Mengapa Gen Z Rela Bokek Demi Terlihat Kaya?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rifqi Muhammad Zein tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rela bokek demi gengsi ternyata bukan sekadar asumsi, melainkan fakta riil yang terekam oleh angka. Bayangkan, data terbaru dari laporan Financial Fitness Index oleh OCBC pada tahun 2025 menunjukkan realitas yang mencengangkan yakni 76% anak muda yang saat ini didominasi oleh Gen Z di Indonesia rela menghabiskan uang mereka hanya demi mengikuti gaya hidup temannya. Lebih ironis lagi, 39% masyarakat kita mengaku sering meminjam uang ke teman atau keluarga cuma agar bisa mengimbangi standar hidup orang lain. Angka-angka ini menjadi tamparan keras bagi kita: mengapa hari ini manusia lebih memilih memenuhi gengsi ketimbang rasa aman dan stabilitas dalam hidupnya? Dalam artikel ini, anda akan memahami alasan fenomena ini dari sudut pandang psikologis serta beberapa tips agar tidak terjebak dalam gengsi sosial.
Teori Kebutuhan Manusia Oleh Abraham Maslow
Jika melihat teori Hierarki Kebutuhan yang dibuat oleh Abraham Maslow dalam bukunya A Theory of Human Motivation, manusia seharusnya akan memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu sebelum mengejar harga diri dan pengakuan sosial. Dalam hirarki teori tersebut, manusia harus memenuhi kebutuhannya dari level paling bawah yakni memenuhi kebutuhan fisiknya dahulu seperti makan, minum dan tempat tinggal. Kemudian setelah kebutuhan tersebut terpenuhi akan naik level yaitu butuh akan rasa aman dan naik level lagi menjadi kebutuhan akan rasa cinta baru setelah itu kebutuhan akan penghargaan diri dan terakhir kebutuhan untuk memenuhi aktualisasi diri.
Oleh karena itu, secara teori seharusnya seseorang akan lebih memprioritaskan kestabilan dan rasa aman dari segi finansialnya terlebih dahulu dibandingkan membeli simbol-simbol kemewahan untuk meningkatkan status sosialnya agar dihargai. Meskipun pada realitanya, kebanyakan orang justru rela hidup tidak tenang demi terlihat “berkelas”. Lalu, hal ini menimbulkan pertanyaan lagi. Apakah teori Maslow sudah tidak relevan di zaman sekarang?
Mengapa Manusia Bisa Termakan Oleh Gengsi?
Untuk menjawab teori Maslow, tentu kita harus mengetahui penyebab sebenarnya mengapa manusia lebih memilih mengikuti gengsinya. Hal ini dapat dijelaskan dari sebab-sebab berikut :
1. Manusia Takut Diremehkan
Menurut Roy Baumeister dan Leary, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok sosial. Ketika seorang individu merasa berbeda atau tertinggal dari lingkungannya, akan muncul perasaan tidak nyaman, malu bahkan takut diremehkan. Oleh karena itu, banyak orang yang akhirnya membeli suatu barang atau mengikuti gaya hidup seseorang bukan karena orang tersebut butuh melainkan karena merasa takut dipandang rendah oleh orang lain. Fenomena ini semakin mengerikan di era sosial media yang Dimana kesuksesan seringkali tidak diukur oleh kestabilan hidup melainkan apa yang terlihat di internet. Akibatnya, muncul tekanan sosial yang membuat banyak orang merasa harus terlihat berhasil di mata orang lain, meskipun nyatanya tidak demikian.
2. Gengsi Adalah Bentuk Pertahanan Harga Diri
Dalam dunia psikologi, harga diri atau self-esteem memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku seorang individu. Ketika seseorang merasa harga dirinya terancam, orang tersebut akan mencari cara untuk mempertahankannya. Contohnya, seorang mahasiswa di kampus top mungkin akan merasa minder Ketika menggunakan gawai yang biasa di lingkungan yang mayoritas orangnya memakai merk Apple. Ketika lingkungan mulai menjadikan suatu barang mewah sebagai simbol status sosial, maka kepemilikan barang tersebut perlahan berubah menjadi alat untuk validasi diri. Fenomena tersebut dapat dijelaskan oleh konsep conspicuous Consumption, yaitu perilaku konsumsi yang ditujukan untuk memperlihatkan status sosial kepada orang lain. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak orang tetap memaksakan gaya hidup tinggi meskipun kondisi finansialnya belum stabil.
Lalu, Apakah Maslow Salah?
Maslow tidak pernah mengatakan bahwa kebutuhan manusia harus selalu dipenuhi secara kaku dan berurutan. Dalam kehidupan, kebutuhan sosial dan harga diri seringkali terasa sama pentingnya dengan rasa aman, terutama bila lingkungan individu tersebut penuh akan tekanan sosial. Menurut Leon Festinger dalam Social Comparison Theory, manusia memiliki kecendrungan alami untuk menilai dirinya dengan cara membandingkan dirinya sendiri terhadap orang lain sehingga Ketika seorang individu merasa tertinggal secara sosial, Ia akan termotivasi untuk mengejar standar yang ada di lingkungan tempat Ia tinggal meskipun harus mengorbakan rasa aman akan stabilitas dalam hidupnya.
Selain itu, teori Hirarki Maslow pertama kali diperkenalkan pada tahun 1943 sedangkan hari ini, manusia terus menerus hidup di tengah arus budaya membanding-bandingkan dengan perantara media sosial. Oleh karena itu, sebenarnya fenomena “Kebutuhan VS Gengsi” bukan tentang seseorang tidak peduli dengan rasa amannya melainkan orang tersebut perlu adanya pengakuan sosial yang dianggap sebagai bentuk rasa aman dari tekanan sosial secara psikologis.
Tips Agar Tidak Terjebak Dalam Gengsi Sosial
Di era media sosial, tekanan sosial untuk terlihat sukses dan berhasil memang semakin besar. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk lebih sadar agar tidak terbawa arus budaya yang konsumtif hanya untun memenuhi gengsi sosial. Berikut beberapa tips agar tidak terjebak dalam tekanan gengsi sosial :
1. Bedakan Kebutuhan Dengan Validasi Sosial
Tidak semua hal yang keren dan menarik itu benar-benar dibutuhkan. Terkadang, manusia memang sering membeli sesuatu bukan karena fungsinya melainkan karena gengsinya yang takut tertinggal oleh lingkungan sekitar. Hal tersebutlah yang akan menimbulkan efek Fear of missing Out (FOMO). Sebelum membeli sesuatu, cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri :
“Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini? Atau hanya ingin terlihat menarik oleh orang lain?”
2. Bangun Harga Diri dari Dalam Diri Sendiri
Rasa harga diri yang sehat tidak hanya dibangun oleh barang yang dimiliki ataupun pengakuan yang didapat oleh orang lain melainkan dapat dibangun dari value atau nilai yang timbul dalam diri sendiri. Sebab, ketika harga diri terlalu bergantung pada validasi eksternal, seseorang akan terus merasa kurang dan sulit mendapatkan kepuasan. Dalam Self-Determination Theory, dijelaskan bahwa manusia cenderung lebih Bahagia jika dimotivasi oleh tujuan intrinsik seperti pengembangan diri, hubungan sosial yang sehat dan makna hidup dibanding sekadar mengejar citra ataupun status sosial
Hal ini juga didukung dari penelitian Roos Vonk dan Smit yang mengatakan bahwa individu menggantungkan harga diri pada faktor eksternal seperti status sosial dan penampilan cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dibanding individu yang membangun harga dirinya dari faktor dalam dirinya seperti nilai untuk terus tumbuh, memiliki hubungan yang sehat dan penerimaan terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, penting Sekai untuk mulai menghargai diri sendiri maupun orang lain berdasarkan karakter, proses dan kemampuannya bukan hanya dari pencitraan sosial.
3. Sadari Bahwa Media Sosial Hanyalah Highlight Kehidupan Seseorang
Media sosial seringkali hanya memperlihatkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Orang cenderung mengunggah pencapaian, liburan, barang baru atau gaya hidupnya yang menyenangkan dan jarang menunjukan kesulitan-kesulitan ataupun proses dibaliknya. Akibatnya banyak orang merasa hidupnya tertinggal dari orang lain. Padahal, media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas seseorang.
Penutup
Pada akhirnya, fenomena “Kebutuhan VS Gengsi” bukan hanya soal ekonomi ataupun kehidupan sosial, tapi juga soal psikologi manusia. Banyak orang sebenarnya tidak sedang membeli barang mahal tetapi sedang membeli rasa diterima, dihargai dan percaya diri. Masalahnya, validasi sosial tidak akan ada habisnya. Selalu ada standar-standar baru untuk dikejar dan selalu ada orang lain yang tampak lebih sukses. Jika seseorang terus memaksakan hidup demi validitas sosial, maka yang tersisa darinya hanyalah kelelahan dan kecemasan psikologis. Oleh karena itu, mungkin pertanyaan yang kita perlu renungkan bukan lagi “Apa yang membuat kita menarik?” melainkan “Apa yang membuat hidup kita tenang, aman dan nyaman?”
________________________________________________
Ditulis Oleh : Rifqi Muhammad Zein & Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog
