Konten dari Pengguna

5 Budaya Berbasi-basi Orang Indonesia yang Wajib di STOP!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rika fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia, sejak zaman dahulu terkenal sebagai negara yang penduduknya ramah. Budaya ini sudah sangat mandarah daging. Orang Indonesia terkenal sering menyapa dan tersenyum pada setiap orang yang dijumpai, pun tak terkecuali orang yang jarang dijumpai bahkan orang asing sekalipun. Selain kalimat sapaan, orang Indonesia juga pandai berbasa-basi demi untuk sekedar menyapa atau mencairkan suasana.

Basa-basi atau small talk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti adat sopan santun atau tata krama dalam pergaulan. Basa-basi juga dapat diartikan sebagai ungkapan yang digunakan untuk sopan santun saja, tanpa maksud untuk menyampaikan sesuatu. Basa-basi merupakan salah satu soft skill yang dimiliki manusia untuk menjaga hubungan interpersonal. Basa-basi dapat berupa kata sapaan atau bertanya kabar kepada lawan bicara.

Namun sayangnya, kerapkali basa-basi yang disampaikan pada lawan bicara ini bukan kalimat tanya yang netral. Kerapkali kalimat tersebut malah menyentuh ranah personal dan menyinggung hati lawan bicara. Bahkan kerapkali pertanyaan bernada basi-basi yang menyinggung ini justru dilontarkan oleh kerabat dekat maupun teman dekat.

Berikut adalah beberapa kalimat tanya maupun kebiasaan orang Indonesia yang bisa menyebabkan kuping memerah dan hati mendidih bagi yang mendengarnya.

1. “Kapan menikah?”

Di Indonesia, lazimnya seorang wanita menikah mulai usia 20 - 30 tahun. Sementara laki-laki sekitar usia 24-35 tahun masih dianggap wajar untuk menikah. Lewat dari usia tersebut, wanita atau laki-laki dianggap “terlambat” mendapatkan jodoh. Umumnya, wanita yang dianggap terlambat mendapatkan jodoh itulah yang paling banyak mendapatkan pertanyaan, kritikan bahkan cemoohan. Pertanyaan “Kapan menikah?“ adalah kalimat basa-basi ini seringkali ditanyakan oleh teman maupun kerabat setiap kali berjumpa. Kalau sekali dua kali mungkin tak mengapa, tapi kalau banyak orang dan hampir setiap hari mendengarnya tentu akan membuat pening kepala.

Selain pertanyaan, kerapkali mereka juga mendapatkan julukan semacam “perawan tua” dan “jomblo”. Seringkali julukan tersebut tidak diucapkan secara langsung, hanya diucapkan secara bisisk-bisik dari mulut ke mulut. Biasanya bisik-bisik tersebut agak kencang, jadi tetap terdengar juga. Terbayang kan betapa malu, ingin marah dan sedihnya jika kita menjadi mereka? Maka stop kebiasaan buruk tersebut mulai saat ini!

Solusi: Daripada menanyakan hal sensitif ini, lebih baik mengucapkan doa dan harapan baik, seperti "Semoga segera dipertemukan dengan jodoh terbaik ya!" atau cukup memberikan dukungan moral tanpa harus menyelidiki kehidupan pribadi seseorang.

2. “Kapan punya anak?”

Pertanyaan selanjutnya yang sering diungkapkan sebagai basa-basi adalah “Kapan punya anak?”. Pertanyaan ini sangat umum dialamatkan pada pasutri yang baru menikah. Lucunya pertanyaan ini kerapkali dilemparkan bahkan pada pasangan pengantin yang baru satu minggu atau satu bulan menikah. Bila bulan pertama belum positif hamil, alhasil bulan-bulan berikutnya pertanyaan ini pasti ditanyakan ulang. Bahkan, biasanya ditanyakan oleh orang yang sama. Sungguh menyita energi untuk menjawabnya.

Bahkan ada juga beberapa orang yang tanpa diminta langsung memberikan tips supaya cepat hamil atau menceritakan kisahnya dulu ketika berhasil hamil. Asal tahu saja, bagi kaum yang sering melakukan ini silakan mulai sekarang berhenti melakukan kebiasaan ini. Bukannya membantu, biasanya hal ini sangat membebani dan membuat stres pasutri baru. Pertanyaan kapan punya anak adalah pertanyaan retorika yang tidak mampu dijawab siapapun, hanya Allah SWT saja yang tahu jawabannnya.

Namun sayangnya, sebagian besar warga Indonesia sangat gemar melontarkan pertanyaan ini. Bahkan bila pasutri tersebut berhasil punya anak, pertanyaannya akan berganti menjadi “ kapan punya anak ke-2, ke-3, dst. Sungguh pertanyaan basa-basi yang tiada habisnya. Mimin sendiri bahkan saat sudah punya anak 4 saja masih juga ditanya “Kapan punya anak ke-5? “ luar biasa!! Padahal yang bertanya saja anaknya cuma satu atau dua.

Solusi: Daripada menanyakan hal ini, cobalah untuk lebih peka dan cukup memberikan doa, seperti "Semoga segera diberi momongan ya!" atau membicarakan topik lain yang lebih netral.

3. “Kok anaknya kurus/gemuk ya?”

Kebiasaan basa-basi berikutnya yang sering dilakukan adalah berkomentar atau bertanya mengenai fisik maupun kondisi anak orang lain. komentar atau pertanyaan ini misalnya “Anaknya kurus/agak kecil ya? Anaknya kok gemuk sekali ya? Rambutnya keriting ya? Kulitnya kok agak gelap ya?”

Pertanyaaan atau komentar ini bisa jadi sebagian besar terucap karena spontanitas. Tiba-tiba saja terlintas dalam fikiran tanpa maksud menyinggung perasaan orangtuanya. Atau bisa jadi pertanyaan tersebut terlontar karena gemas. Namun, apapun alasannya sebaiknya pertanyaan atau komentar tersebut ditahan saja. Karena seringkali hal tersebut sangat menyinggung perasaan orangtuanya.

Parahnya, kerapkali komentar ini disampaikan pada saat menengok bayi yang baru lahir. Sekali lagi, walaupun bernada biasa atau bercanda tetap saja hal ini bisa menyakiti perasaan orangtuanya. Bahkan pada beberapa kasus dapat menyebabkan ibu si bayi mengalami Baby Blues atau gangguan suasana hati yang dialami ibu setelah melahirkan. Maka sebaiknya STOP berkomentar mengenai fisik anak orang lain.

Solusi: Sebaiknya, hindari komentar mengenai fisik anak dan gantilah dengan pujian yang lebih positif, seperti "Anaknya sehat dan lucu sekali!" atau cukup dengan tersenyum dan menunjukkan perhatian yang tulus. Sebisa mungkin berkomentar bila dimintai pendapat atau ada hal yang perlu didiskusikan.

4. “Kok gemukan? Umurnya berapa sekarang?”

Next, pertanyaan yang mungking paling sering diucapkan orang ketika bertemu adalah “Kok gemukan sih?” berapa beratnya sekarang?”. Bahkan bisa lebih parah bila diikuti dengan pertanyaan “umurnya berapa sekarang?” Pertanyaan seputar berat badan dan umur ini sebetulnya sangat tabu dan sangat dilarang untuk ditanyakan. Terlebih bila dilontarkan pada seorang wanita. Meskipun mungkin yang bersangkutan merespon secara santai bahkan mungkin tersenyum. Tapi percayalah, tidak ada komentar atau pertanyaan yang paling menyakitkan dan membuat down selain pertanyaan ini.

Bagi wanita, umur dan berat adalah hal yang sangat personal dan sensitif untuk ditanyakan, dikomentari apalagi dijadikan bahan lelucon. Pernah dalam suatu kelas pelatihan bahasa inggris dengan Native Speaker dari Amerika, kami bertanya mengenai pertanyaan tabu bagi wanita amerika. Beliau menjawab, bertanya mengenai umur dan berat badan adalah dua hal yang tabu untuk ditanyakan. Ternyata bagi wanita barat yang berpandangan lebih terbuka pun, kedua hal tersebut tergolong tabu. Demi hubungan baik dengan saudara dan teman dekat, sebaiknya berhenti mengomentari atau menanyakan kedua hal tersebut.

Solusi: Alih-alih berkomentar tentang fisik, lebih baik menanyakan kabar dengan cara yang lebih sopan, seperti "Apa kabar? Senang sekali bisa bertemu lagi!" atau membahas hal lain yang lebih menyenangkan.

5. Dibandingkan dengan saudara

Kalimat terakhir yang sering dilontarkan sebagai bagian dari basa-basi adalah pertanyaan yang bernada membandingkan diantara saudara. Misalnya pada saat bertemu sang adik, komentar yang disampaikan misalnya “Oh adiknya si A ya, kirain kakaknya”. Atau kalimatnya bisa berupa “Adiknya kok beda ya kulitnya sama kakaknya”. Bila tidak mengomentari fisik, kadang komentarnya berupa prestasi antara kakak-adik yang diperbandingkan. Misal universitas yang dimasuki si adik tidak sekeren universitas kakaknya atau nilai raport si kakak tidak sebaik adiknya.

Sejatinya setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Meskipun bersaudara, namun setiap anak memiliki karaker dan pencapainnya masing-masing. Membandingkan antara kakak dan adik dapat menimbulkan turunnya rasa percaya diri, menimbulkan kecemburuan dan persaingan yang tidak sehat diantara keduanya bahkan bisa menimbulkan stres pada anak. Terlebih bila komentar atau perbandingan ini disampaikan orangtua kepada anaknya sendiri.

Solusi: Sebaiknya, hindari perbandingan dan fokuslah pada kelebihan masing-masing individu. Setiap orang unik dan memiliki jalannya sendiri untuk berkembang.

Basa-basi memang merupakan bagian dari budaya kita, namun tidak semua basa-basi itu baik. Ada kalimat-kalimat yang justru bisa menyakiti perasaan lawan bicara tanpa kita sadari. Oleh karena itu, mari lebih bijak dalam berbicara dan lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Sebagai langkah awal, mari hentikan kebiasaan bertanya atau berkomentar yang berpotensi menyinggung orang lain. Mulailah dengan lebih banyak memberikan doa dan dukungan yang tulus, karena hal tersebut jauh lebih berarti dibandingkan sekadar basa-basi yang menyakitkan.

Sudahkah kamu berhenti mengucapkan basa-basi yang menyakitkan? Jika belum, yuk mulai sekarang kita lebih berhati-hati dalam berbicara! Bagikan artikel ini kepada teman dan keluarga agar semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga perasaan orang lain!

Ilustrasi basa-basi (sumber: pexel.com/eketerina-bolotsova)