Konten dari Pengguna

Dari Sampah Jadi Biofuel, Bisakah Indonesia Kurangi Ketergantungan BBM?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, ketika mendengar kata sampah, yang terbayang mungkin adalah tempat pembuangan akhir, bau tidak sedap, atau tumpukan yang semakin tinggi.

generated by ai Gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai Gemini

Namun, bagaimana jika sebagian sampah tersebut justru bisa diubah menjadi bahan bakar?

Gagasan ini mulai mendapat perhatian serius di Indonesia. Pemerintah tidak lagi hanya mendorong pengolahan sampah menjadi listrik, tetapi juga membuka peluang untuk mengubah sampah menjadi berbagai bentuk energi, termasuk bahan bakar alternatif.

Pada Oktober 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup bahkan menyatakan siap menghubungkan energi dari olahan sampah daerah dengan industri agar produk bahan bakar alternatif memiliki pembeli yang jelas. Salah satu teknologi yang digunakan adalah pirolisis.

Sampah Tidak Selalu Berakhir di TPA

Selama ini konsep pengolahan sampah menjadi energi lebih sering dikenal melalui istilah waste-to-energy atau WtE. Namun, pemanfaatannya tidak harus selalu menghasilkan listrik.

Sampah tertentu dapat diproses menjadi bahan bakar alternatif. Salah satunya melalui teknologi pirolisis, yaitu proses pemanasan material pada kondisi minim atau tanpa oksigen.

Dalam proses tersebut, material seperti limbah plastik dapat diubah menjadi produk berbentuk minyak, gas, dan residu padat yang kemudian dapat dimanfaatkan sesuai karakteristiknya.

Artinya, sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai bisa masuk kembali ke dalam rantai energi.

Indonesia Mulai Mengembangkan Sampah Menjadi BBM

Perkembangan ini bukan sekadar wacana. Pada Mei 2026, pemerintah menyampaikan rencana mendorong pemanfaatan timbunan sampah lama di TPA untuk diolah menjadi bahan bakar minyak menggunakan teknologi pirolisis.

Kemudian pada September 2026, Kementerian ESDM menyampaikan bahwa sampah plastik dapat menghasilkan bahan bakar minyak terbarukan melalui proses pirolisis, termasuk produk yang ditujukan sebagai bahan bakar setara solar maupun bensin. Namun, pemerintah masih mengidentifikasi dan menguji kualitas BBM yang dihasilkan karena karakteristik produk dapat berbeda antara satu fasilitas dengan fasilitas lainnya.

Ini menunjukkan bahwa tantangannya bukan sekadar “bisakah sampah menjadi BBM?”, tetapi juga seberapa konsisten dan aman bahan bakar yang dihasilkan untuk digunakan.

Ada Teknologi dari BRIN dan Kampus

Indonesia juga memiliki penelitian yang mengarah ke sana. BRIN pada 2026 memperkenalkan inovasi bernama Petasol, yaitu teknologi pirolisis multikondensor yang dirancang untuk mengolah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar minyak yang setara solar. Teknologi tersebut ditujukan untuk menangani jenis plastik yang sulit masuk ke sistem daur ulang konvensional, seperti kemasan sachet, plastik multilapis, dan plastik tipis.

Penelitian dari Universitas Diponegoro juga mengembangkan DIPOFuel, teknologi pirolisis modular yang mengolah limbah plastik tanpa oksigen menggunakan katalis. Pada pengembangan terbaru yang dipaparkan pada Januari 2026, teknologi tersebut juga dikembangkan untuk mengolah limbah segel tangki Pertamina menjadi bahan bakar dengan nilai oktan RON 96.

Artinya, riset mengenai konversi limbah menjadi bahan bakar sudah mulai bergerak dari sekadar konsep menuju pengembangan teknologi yang lebih spesifik.

Bukan Berarti Semua Sampah Bisa Jadi Bensin

Ada bagian penting yang sering hilang ketika membicarakan teknologi “sampah jadi BBM”. Tidak semua sampah bisa langsung dimasukkan ke dalam mesin pirolisis lalu berubah menjadi bensin atau solar.

Jenis sampah, kadar air, komposisi, kontaminasi, temperatur proses, katalis, hingga sistem pemurnian akan memengaruhi produk akhirnya.

Karena itu, pengelolaan sampah tetap harus dimulai dari pemilahan.

Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan bahwa waste-to-energy bukan satu-satunya solusi. Sampah perlu dipilah dan diolah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat ditangani melalui pengolahan tersendiri, sementara residu yang sesuai dapat masuk ke teknologi seperti RDF, biogas, pirolisis, atau fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.

Lalu, Apakah Bisa Mengurangi Ketergantungan BBM?

Potensinya ada, tetapi jangan dibayangkan sampah akan langsung menggantikan seluruh kebutuhan bahan bakar Indonesia.

Pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar lebih tepat dilihat sebagai salah satu sumber energi alternatif sekaligus cara mengurangi volume limbah yang harus masuk ke TPA.

Ada keuntungan ganda yang bisa diperoleh.

Pertama, sebagian sampah yang sulit didaur ulang dapat memiliki nilai ekonomi.

Kedua, produk energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh industri sebagai alternatif terhadap bahan bakar fosil tertentu.

Ketiga, pengolahan tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap tempat pembuangan akhir.

Model seperti ini juga mulai terlihat dalam pengembangan RDF. Pada 2025, fasilitas RDF di Sukabumi telah diresmikan dengan kapasitas pengolahan sekitar 333 ton sampah per hari untuk menghasilkan bahan bakar alternatif bagi industri semen.

Jadi, konsepnya tidak selalu “sampah menjadi bensin untuk kendaraan”. Sampah juga dapat diubah menjadi bahan bakar untuk kebutuhan industri.

Tantangannya Justru Ada di Belakang Teknologi

Teknologi pirolisis memang menarik, tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh mesin. Ada persoalan pengumpulan sampah, pemilahan, kadar air, biaya pengangkutan, kualitas bahan baku, teknologi pemurnian, hingga siapa yang akan membeli produk akhirnya.

Jika bahan baku tidak konsisten, produk yang dihasilkan juga dapat berubah.

Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah kini mulai memperhatikan keberadaan offtaker atau pihak yang membeli energi hasil pengolahan sampah. Pada Oktober 2026, KLH/BPLH menyatakan penghubungan produk energi dari sampah dengan industri diperlukan agar pengolahan di daerah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, membangun mesin saja tidak cukup. Harus ada sistem yang membuat sampah tersedia, teknologi bekerja, produk memenuhi standar, dan ada pihak yang membelinya.

Dari Masalah Lingkungan Menjadi Sumber Energi

Indonesia sebenarnya sedang menghadapi dua persoalan sekaligus: jumlah sampah yang terus membutuhkan pengelolaan dan kebutuhan energi yang besar.

Mengubah sampah menjadi energi tidak otomatis menyelesaikan keduanya. Namun, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari solusi jika diterapkan dengan tepat.

Bahkan, pemerintah pada 2026 menargetkan 11 fasilitas waste-to-energy dapat beroperasi secara bertahap hingga 2028. Pendekatannya juga tidak hanya mengandalkan pembangkit listrik, tetapi mencakup RDF, biogas, pirolisis, dan teknologi pengolahan lainnya.

Artinya, masa depan pengelolaan sampah Indonesia kemungkinan tidak hanya berbicara tentang “bagaimana membuang sampah?”, tetapi juga “apa yang masih bisa diambil dari sampah tersebut?”

Sampah plastik yang sulit didaur ulang mungkin bisa menjadi bahan bakar. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi biogas atau produk lain. Sementara residu tertentu dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif industri.

Pada akhirnya, teknologi bukan membuat sampah tiba-tiba menjadi sesuatu yang berharga. Teknologilah yang membantu mengambil kembali nilai yang sebelumnya terbuang.

Dan jika sistemnya bisa dibuat aman, ekonomis, serta ramah lingkungan, tumpukan sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah mungkin suatu hari justru menjadi bagian kecil dari solusi energi Indonesia.