Konten dari Pengguna

Digital Twin: Teknologi yang Bisa Menguji Infrastruktur Sebelum Dibangun

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membangun jalan, pembangkit listrik, atau stadion bukan pekerjaan sederhana. Kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berujung pada biaya tambahan, waktu pengerjaan yang lebih lama, bahkan masalah ketika infrastruktur sudah digunakan.

Namun, bagaimana jika sebuah proyek bisa “dicoba” terlebih dahulu sebelum benar-benar dibangun?

generated by ai Gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai Gemini

Konsep inilah yang ditawarkan teknologi digital twin.

Digital twin merupakan representasi digital dari suatu objek, sistem, atau infrastruktur di dunia nyata. Data dari proyek dapat digunakan untuk membuat model digital yang membantu para insinyur melihat kondisi, melakukan simulasi, dan menganalisis berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan.

Teknologi ini mulai mendapat perhatian dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Buktinya, tiga proyek Indonesia masuk sebagai finalis Year in Infrastructure (YII) Awards 2026 yang diumumkan di Singapura pada 6 Oktober 2026. Ketiganya adalah PLTP Lumut Balai 2, Jalan Tol Semarang-Demak, dan Jakarta International Stadium. Dari lebih dari 300 proyek di 53 negara, hanya 36 proyek yang masuk daftar finalis.

Bukan Sekadar Membuat Model 3D

Ketika mendengar istilah digital twin, sebagian orang mungkin membayangkan gambar tiga dimensi sebuah bangunan. Padahal, konsepnya lebih dari itu.

Model digital dapat dihubungkan dengan berbagai informasi proyek. Data mengenai desain, material, kondisi konstruksi, hingga operasional dapat menjadi bagian dari sistem tersebut.

Dengan begitu, model digital tidak hanya menunjukkan seperti apa bentuk sebuah infrastruktur, tetapi juga dapat membantu menjawab pertanyaan seperti apa yang terjadi jika suatu bagian diubah.

Misalnya, ketika sebuah jalan dirancang, tim dapat menggunakan data digital untuk melihat berbagai kemungkinan sebelum pembangunan dilakukan.

Hal serupa dapat diterapkan pada pembangkit listrik, gedung, jembatan, hingga sistem transportasi.

Mengapa Teknologi Ini Menarik?

Salah satu masalah dalam pembangunan infrastruktur adalah perubahan kondisi di lapangan. Rencana yang terlihat ideal di atas kertas belum tentu berjalan sama ketika diterapkan di dunia nyata.

Dengan teknologi digital, sebagian kondisi tersebut dapat dianalisis lebih awal. Jika ada perubahan desain, misalnya, dampaknya dapat dipelajari sebelum perubahan benar-benar diterapkan di lapangan.

Inilah yang membuat digital twin menarik: dunia nyata dan dunia digital dapat dibuat saling terhubung. Teknologi ini juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada proses manual dan pemeriksaan yang hanya dilakukan pada waktu tertentu.

Dalam YII Awards 2026, Bentley Systems menyebut perkembangan infrastruktur bergerak dari dokumen yang terpisah dan proses manual menuju informasi yang terhubung, otomatisasi cerdas, serta pemahaman kondisi secara berkelanjutan.

Indonesia Sudah Mulai Menggunakannya

Masuknya tiga proyek Indonesia ke final YII Awards 2026 menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital dalam pembangunan nasional bukan lagi sekadar konsep.

Salah satunya adalah PLTP Lumut Balai 2 yang masuk kategori produksi energi dengan proyek bertema transformasi energi bersih, Ada juga Jalan Tol Semarang-Demak yang masuk kategori jalan dan tol.

Sementara Jakarta International Stadium menjadi finalis dalam kategori teknik struktur, khususnya terkait rancangan atap buka-tutupnya. Antara News

Ketiga proyek tersebut memang memiliki karakter yang berbeda.

Namun, semuanya menunjukkan satu perubahan penting: pembangunan infrastruktur semakin bergantung pada data dan teknologi digital.

Bahkan Bisa Membantu Memelihara Infrastruktur

Teknologi ini tidak hanya berguna ketika sebuah proyek sedang dirancang atau dibangun. Setelah infrastruktur selesai, data digital dapat tetap digunakan untuk membantu pengoperasian dan pemeliharaan.

Contohnya pada pembangkit listrik.

Jika suatu peralatan menunjukkan perubahan temperatur atau pola kerja yang tidak biasa, data tersebut dapat menjadi tanda awal bahwa komponen perlu diperiksa.

Dengan demikian, pemeliharaan tidak selalu harus menunggu sampai kerusakan terjadi. Konsepnya berubah dari:

“Rusak dulu, baru diperbaiki.” menjadi: “Pantau kondisinya, temukan tanda masalah, lalu lakukan tindakan.”

Perubahan seperti ini sangat penting untuk infrastruktur yang harus beroperasi selama bertahun-tahun.

Apakah Digital Twin Akan Menggantikan Insinyur?

Tidak. Digital twin bukan pengganti insinyur. Teknologi ini lebih tepat dilihat sebagai alat bantu untuk membuat keputusan berdasarkan data.

Insinyur tetap dibutuhkan untuk menentukan apakah suatu desain aman, apakah sistem memenuhi standar, bagaimana menghadapi kondisi lapangan, dan keputusan teknis apa yang harus diambil.

Bahkan, semakin canggih teknologinya, semakin penting pula tenaga ahli yang mampu memahami data dan menghubungkannya dengan kondisi nyata.

Hal tersebut terlihat dari perkembangan YII Awards 2026. Dari 36 proyek finalis, 24 proyek menggunakan AI dalam berbagai bentuk dan 22 proyek menggunakan fondasi digital yang terhubung. Teknologi yang digunakan mencakup AI, digital twin, analitik, dan data terhubung.

Infrastruktur Indonesia Sedang Berubah

Perkembangan digital twin menunjukkan bahwa teknologi infrastruktur tidak lagi hanya tentang beton, baja, kabel, mesin, dan tanah.

Data mulai menjadi bagian penting dari pembangunan. Sebuah proyek dapat memiliki “kembaran” dalam dunia digital yang membantu manusia memahami bagaimana infrastruktur tersebut dirancang, dibangun, dan nantinya dioperasikan.

Jika teknologi ini terus berkembang, mungkin suatu saat pertanyaan dalam pembangunan bukan lagi hanya:

“Bagaimana kita membangunnya?” Tetapi juga: “Bagaimana kalau kita mengujinya terlebih dahulu di dunia digital?”

Bagi Indonesia yang sedang membangun banyak infrastruktur energi, transportasi, dan kawasan industri, kemampuan untuk melakukan simulasi dan mengambil keputusan berbasis data bisa menjadi semakin penting.

Sebab, semakin besar infrastrukturnya, semakin mahal pula harga sebuah kesalahan. Dan mungkin, salah satu cara mengurangi kesalahan tersebut adalah dengan membangun infrastrukturnya dua kali: pertama di dunia digital, kemudian di dunia nyata.