Karyawan Tidak Cukup Hanya Bekerja: Pentingnya Pengembangan SDM di Tengah Perubahan Dunia Kerja

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang yang memiliki ketertarikan pada bidang manajemen, keuangan, dan perbankan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rihaadatul Aisya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dunia kerja terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi, persaingan bisnis, dan perubahan kebutuhan konsumen membuat perusahaan harus mampu beradaptasi. Kondisi ini tidak hanya menuntut perusahaan untuk memperbarui sistem kerjanya, tetapi juga menuntut karyawan untuk terus meningkatkan kemampuan.
Namun, masih ada perusahaan yang lebih berfokus pada hasil pekerjaan dibandingkan proses pengembangan karyawannya. Selama target tercapai dan pekerjaan selesai tepat waktu, peningkatan keterampilan terkadang belum menjadi perhatian utama. Padahal, keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan modal, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang menjalankan kegiatan operasionalnya.
Menurut kami, perusahaan perlu mengubah cara pandang tersebut. Karyawan bukan sekadar tenaga kerja yang bertugas menyelesaikan pekerjaan, melainkan aset yang memiliki potensi untuk terus berkembang. Karena itu, pengembangan sumber daya manusia (SDM) seharusnya menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.
Pengembangan SDM melalui Pelatihan Karyawan
Salah satu bentuk pengembangan SDM yang umum dilakukan perusahaan adalah melalui pendidikan dan pelatihan. Sayangnya, kegiatan ini terkadang hanya dianggap sebagai agenda rutin untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Padahal, pelatihan seharusnya memberikan perubahan nyata terhadap kemampuan dan kualitas kerja karyawan.
Pelatihan yang baik perlu diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan karyawan. Perusahaan harus mengetahui kemampuan apa yang sudah dimiliki, keterampilan apa yang masih kurang, serta kompetensi apa yang dibutuhkan untuk menghadapi tuntutan pekerjaan ke depan.
Sebagai contoh, ketika perusahaan mulai menggunakan sistem digital baru, karyawan perlu mendapatkan pembekalan agar mampu mengoperasikannya. Tanpa pelatihan yang sesuai, perubahan teknologi justru dapat menjadi hambatan karena karyawan belum siap mengikutinya.
Hal ini juga sejalan dengan laporan World Economic Forum melalui The Future of Jobs Report 2025. Laporan tersebut memperkirakan bahwa 59 dari setiap 100 pekerja membutuhkan pelatihan atau peningkatan keterampilan hingga tahun 2030. Angka ini menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki seseorang saat ini belum tentu cukup untuk menghadapi kebutuhan pekerjaan di masa mendatang.
Oleh karena itu, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman kerja tanpa memberikan kesempatan belajar secara berkelanjutan.
Karyawan Perlu Diberi Kesempatan untuk Berkembang
Pengembangan SDM tidak selalu harus dilakukan melalui pelatihan formal di dalam kelas. Perusahaan juga dapat menerapkan pembelajaran langsung di tempat kerja atau on the job training.
Misalnya, melalui coaching, pendampingan oleh atasan, rotasi pekerjaan, magang, hingga pemberian tanggung jawab baru. Metode tersebut memungkinkan karyawan belajar dari pengalaman sekaligus memahami bagaimana pekerjaan dilakukan dalam situasi nyata.
Menurut kami, kesempatan untuk mencoba tanggung jawab baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri karyawan. Ketika perusahaan memberikan kepercayaan, karyawan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.
Selain itu, lingkungan kerja yang mendukung proses belajar juga sangat diperlukan. Karyawan seharusnya tidak takut menyampaikan pendapat, bertanya, atau mengakui bahwa ada keterampilan yang belum dikuasai. Sebab, proses pengembangan tidak akan berjalan maksimal apabila karyawan merasa dibatasi untuk berkembang.
Pengembangan SDM Harus Menguntungkan Kedua Pihak
Pengembangan SDM pada dasarnya bukan hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat bagi karyawan. Perusahaan memperoleh tenaga kerja yang lebih kompeten, produktif, dan mampu mengikuti perubahan. Sementara itu, karyawan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kariernya.
International Labour Organization (ILO) dalam laporan Lifelong Learning and Skills for the Future tahun 2026 juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat. Pembelajaran tidak seharusnya berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal, tetapi terus berlangsung melalui pendidikan, pengalaman kerja, dan berbagai kegiatan pembelajaran lainnya.
Meskipun demikian, perusahaan perlu memastikan bahwa program pengembangan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua karyawan membutuhkan jenis pelatihan yang sama. Program untuk karyawan baru tentu berbeda dengan program bagi karyawan yang sudah berpengalaman atau menduduki posisi manajerial.
Keberhasilan pelatihan juga perlu dievaluasi. Perusahaan dapat melihat perubahan produktivitas, kualitas pekerjaan, kemampuan menyelesaikan tugas, serta perilaku karyawan setelah mengikuti pelatihan. Dengan begitu, perusahaan dapat mengetahui apakah program yang dilaksanakan benar-benar memberikan hasil atau hanya menghabiskan waktu dan anggaran.
Jangan Menunggu Karyawan Tertinggal untuk Mulai Berinvestasi
Persaingan bisnis akan terus berkembang, begitu pula dengan tuntutan terhadap tenaga kerja. Perusahaan yang tidak memperhatikan pengembangan SDM berisiko memiliki karyawan yang kesulitan mengikuti perubahan. Sebaliknya, perusahaan yang memberikan ruang untuk belajar dan berkembang memiliki peluang lebih besar untuk membangun organisasi yang adaptif.
Pada akhirnya, pengembangan SDM bukan sekadar kegiatan tambahan atau formalitas perusahaan. Pengembangan SDM merupakan bentuk investasi jangka panjang yang hasilnya dapat dirasakan oleh perusahaan maupun karyawan.
Menurut kami, perusahaan perlu memahami bahwa mempertahankan karyawan yang kompeten tidak cukup hanya dengan memberikan pekerjaan dan menuntut hasil. Perusahaan juga perlu memberikan kesempatan untuk belajar, berkembang, serta mengambil peran yang lebih besar.
Sebab, perusahaan yang ingin terus maju tidak hanya membutuhkan karyawan yang mampu bekerja hari ini, tetapi juga karyawan yang siap menghadapi tantangan di masa depan.
Penulis: Maalikul Hani Mulki dan Rihaadatul Aisya
Dosen Pengampu: Muhammad Gandung, S.E., M.M.
Referensi:
World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/
International Labour Organization. (2026). Lifelong Learning and Skills for the Future. https://www.ilo.org/publications/lifelong-learning-and-skills-future
Materi Perkuliahan Perencanaan SDM, Pertemuan 11. Pengembangan, Pembelajaran, dan Keputusan.
