SMA), muncul kelompok-kelompok siswa yang mengadopsi gaya khas suporter ultras, mulai dari membuat spanduk, menyanyikan chant, mengenakan atribut seragam, hingga memberikan dukungan penuh kepada tim sekolah saat mengikuti kompetisi olahraga.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dapat tumbuh di lingkungan pendidikan. Budaya ultras di sekolah umumnya muncul ketika siswa ingin menunjukkan rasa bangga terhadap identitas sekolah. Saat pertandingan futsal, basket, atau sepak bola antarsekolah berlangsung, tribun dipenuhi sorakan, koreografi sederhana, dan nyanyian yang membuat suasana semakin hidup. Dukungan tersebut sering kali menjadi penyemangat bagi para atlet yang bertanding.

Di sisi lain, budaya ini juga membawa banyak dampak positif. Siswa belajar bekerja sama dalam menyiapkan koreografi, menggalang dana secara mandiri, serta membangun solidaritas antarkelas. Rasa memiliki terhadap sekolah semakin kuat karena mereka merasa menjadi bagian dari komunitas yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung sekolah dengan penuh semangat.

Source Dokpri: (Dokumen Pribadi)

Namun, budaya ultras juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Fanatisme yang berlebihan dapat memicu ejekan terhadap sekolah lain, provokasi di media sosial, bahkan bentrokan setelah pertandingan. Ketika semangat mendukung berubah menjadi permusuhan, nilai sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi justru hilang.

Selain itu, tren ini juga dipengaruhi oleh media sosial. Banyak kelompok suporter sekolah berlomba-lomba membuat konten yang viral, mulai dari video koreografi hingga chant yang kreatif. Sayangnya, keinginan untuk mendapatkan perhatian terkadang membuat sebagian siswa mengabaikan etika dan keselamatan demi konten yang menarik.

Karena itu, budaya ultras di sekolah seharusnya diarahkan sebagai sarana membangun karakter, bukan ajang mencari musuh. Guru, pembina, dan organisasi siswa dapat berperan dalam menanamkan nilai sportivitas, saling menghormati, dan kreativitas. Dengan demikian, budaya ultras dapat menjadi simbol kebanggaan sekolah yang positif, menunjukkan bahwa semangat mendukung tim tidak harus disertai kebencian terhadap pihak lain. Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan hanya diraih di lapangan, tetapi juga ketika siswa mampu menunjukkan bahwa solidaritas dan sportivitas dapat berjalan berdampingan.