Infrastruktur artificial intelligence (AI) dan Ancaman Air Bersih

Mahasiswa teknik elektro unpam, yang tertarik pada teknologi, energi, dan isu kehidupan sehari-hari. Menulis untuk berbagi informasi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita mungkin mengenal kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dari chatbot, aplikasi pembuat gambar, penerjemah, hingga berbagai layanan digital yang semakin mudah digunakan. Cukup mengetik sebuah perintah, jawaban dapat muncul dalam hitungan detik.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat infrastruktur yang tidak terlihat oleh pengguna: data center.
Di dalam data center, ribuan server bekerja untuk menyimpan dan memproses data. Semakin besar kemampuan komputasi yang dibutuhkan, semakin besar pula kebutuhan terhadap listrik dan sistem pendinginan. Pada teknologi pendinginan tertentu, air menjadi salah satu sumber daya yang digunakan.
Hal ini membuat perkembangan AI tidak hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga mulai bersinggungan dengan persoalan lingkungan, khususnya ketersediaan air.
Ketika AI Membutuhkan Infrastruktur Besar
AI tidak berjalan hanya melalui aplikasi yang kita lihat pada layar ponsel atau laptop. Proses komputasi berlangsung di pusat data yang memiliki server dalam jumlah besar.
Server yang bekerja menghasilkan panas. Karena itu, data center membutuhkan sistem pendinginan agar perangkat dapat beroperasi pada temperatur yang sesuai.
Teknologi pendinginan pada data center sangat beragam. Ada sistem yang menggunakan udara dengan kebutuhan air yang relatif kecil, sementara sistem berbasis cooling tower atau evaporative cooling dapat menggunakan air dalam jumlah lebih besar. Penggunaan air sangat bergantung pada desain dan teknologi pendinginan yang diterapkan. The Jakarta Post
Artinya, ketika membicarakan dampak lingkungan AI, kita tidak cukup hanya melihat seberapa banyak listrik yang digunakan. Air juga menjadi bagian dari pembahasan.
Jatiluhur dan Perkembangan Data Center AI
Isu ini semakin relevan setelah pembangunan pusat data AI di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi perhatian publik.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan tersebut pada akhir September 2026 karena proyek belum mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Pemerintah daerah juga meminta kajian mengenai penggunaan air Waduk Jatiluhur dan dampaknya terhadap masyarakat, termasuk petani yang memanfaatkan sumber air tersebut. PPID Jabar
Pusat data tersebut direncanakan memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW). Berdasarkan kajian yang disampaikan Institute for Essential Services Reform (IESR), kebutuhan air pada tahap pengembangan berikutnya diperkirakan mencapai 384 liter per detik, atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari. IESR
Angka tersebut tentu membuat pertanyaan mengenai air menjadi relevan.
Apalagi Waduk Jatiluhur bukan hanya digunakan untuk kebutuhan industri. Air dari kawasan tersebut juga memiliki fungsi untuk kebutuhan masyarakat dan irigasi pertanian.
Namun, angka kebutuhan air tersebut tidak serta-merta berarti seluruh air yang digunakan akan hilang atau mengurangi pasokan masyarakat dalam jumlah yang sama. Dampaknya perlu dilihat berdasarkan sumber air, sistem pendinginan, volume air yang benar-benar dikonsumsi, serta kondisi ketersediaan air di wilayah tersebut.
Air untuk Data Center, Air untuk Masyarakat
Di sinilah persoalan lingkungan menjadi lebih kompleks. Pembangunan data center dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ekonomi digital dan infrastruktur teknologi. Di sisi lain, fasilitas tersebut membutuhkan berbagai sumber daya untuk dapat beroperasi.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah data center boleh menggunakan air. Yang lebih penting adalah bagaimana penggunaan air tersebut direncanakan dan dipastikan tidak mengganggu kebutuhan masyarakat serta fungsi lingkungan di sekitarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri pada 2 Oktober 2026 menyatakan bahwa kebutuhan air untuk proyek tersebut dapat berasal dari alokasi air Waduk Jatiluhur yang diperuntukkan bagi PDAM Purwakarta. Pemerintah daerah menyebut alokasi PDAM sebesar 3.000 liter per detik, sementara pemanfaatannya saat ini disebut sekitar 380 liter per detik. PPID Jabar
Di sisi lain, IESR meminta agar kajian dampak lingkungan dan sosial terkait penggunaan air dipublikasikan sebelum pembangunan dilanjutkan. Lembaga tersebut juga mendorong adanya standar data center yang memperhatikan penggunaan air dan sumber daya lainnya. IESR
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan air tidak cukup dibahas hanya berdasarkan satu angka.
Diperlukan data yang transparan mengenai dari mana air berasal, berapa banyak yang diambil, berapa banyak yang dikonsumsi, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kebutuhan lain.
Tidak Semua Data Center Memiliki Dampak yang Sama
Penting juga untuk tidak menyamaratakan seluruh data center. Setiap fasilitas dapat menggunakan teknologi pendinginan yang berbeda. Data center yang menggunakan sistem pendinginan dengan konsumsi air rendah tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan fasilitas yang menggunakan sistem evaporatif.
Kondisi geografis juga berpengaruh.
Data center yang dibangun di wilayah dengan ketersediaan air terbatas menghadapi persoalan yang berbeda dengan fasilitas di wilayah yang memiliki sumber air lebih besar.
The Jakarta Post pada April 2026 melaporkan bahwa kebutuhan air data center di Indonesia dipengaruhi oleh teknologi pendinginan. Laporan tersebut juga menyebut kawasan Jabodetabek dan Batam sebagai wilayah yang mengalami perkembangan data center sekaligus menghadapi persoalan ketersediaan air. The Jakarta Post
Karena itu, pembangunan infrastruktur AI membutuhkan perencanaan yang tidak hanya melihat kapasitas server. Lokasi dan sumber daya di sekitarnya juga perlu diperhitungkan.
Teknologi AI Perlu Diikuti Teknologi yang Lebih Efisien
Pertumbuhan AI tidak harus selalu berarti penggunaan air yang semakin besar. Perkembangan teknologi pendinginan dapat menjadi salah satu bagian dari solusi. Data center dapat menggunakan sistem yang lebih hemat air, termasuk teknologi pendinginan udara maupun sistem sirkulasi tertutup.
Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dalam Green Data Center White Paper juga memasukkan pengurangan konsumsi air untuk kebutuhan pendinginan sebagai salah satu aspek dalam konsep data center hijau. IDPro
Artinya, perkembangan AI seharusnya berjalan bersamaan dengan perkembangan teknologi infrastrukturnya.
Bukan hanya server yang semakin canggih, tetapi sistem pendinginan, pengelolaan energi, dan penggunaan air juga perlu semakin efisien.
Jangan Sampai AI Hanya Dilihat dari Layarnya
Pengguna AI biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Kita mengetik pertanyaan, kemudian mendapatkan jawaban.
Kita memasukkan perintah untuk membuat gambar, kemudian gambar muncul.
Proses tersebut terasa sederhana karena seluruh pekerjaan berat berlangsung di belakang layar.
Padahal, di balik satu layanan AI terdapat rangkaian infrastruktur yang membutuhkan listrik, jaringan, server, sistem pendinginan, lahan, dan dalam kondisi tertentu, air.
Karena itu, ketika Indonesia semakin serius membangun infrastruktur AI, pembahasannya tidak cukup berhenti pada seberapa besar investasi atau seberapa cepat teknologi tersebut berkembang.
Kita juga perlu bertanya: sumber daya apa yang dibutuhkan untuk menjalankannya? Air adalah salah satunya.
AI dan Air Bersih Harus Dibicarakan Bersamaan
Perkembangan AI memberikan banyak peluang. Namun, pembangunan infrastrukturnya tetap membutuhkan sumber daya yang nyata.
Kasus Jatiluhur menjadi salah satu contoh bahwa kebutuhan infrastruktur digital dapat bersinggungan langsung dengan sumber daya air dan kepentingan masyarakat.
Bukan berarti perkembangan AI harus dihentikan.
Sebaliknya, perkembangan tersebut perlu dibarengi dengan perencanaan yang mempertimbangkan kebutuhan teknologi sekaligus kondisi lingkungan. Sebab, kecanggihan teknologi tidak hanya diukur dari seberapa cepat sebuah AI memberikan jawaban.
Teknologi yang semakin maju juga perlu semakin bijak dalam menggunakan sumber daya yang menopangnya. Dan ketika sumber daya tersebut adalah air, sesuatu yang dibutuhkan semua orang, pembahasannya tentu tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknologi semata.
