Nilai Tukar Rupiah dan Dinamika Ekonomi Internasional
Tulisan dari Rihaadatul Aisya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Rihaadatul Aisya
Program Studi Manajemen Program Sarjana
Universitas Pamulang

Ketika melihat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kita mungkin hanya melihat angka yang berubah setiap hari. Namun, di balik perubahan tersebut terdapat berbagai aktivitas ekonomi yang saling berkaitan, mulai dari perdagangan internasional, investasi, hingga transaksi perusahaan dengan pihak dari luar negeri.
Dalam materi Ekonomi Internasional, pasar valuta asing dijelaskan sebagai tempat individu, perusahaan, dan bank melakukan jual beli mata uang asing. Pasar ini juga berfungsi untuk memfasilitasi perpindahan dana antarnegara. Permintaan valuta asing dapat berasal dari wisatawan, importir, maupun investor, sedangkan pasokannya antara lain berasal dari penerimaan ekspor dan investasi asing. Artinya, nilai tukar sebenarnya tidak berdiri sendiri. Pergerakannya dapat mencerminkan berbagai aktivitas ekonomi yang terjadi di dalam maupun luar negeri.
Nilai Tukar Terbentuk dari Permintaan dan Penawaran
Dalam sistem nilai tukar fleksibel, nilai tukar ditentukan oleh pertemuan antara permintaan dan penawaran valuta asing. Ketika permintaan terhadap suatu mata uang meningkat, nilai mata uang tersebut dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi pasar. Begitu pula ketika pasokan valuta asing berubah.
Hal tersebut dapat kita lihat dari pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, pada 18 September 2026 nilai tukar tercatat sebesar Rp17.745 per dolar AS. Sehari sebelumnya, JISDOR berada pada Rp17.753 per dolar AS.
Perbedaan angka tersebut memang terlihat kecil. Namun, bagi perusahaan yang melakukan transaksi dalam jumlah besar menggunakan dolar AS, perubahan nilai tukar dapat memberikan dampak yang cukup berarti.
Ketika Rupiah Bergerak, Pelaku Usaha Ikut Menghadapi Risiko
Perubahan nilai tukar menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan oleh perusahaan yang melakukan transaksi internasional. Dalam materi perkuliahan, risiko valuta asing dijelaskan sebagai potensi kerugian akibat perubahan nilai tukar. Risiko tersebut dapat muncul ketika perusahaan memiliki kewajiban atau piutang dalam mata uang asing di masa mendatang.
Sebagai contoh sederhana, sebuah perusahaan Indonesia memiliki kewajiban membayar US$100.000 kepada pemasok dari luar negeri. Jika kurs yang digunakan sebesar Rp17.000 per dolar, perusahaan membutuhkan sekitar Rp1,7 miliar untuk melakukan pembayaran.
Namun, apabila ketika pembayaran dilakukan kurs berubah menjadi Rp18.000 per dolar, kebutuhan dana menjadi sekitar Rp1,8 miliar. Perbedaan Rp1.000 untuk setiap dolar tersebut berarti terdapat tambahan kebutuhan dana sebesar Rp100 juta. Dari contoh ini terlihat bahwa perubahan kurs bukan hanya persoalan angka, tetapi dapat berpengaruh terhadap perencanaan keuangan perusahaan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan dapat menggunakan strategi lindung nilai atau hedging. Materi Ekonomi Internasional menjelaskan beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk lindung nilai, seperti forward, futures, dan opsi.
Nilai Tukar dan Perdagangan Internasional
Hubungan antara nilai tukar dan ekonomi internasional juga dapat dilihat melalui kegiatan ekspor dan impor. Eksportir memperoleh pembayaran dari luar negeri, sedangkan importir membutuhkan valuta asing untuk membayar barang atau jasa yang dibeli dari negara lain. Karena itu, aktivitas perdagangan internasional ikut menciptakan permintaan dan penawaran valuta asing.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar, sedangkan impor mencapai US$163,33 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,70 miliar pada periode tersebut.
Jika dilihat berdasarkan sektor, perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar US$22,45 miliar, sedangkan sektor migas mengalami defisit sebesar US$18,75 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan internasional masih menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi Indonesia. Di sisi lain, transaksi ekspor dan impor juga berkaitan dengan kebutuhan terhadap mata uang asing.
Nilai Tukar Juga Berkaitan dengan Arus Modal
Hubungan Indonesia dengan perekonomian global tidak hanya melalui perdagangan barang dan jasa. Arus investasi dan transaksi keuangan internasional juga menjadi bagian penting dari hubungan tersebut.
Bank Indonesia mencatat bahwa pada triwulan II 2026, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar US$0,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada triwulan I 2026. Pada periode yang sama, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$12,0 miliar.
Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$145,6 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan nilai tukar perlu dilihat bersama dengan kondisi transaksi internasional lainnya. Perdagangan, investasi, dan arus modal dapat saling berhubungan dalam memengaruhi kondisi perekonomian.
Mengapa Bank Indonesia Memperhatikan Nilai Tukar?
Pergerakan nilai tukar juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam kebijakan moneter. Pada Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Dalam laporan kebijakannya, Bank Indonesia menyebut penguatan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai salah satu bagian dari kebijakan di tengah ketidakpastian global.
Pada 18 Agustus 2026, nilai tukar rupiah tercatat sekitar Rp17.855 per dolar AS, meningkat 0,78 persen dibandingkan akhir Juli 2026.
Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai tukar tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar dan perusahaan yang melakukan transaksi internasional, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari kebijakan ekonomi.
Nilai Tukar dan Kehidupan Sehari-hari
Meskipun pembahasan nilai tukar sering dikaitkan dengan perusahaan dan pasar keuangan, dampaknya juga dapat dirasakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Perubahan nilai tukar dapat berkaitan dengan harga barang impor maupun biaya bahan baku yang berasal dari luar negeri.
Namun, perubahan harga tidak dapat langsung dikatakan hanya disebabkan oleh nilai tukar. Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi harga barang dan jasa.
Sebagai gambaran kondisi harga di dalam negeri, BPS mencatat bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan (year-on-year). Inflasi inti pada periode yang sama tercatat sebesar 2,92 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan nilai tukar merupakan salah satu hal yang perlu dipahami dalam melihat kondisi ekonomi, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan perubahan harga di masyarakat.
Memahami Kurs, Bukan Sekadar Menghafalnya
Nilai tukar merupakan salah satu bagian penting dalam ekonomi internasional. Pasar valuta asing memungkinkan transaksi antarnegara berlangsung, sementara perubahan permintaan dan penawaran valuta asing ikut menentukan pergerakan nilai tukar.
Bagi Indonesia, perkembangan rupiah tidak dapat dipisahkan dari kegiatan ekspor dan impor, investasi, arus modal, kondisi ekonomi global, serta kebijakan moneter. Data perdagangan Januari–Juli 2026 menunjukkan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$3,70 miliar, sementara perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia juga menunjukkan adanya dinamika pada transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial.
Menurut saya, hal yang paling penting bukan sekadar mengetahui berapa nilai rupiah terhadap dolar pada suatu hari, tetapi memahami mengapa nilai tersebut berubah dan apa dampaknya bagi kegiatan ekonomi. Bagi pelaku usaha, perubahan kurs dapat menjadi risiko yang perlu diperhitungkan. Bagi pemerintah dan Bank Indonesia, perkembangan nilai tukar menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga stabilitas perekonomian.
Pada akhirnya, angka nilai tukar yang terlihat setiap hari sebenarnya menggambarkan hubungan ekonomi Indonesia dengan dunia yang jauh lebih luas. Di balik perubahan rupiah terdapat perdagangan, investasi, arus modal, serta berbagai keputusan ekonomi yang saling berkaitan.
Dengan memahami mekanisme pasar valuta asing dan nilai tukar, kita tidak hanya mengetahui apakah rupiah sedang menguat atau melemah, tetapi juga dapat memahami bagaimana Indonesia berinteraksi dengan perekonomian internasional.
Referensi
Bank Indonesia. (2026). JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate). Diakses September 2026.
Bank Indonesia. (2026, 21 Agustus). Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan II 2026 Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global.
Bank Indonesia. (2026, 23 Juli). Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026.
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026 masing-masing tercatat USD 26,22 miliar dan USD 26,09 miliar.
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 September). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen.
Universitas Pamulang. Modul Ekonomi Internasional – Bab XIV: Pasar Valuta Asing dan Nilai Tukar.

