Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM Berbasis Kompetensi di Tengah Perubahan Teknologi

Rika Rizkiyah

Rika Rizkiyah

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rika Rizkiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi mempengaruhi perubahaan dalam sistem kerja (Sumber : Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Teknologi mempengaruhi perubahaan dalam sistem kerja (Sumber : Gemini)

Oleh: Rika Rizkiyah

Perkembangan teknologi membuat dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, sistem kerja digital, dan berbagai aplikasi pendukung pekerjaan telah mengubah cara perusahaan menjalankan aktivitasnya. Pekerjaan yang dulu dilakukan secara manual kini semakin banyak dibantu oleh teknologi.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan dalam proses transformasi digital, “Manusianya”.

Perusahaan boleh memiliki teknologi yang canggih, tetapi teknologi tersebut tidak akan memberikan hasil maksimal jika tidak didukung oleh karyawan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Karena itu, menurut saya, tantangan perusahaan saat ini bukan hanya bagaimana membeli atau menerapkan teknologi baru, tetapi bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia agar mampu berjalan bersama perubahan tersebut.Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) berbasis kompetensi menjadi penting.

Bukan Sekadar Menghitung Jumlah Karyawan

Selama ini, perencanaan SDM sering dipahami sebatas menentukan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Padahal, kebutuhan tenaga kerja tidak hanya berbicara mengenai jumlah orang, tetapi juga mengenai kemampuan yang dimiliki. Perusahaan perlu bertanya, Kompetensi apa yang dibutuhkan untuk menghadapi pekerjaan beberapa tahun ke depan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi membuat kebutuhan pekerjaan ikut berubah. Seorang karyawan mungkin memiliki pengalaman bertahun-tahun, tetapi tetap perlu mempelajari keterampilan baru ketika sistem kerja mengalami perubahan.

Misalnya, perusahaan mulai menggunakan sistem berbasis AI untuk membantu pekerjaan administrasi dan analisis data. Karyawan tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan sistem tersebut. Mereka juga perlu memahami cara membaca hasilnya, memeriksa informasi, mengambil keputusan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.Dengan kata lain, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari kompetensi kerja masa kini.

Ketika Teknologi Berkembang, Kompetensi Juga Harus Berkembang

Perubahan teknologi dapat menciptakan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Di sisi lain, karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilannya berisiko tertinggal. Kondisi ini kemudian melahirkan apa yang sering disebut sebagai Skill Gap, yaitu kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki tenaga kerja dengan kemampuan yang dibutuhkan perusahaan.

Menurut saya, masalah tersebut tidak seharusnya hanya dibebankan kepada karyawan. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk menyediakan ruang belajar dan pengembangan kompetensi. Tidak adil apabila perusahaan menuntut karyawan mampu mengikuti teknologi baru, tetapi tidak memberikan pelatihan, pendampingan, atau kesempatan untuk belajar. Karena itu, transformasi digital seharusnya berjalan beriringan dengan transformasi kompetensi manusia.

Upskilling dan Reskilling Bukan Lagi Pilihan Tambahan

Salah satu langkah yang dapat dilakukan perusahaan adalah memperkuat program upskilling dan reskilling. Upskilling berarti meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki karyawan. Sementara itu, reskilling berarti memberikan kemampuan baru agar karyawan dapat menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda.

Program tersebut tidak selalu harus berupa pelatihan formal yang membutuhkan biaya besar. Perusahaan dapat mengembangkan pembelajaran melalui mentoring, pelatihan internal, workshop, kursus daring, maupun pembelajaran langsung dalam pekerjaan. Yang terpenting adalah perusahaan mengetahui terlebih dahulu kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan.

Jangan sampai pelatihan dilakukan hanya karena mengikuti tren. Pelatihan harus menjawab kebutuhan nyata perusahaan dan pekerjaan.

Rekrutmen Juga Perlu Berubah

Perencanaan SDM berbasis kompetensi juga seharusnya memengaruhi cara perusahaan merekrut karyawan. Di tengah perubahan dunia kerja, perusahaan tidak cukup hanya melihat ijazah atau pengalaman kerja. Kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, berpikir kritis, kemampuan digital, kreativitas, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi juga semakin penting.

Artinya, seseorang yang mungkin belum memiliki pengalaman panjang belum tentu tidak memiliki potensi. Sebaliknya, pengalaman yang panjang juga perlu diikuti dengan kemauan untuk terus belajar. Perusahaan perlu melihat kompetensi secara lebih menyeluruh, bukan sekadar melihat latar belakang seseorang di atas kertas.

Jangan Sampai Teknologi Mengalahkan Peran Manusia

Ada kekhawatiran bahwa perkembangan AI dan otomatisasi akan mengurangi peran manusia dalam dunia kerja. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami, terutama ketika teknologi mampu mengambil alih sebagian pekerjaan rutin. Namun, menurut saya, persoalannya bukan sekadar apakah teknologi akan menggantikan manusia atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah, “bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemampuannya?”

Teknologi dapat membantu mengerjakan pekerjaan yang bersifat rutin, tetapi manusia tetap memiliki peran dalam kreativitas, komunikasi, empati, pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan memahami konteks pekerjaan. Karena itu, perusahaan seharusnya tidak menempatkan teknologi dan manusia sebagai dua hal yang saling berlawanan. Keduanya justru perlu dipadukan.

Perencanaan SDM Harus Melihat Masa Depan

Perencanaan SDM yang hanya berorientasi pada kebutuhan hari ini akan sulit menghadapi perubahan yang cepat. Perusahaan perlu mulai memikirkan kompetensi yang dibutuhkan beberapa tahun ke depan. Caranya dapat dimulai dari pemetaan kompetensi. Perusahaan mengidentifikasi kemampuan yang sudah dimiliki karyawan, kemudian membandingkannya dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi.

Dari sana dapat diketahui apakah perusahaan perlu melakukan pelatihan, memindahkan karyawan ke posisi tertentu, merekrut tenaga kerja baru, atau mengembangkan kemampuan karyawan yang sudah ada. Pendekatan seperti ini membuat pengelolaan SDM menjadi lebih strategis. Karyawan tidak hanya dipandang sebagai tenaga kerja yang menjalankan tugas, tetapi sebagai aset yang perlu dikembangkan.

Perusahaan dan Karyawan Sama-Sama Harus Beradaptasi

Pada akhirnya, menghadapi perubahan teknologi bukan hanya tanggung jawab perusahaan dan bukan pula hanya tanggung jawab karyawan. Keduanya memiliki peran. Perusahaan perlu menyediakan sistem kerja, pelatihan, dan lingkungan yang mendukung pembelajaran. Sementara itu, karyawan perlu memiliki kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun, dunia kerja tidak akan berhenti berubah hanya karena kita belum siap menghadapinya.Karena itu, perencanaan SDM berbasis kompetensi perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi perusahaan. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja saat ini, tetapi juga untuk mempersiapkan manusia menghadapi pekerjaan yang mungkin belum ada hari ini.

Teknologi boleh terus berkembang, tetapi keberhasilan perusahaan tetap sangat bergantung pada bagaimana manusia di dalamnya mampu belajar, beradaptasi, dan menggunakan perubahan tersebut secara tepat.