Konten dari Pengguna

Antara Musibah dan Takdir: Tafsir Surat At-Taghabun ayat 11

Riksa Ajendiri

Riksa Ajendiri

MAHASISWI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riksa Ajendiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: freepik.com

Pernah ngga sih kamu berfikir kalo sesuatu yang terjadi sama diri kita itu musibah atau takdir?. Seringkali, setiap ada hal-hal buruk yang terjadi sama diri kita, pasti di akhir kita akan mengatakan "yaudahlah, mau gimana lagi namanya juga takdir", "ah yaudahlah terima aja, udah takdirnya begini". Padahal, ga semua hal itu tentang takdir, loh. Ada kalanya, musibah itu datang justru karena kesahalah yang kita perbuat, baik itu kesalahan yang disengaja, ataupun yang tidak disengaja. Berbicara soal takdir, baru baru ini, kasus mahasiswa UGM yang tenggelam saat KKN di Maluku Tenggara sedang ramai dibicarakan di media sosial terkait apa penyebab tenggelamnya mahasiswa UGM tersebut. Apakah itu adalah takdir, atau memang ada penyebab lain yang menyebabkan mahasiswa UGM tersebut tenggelam. Mari kita bahas apa itu musibah dan takdir.

Apa itu Takdir dan Musibah?

Menurut Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, beliau meyakini bahwa takdir itu segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah. Artinya, Allah menciptakan semua perbuatan manusia, mau yang baik ataupun yang buruk. Menurut Imam Abu Mansur al-Maturidi, takdir itu Allah mengetahui dan menentukan segalanya, namun memberi manusia kehendak bebas (ikhtiar) yang nyata. Beliau juga mengatakan bahwa takdir itu tidak meniadakan kebebasan manusia dalam berkehendak dan memilih, dan keburukan itu bukan Allah yang menghendakinya secara langsung, tapi manusia yang memilihnya.

Sedangkan Musibah menurut Imam abu Hasan al-Asy'ari adalah bagian dari takdir allah yang tidak bisa ditolak. Musibah bisa berupa ujian, pembalasan, atau hikmah tersembunyi dari Allah. Menurut Imam Abu Mansur al-Maturidi, musibah adalah bagian dari sunnatullah dan juga berasal dari kesalahan manusia itu sendiri. Allah tidak menimpa manusia. Jika musibah menimpa, bisa jadi karena kelalaian manusia, dan Allah membiarkannya terjadi dalam rangka mendidik atau menguji.

Pendekatan Tafsir Mengenai Musibah dan Takdir

Terkait Musibah yang telah dijelaskan sebelumnya, inilah pendapat beberapa ahli tafsir mengenai hal itu:

Pada Qur'an surat At-Taghabun terdapat ayat mengenai musibah, yang bunyi nya:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Arab-Latin: Mā aṣāba mim muṣībatin illā bi`iżnillāh, wa may yu`mim billāhi yahdi qalbah, wallāhu bikulli syai`in 'alīm

Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

  1. Tafsir Al-Muyassar Kementrian Saudi Arabia

Dalam tafsir ini dijelaskan bahwa tidaklah seseorang ditimpa sesuatu yang tidak diinginkannya kecuali dengan izin Allah, ketetapan, dan takdir-Nya. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah membimbing hatinya untuk menerima perintah-Nya dan rela kepada keputusan-Nya, Allah membimbing kepada keadaan, perkataan dan perbuatan terbaik, sebab dasar hidayah adalah hati, sementara anggota badan adalah pengikut. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sedikit pun yang samar baginya.

  1. Tafsir Ibnu Katsir

Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah barangsiapa yang ditimpa musibah lalu ia mengetahui bahwa musibah itu dengan qadha' Allah dan qadar-Nya, sehingga ia pun bersabar dan mengharap pahala, maka Allah mengganti terhadap apa yang luput baginya dari dunia dengan petunjuk dan keyakinan yang benar di dunia. Ibnu Abbas berkata, “Maksudnya Allah tunjuki hatinya kepada keyakinan, sehingga dia mengetahui bahwa apa yang (ditetapkan) menimpanya maka tidak akan meleset dan apa yang tidak akan menimpanya, maka tidak akan mengenainya.” Al A’masy berkata dari ‘Alqamah tentang ayat, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan tunjuki hatinya,“ maksudnya adalah seorang yang terkena musibah, ia pun mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah sehingga ia pun ridha dan menerima.“ Sa’id bin Jubair berkata, “Ia beristirja’ dengan mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya).”

  1. An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat At-Taghabun ayat 11: Ketahuilah bahwa semua musibah yang menimpa seorang hamba dari sebagian musibah-musibah pada badan, anak, harta, bencana, gempa bumi dan setiap yang terjadi segala keadaannya adalah atas izin Allah, Allah tahu, Allah memiliki melakukan sesuai keinginan-Nya; Maka barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengetahui atas apa yang menimpa tidaklah menimpa kecuali dengan kuasa Allah, yang dengannya Allah berikan petunjuk pada hatinya, atau Allah berikan ketenangan dan kesabaran pada hatinya serta ridha dengan takdir Allah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatunya, atau Dia mengetahui orang yang beriman dan yang bermaksiat, yang tidak rela dan yang tenang, dan mengetahui musibah yang ditimpakan, apakah musibah tersebut akibat dari dosa yang manusia lakukan atau dengan sebab lain ? Di sini Allah mengokohkan mereka yang beriman dan keimanan tersebut menenmpati hati-hati mereka karena sebab takdir Allah dan kuasa-Nya, maka mereka akan mengucapkan : إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَ‌ٰجِعُونَ {Al Baqarah : 156} dan mereka akan berkata : حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ {Ali Imran : 173}. Adapun selain orang-orang yang beriman mereka akan kebingungan, menangis, atau menjerit-jerit, dan mungkin juga menampar-nampar dirinya sendiri dan merobek-robek pakaiannya.

Kesimpulan: Takdir, Musibah, dan Tanggung Jawab Manusia

Dari uraian di atas, kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa tidak semua kejadian buruk langsung bisa kita labeli sebagai takdir, dan tidak semua musibah datang tanpa sebab. Terkadang, musibah merupakan akibat dari kelalaian atau kesalahan manusia sendiri, baik disengaja maupun tidak. Di sisi lain, ada juga musibah yang benar-benar merupakan ujian dari Allah, bagian dari takdir yang harus diterima dengan sabar dan ikhlas.

Kasus tenggelamnya salah satu mahasiswa UGM saat KKN di Maluku Tenggara menjadi pengingat bahwa tidak semua musibah bisa langsung dianggap sebagai "takdir semata" tanpa ditelusuri sebab-sebabnya. Dalam Islam, memang benar bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 11. Namun, keimanan kepada takdir tidak meniadakan tanggung jawab manusia atas sebab-sebab yang bisa dicegah.

Jika musibah itu disebabkan oleh kelalaian protokol keselamatan, kurangnya pengawasan lapangan, atau kekurangan mitigasi risiko dari pihak penyelenggara, maka itu bukan sekadar takdir yang harus diterima, tapi juga peringatan agar evaluasi dilakukan agar hal serupa tidak terulang. Dalam pandangan Imam Maturidi, musibah bisa terjadi karena pilihan dan tindakan manusia, bukan semata-mata kehendak Allah.

Maka, penting bagi kita sebagai umat beriman untuk memiliki *sikap seimbang: menerima takdir dengan sabar, namun tetap kritis dan bertanggung jawab atas usaha serta keputusan yang kita ambil. Menyikapi musibah dengan cara ini bukan hanya akan membawa pelajaran, tapi juga mendorong perubahan sistemik agar keselamatan dan kemanusiaan lebih dijaga ke depan.