Politisasi Emosi, Komodifikasi di Balik Panggung

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rifqi Syahlendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam lanskap komunikasi publik saat ini, batas antara panggung politik dan panggung hiburan semakin kabur. Isu-isu krusial yang seharusnya diperdebatkan secara rasional, justru larut dalam narasi dramatik yang dirancang untuk memancing emosi. Inilah era politisasi emosi, ketika setiap gestur, air mata, hingga ekspresi wajah menjadi bagian dari skenario besar yang dimainkan di hadapan publik. Fenomena ini menggeser komunikasi politik menjadi semacam politainment, yang tidak hanya memengaruhi persepsi pemilih, tetapi juga membuka ruang bagi komodifikasi komunikasi dalam skala masif.
Dalam perspektif komunikasi bisnis, narasi dramatik dalam politik bukan sekadar alat persuasi, tetapi telah menjadi produk yang dijual habis-habisan ke pasar publik. Layaknya strategi branding, tokoh-tokoh politik kini dikemas seperti merek komersial: dengan positioning yang kuat, cerita yang menyentuh, serta gimmick yang memikat.
Popularitas bukan lagi hasil dari substansi visi, melainkan dari seberapa kuat impresi yang ditinggalkan di benak publik. Dalam dunia bisnis, ini bukan hal baru, namun ketika politik mengadopsi pendekatan serupa, muncul dilema etis dan dampak sistemik yang perlu dikritisi.
Kampanye politik modern mengadopsi gaya komunikasi korporasi, dengan melibatkan konsultan branding, ahli strategi konten, hingga algoritma digital untuk memetakan respons audiens.
Semua ini bertujuan menciptakan resonansi emosional, bukan pemahaman substansial. Di sini, pemilih tidak dilihat sebagai warga negara yang kritis, tetapi sebagai konsumen emosi. Kemenangan bukan lagi ditentukan oleh debat gagasan, tetapi oleh keberhasilan mencuri simpati dalam waktu singkat.
Ini menempatkan demokrasi pada risiko menjadi sekadar pertunjukan berbiaya tinggi.
Lebih jauh, komunikasi politik yang dikomodifikasi mengaburkan batas antara informasi dan ilusi. Seperti dalam praktik pemasaran, yang dijual bukan realitas, tetapi persepsi. Tokoh publik direkayasa menjadi narasi yang sempurna: kuat, lembut, atau bahkan sengsara, tergantung selera pasar.
Dalam konteks ini, politik bukan lagi ruang deliberatif, melainkan ladang eksploitasi emosi. Ini menciptakan asimetri informasi yang tajam: publik dicekoki citra, tetapi kehilangan akses pada substansi.
Dari kacamata bisnis, pendekatan ini sangat efektif. Emosi adalah mata uang paling berharga dalam komunikasi massa. Namun dalam politik, efektivitas semacam ini rawan disalahgunakan.
Ketika komunikasi publik dimanfaatkan untuk membungkus kelemahan sistem dengan sentuhan dramatis, maka yang terancam bukan hanya kualitas pemilu, tetapi juga kualitas kesadaran kolektif.
Dalam jangka panjang, ini bisa merusak kepercayaan publik dan mengikis partisipasi kritis warga.
Realitas ini menantang dunia bisnis komunikasi untuk lebih bertanggung jawab. Para praktisi PR, kreator konten, dan konsultan politik harus mulai bertanya: apakah pesan yang kita buat membangun kesadaran, atau sekadar menjual fantasi?
Apakah strategi komunikasi kita mendukung transparansi, atau justru menutupi kebenaran?
Ketika komunikasi menjadi alat transaksi, maka publik yang seharusnya menjadi subjek demokrasi diposisikan sebagai target pasar.
Kritik terhadap politainment seharusnya tidak hanya diarahkan pada aktor politik, tetapi juga pada industri komunikasi yang menopang narasi tersebut. Dalam logika kapitalisme, drama selalu laku.
Tapi komunikasi bisnis harus mulai melampaui sekadar laku jual, ia harus etis, reflektif, dan kontekstual. Ada tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap pesan yang disiarkan ke publik, terutama di tengah meningkatnya keterbelahan sosial dan polarisasi opini.
Pendidikan komunikasi pun menghadapi tantangan baru: bagaimana mengajarkan etika komunikasi dalam ekosistem yang menyukai sensasi?
Bagaimana membekali generasi muda dengan literasi yang cukup untuk tidak terjebak dalam kemasan pesan yang memikat, tetapi kosong?
Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, agar komunikasi tidak sekadar menjadi instrumen bisnis kekuasaan, tetapi alat penguatan demokrasi.
Di balik euforia kampanye yang teatrikal, ada kebutuhan mendesak untuk mengembalikan komunikasi pada akarnya: menyampaikan kebenaran, membangun dialog, dan memperkuat partisipasi publik.
Jika tidak, komunikasi akan terus jadi alat dominasi, bukan emansipasi. Kita perlu berhenti sejenak, menilai ulang: apakah yang sedang kita tonton itu realitas politik, atau sekadar episode baru dari serial politainment?
Dan mungkin, inilah saat yang tepat untuk membalik logika komunikasi politik kita: dari yang menjual ilusi menuju yang membangun akal sehat.
Sebab bangsa yang sehat bukan yang pandai bermain emosi, melainkan yang mampu mengelola komunikasi sebagai ruang refleksi, bukan sekadar konsumsi.
