Konten dari Pengguna

Penerjemahan Terkait Studi Islam di Indonesia

Rifqoh Al-Mayda

Rifqoh Al-Mayda

Mahasiswi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Mahasiswi biasa yang masih belajar membiasakan diri meningkatkan daya baca bukan hanya minta baca dan masih belajar menulis.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifqoh Al-Mayda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

salah satu proses penerjemahan
zoom-in-whitePerbesar
salah satu proses penerjemahan

Terjemah menurut bahasa diartikan menjelaskan, menafsirkan, alih bahasa, dan biografi. Masih menjadi isu yang sangat fenomenal mengingat dalam arti secara istilahnya yang dibagi menjadi tiga, yakni; penerjamahan adalah proses pengalihan kosa kata-kosa kata, penerjemahan adalah mengalihbahasakan kalimat, penerjemahan adalah pengalihan gagasan atau ide. Sebab dari ketiga definisi di atas kami belum menemukan penerjemahan dengan proses mana yang paling baik dan dianjurkan.

Untuk itu tentu saja, kita akan memilih metode tepat untuk melangsungkan proses penerjemahan dengan baik sehingga menghasilkan karya terjemahan yang baik pula. Penerjemahan yang masih dilakukan dengan pengalihan kosa kata saja atau pengalihan kalimat saja atau terkadang pengalihan ide atau gagasan saja. Tentu menjadi pertanyaan besar bagi para pemula penerjemah.

penerjemahan dapat dilakukan dengan proses yang lebih santai

Sebagaimana yang telah kita tahu ketiga definisi penerjemahan yang berfokus pada prosesnya, sebenarnya dapat di pilih oleh penerjemah. Namun sebelum memilih tentu sepatutnya kita dapat mencari tahu kekurangan pada tiap proses penerjemahan di atas. Berikut uraiannya;

a. Dengan proses pertama, hasil penerjemahan akan memberi dampak buruk dalam kalimat (sintaksis) sehingga tidak komunikatif.

b. Dengan proses kedua, hasil penerjemahan akan memberi dampak buruk pada makna, dan akan lebih berdampak buruk jika penerjemahan kalimat condong pada salah satu bahasa saja. Jika condong pada BSu hasil penerjemahannya akan kaku, bahkan tidak sesuai kaidah sintaksis BSa. Begitu juga jika condong pada BSu hasil terjemahannya dapat mengkhianati teks asli pada BSa terutama di tingkat kata.

c. Sedangkan dengan proses ketiga, hasil penerjemahan akan bermasalah seperti proses kedua kecuali proses pengalihan dilakukan dengan seni yang tepat dan tidak berlebihan,

Adapun syarat penerjemahan yaitu dengan memperhatikan secara seimbang BSu dan BSa baik di tingkat kata (leksem), bentuk kata (morfologi) bahkan hubungan antar kalimat yang membentuk wacana. Penerjemahan itu sendiri dapat dikatakan ilmu mandiri yang memiliki metode-metode, teknik-teknik, praktik-praktik, prinsip-prinsip, teori-teori pengalihan seimbang BSu- BSa,dst.

Begitu pula metode yang digunakan untuk mendapatkan hasil terjemahan yang baik dibutuhkan metode yang terbaik pula. Metode cepat dan tepat dalam menerjemahkan setiap karya tulis adalah dengan menggunakan metode moderat. Metode moderat itu sendiri adalah metode yang menganjurkan setiap penerjemah menerjemahkan karya tulis dari BSu di awali dengan pengalihan kosa kata, namun jika di rasa kurang memberi hasil terjemahan yang komunikatif maka dilanjutkan dengan mengalihkan antar kalimat dalam karya tulis yang ingin diterjemahkan ke BSa. Namun jika masih belum mendapatkan hasil terjemahan yang memenuhi syarat karya terjemahan maka harus melakukan pengalihan ide atau gagasan.

Pada hakikat penerjemahan sudah jelas metode ini adalah pilihan terakhir sebab tidak condong pada apa pun melainkan justru proses pengalihan gagasan atau ide ini sangat mumpuni dalam proses penerjemahan mengingat di dalamnya sudah terdapat dua proses penerjemahan sebelumnya yaitu penerjemahan yang mengalihkan kosa kata BSu ke dalam kosa kata BSa yang semakna odan mengalihkan kalimat dari BSu ke BSa.

Agar artikel singkat ini lebih mudah dipahami dengan singkat pula maka akan kami paparkan sedikit contoh hasil terjemahan beserta uraian metode moderat yang digunakan didalamnya.

نشائة الأولى: تحدر الينا من الرواياتو بكر الأولى ما يعاون, شحسيته في هذا العصر حياتهز فما يروى عن صباه لا غناء فيه

Yang diartikan: Masa kecil dan terbatasnya berita. Sumber-sumber yang sampai kepada kita mengenai masa kecil Abu Bakr tidak banyak membantu untuk mengenal pribadinya dalam situasi kehidupan saat ini.

Dan jika diterjemahkan secara harfiah saja atau melalui tarjamah ‘aaliyah maka artinya:

Nash pertama: Ia datang kepada kita dari narasi, dan Bakr pertama yang membantu, sensualitasnya di zaman ini adalah hidupnya. Lalu dengan metode moderat maka, missal dalam kata نشئة الألىditerjemahkan oleh Ali Audah dengan “masa kecil dan terbatasnya berita”. Padahal kata “terbatasnya berita” tidak terdapat pada BSu. Jika Ali Audah hanya menerjemahkan “masa kecil Abu Bakr” tanpa menambahkan kata “terbatasnya berita”, tentu pembaca Tsa tidak mengetahui bahwa memang hanya sedikit informasi yang menceritakan masa kecil Abu Bakr pada saat itu.

Artinya, proses penerjemahan harus memiliki syarat karena objek materialnya adalah BSu dan BSa serta objek formalnya adalah pesan atau gagasan (Al-Afkar) yang diterjemahkan sehingga hasil-hasil terjemahan ketika diminati tidak terasa seperti karya terjemahan melainkan seolah membaca teks asli dan di lihat dari hasil kritik terjemahannya sahih atau tidak.

Metode yang sangat membantu penerjemah adalah metode moderat, sebab di dalamnya telah terdapat unsur seni yang indah jika dibutuhkan dan unsur kepadanan kata atau kalimat. Sehingga saat dilakukan kritik atas karya terjemahan yang menggunakan metode ini tentu akan dinilai lebih baik di banding pada hasil penerjemah yang memproses penerjemahannya hanya sesuai kehendak hatinya, maka studi islam di Indonesia akan makin berkembang bahkan maju.