Konten dari Pengguna

Listrik Gratis dari Matahari, Benarkah?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Matahari terbit hampir setiap hari. Cahayanya bisa dirasakan siapa saja, tetapi pernahkah kita berpikir bahwa cahaya tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik?

generated by ai Gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai Gemini

Teknologi yang memungkinkan hal itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan energi surya di Indonesia semakin banyak dibicarakan. Bahkan pada Agustus 2026, pemerintah resmi memulai Program PLTS 100 GWp yang mencakup berbagai proyek di sejumlah wilayah Indonesia. Program tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Salah satu bentuk PLTS yang cukup dekat dengan masyarakat adalah PLTS atap. Lalu, apakah benar memasang panel surya di atap rumah bisa membuat listrik menjadi gratis?

Panel Surya Mengubah Cahaya Menjadi Listrik

Cara kerja PLTS cukup menarik. Panel surya terdiri dari sejumlah sel fotovoltaik yang dapat mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Listrik yang dihasilkan panel kemudian dialirkan ke inverter untuk diubah menjadi listrik yang sesuai dengan kebutuhan peralatan rumah.

Jadi, ketika matahari bersinar, panel surya dapat menghasilkan listrik yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. PLTS tidak otomatis membuat listrik di rumah menjadi gratis.

Kalau Begitu, Apa yang Bisa Dihemat?

PLTS atap dapat membantu mengurangi listrik yang harus diambil dari jaringan PLN karena sebagian kebutuhan listrik rumah dapat dipenuhi oleh energi yang dihasilkan panel surya.

Misalnya, pada siang hari panel surya menghasilkan listrik dan rumah sedang menggunakan kulkas, televisi, pompa air, atau perangkat elektronik lainnya. Energi dari panel dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan tersebut.

Semakin banyak kebutuhan listrik yang dapat dipenuhi langsung oleh PLTS, semakin sedikit energi yang perlu diambil dari jaringan.

Kementerian ESDM sendiri menjelaskan bahwa salah satu tujuan penggunaan PLTS atap adalah menghemat tagihan listrik pelanggan, selain memanfaatkan energi terbarukan dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.

Namun, jumlah penghematan tentu berbeda untuk setiap rumah.

Kenapa Tidak Bisa 24 Jam?

Masalah utama PLTS adalah matahari tidak bersinar sepanjang waktu. Pada malam hari, panel surya tidak menghasilkan listrik. Saat cuaca mendung atau hujan, produksinya juga dapat berubah.

Karena itu, rumah yang menggunakan PLTS atap tetap membutuhkan sumber listrik lain, terutama jika tidak memiliki sistem penyimpanan energi seperti baterai.

Di sinilah banyak orang terkadang salah memahami konsep PLTS. Memasang panel surya bukan berarti rumah otomatis terlepas dari jaringan PLN.

Justru dalam sistem PLTS atap yang terhubung dengan jaringan, PLN tetap memiliki peran ketika energi dari panel tidak mencukupi.

Bagaimana dengan Listrik yang Berlebih?

Misalnya pada siang hari panel menghasilkan listrik cukup banyak, sementara konsumsi rumah sedang rendah. Dulu, mekanisme ekspor-impor energi memungkinkan kelebihan energi yang dikirim ke jaringan diperhitungkan dalam tagihan pelanggan. Namun, aturan tersebut berubah.

Melalui Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024, mekanisme ekspor-impor listrik PLTS atap ditiadakan. Artinya, energi listrik berlebih dari sistem PLTS atap yang disalurkan ke jaringan PLN tidak diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik.

Karena itu, pemilik PLTS perlu memperhatikan pola konsumsi listriknya. Listrik yang dihasilkan akan lebih optimal jika dapat langsung digunakan pada saat panel surya sedang menghasilkan energi.

Indonesia Punya Potensi Besar

Indonesia berada di wilayah tropis dan mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan energi surya terus dikembangkan.

Data Direktorat Jenderal EBTKE menunjukkan bahwa hingga April 2026 kapasitas PLTS nasional tercatat sekitar 510,57 MW, sementara PLTS atap mencapai sekitar 916,99 MW dalam statistik kapasitas yang ditampilkan Ditjen EBTKE.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan energi surya sudah mulai berkembang dalam berbagai bentuk.

Pada sektor industri, misalnya, empat pabrik tekstil yang tergabung dalam Argo Manunggal Group mengembangkan PLTS atap dengan total kapasitas 4.463 kWp pada 2026 untuk mendukung efisiensi operasional.

Artinya, PLTS bukan hanya untuk rumah tapi juga untuk atap pabrik, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, hingga bangunan lainnya juga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pemasangan panel surya.

Ada Tantangan yang Harus Dipikirkan

Meski terlihat sederhana, pemasangan PLTS atap tetap membutuhkan perencanaan. Pertama adalah kondisi atap. Tidak semua atap memiliki luas, posisi, dan struktur yang sesuai.

Kedua adalah kebutuhan listrik. Rumah dengan konsumsi listrik tinggi mungkin membutuhkan sistem dengan kapasitas lebih besar.

Ketiga adalah biaya awal. Panel surya, inverter, struktur pemasangan, instalasi, dan komponen pendukung lainnya membutuhkan investasi di awal. Karena itu, seseorang tidak cukup hanya melihat harga panel, tetapi perlu menghitung keseluruhan sistem dan pola penggunaan listriknya.

Selain itu, pemasangan PLTS atap yang terhubung dengan jaringan PLN juga mengikuti ketentuan dan kuota pengembangan yang telah ditetapkan.

Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024 mengatur bahwa kapasitas pemasangan tidak lagi dibatasi berdasarkan 100 persen daya tersambung seperti aturan sebelumnya, tetapi mengikuti ketersediaan kuota yang ditetapkan.

Apakah PLTS Layak untuk Semua Rumah?

tidak bisa disamaratakan. Setiap rumah memiliki kondisi berbeda. Ada rumah yang memiliki atap luas dan mendapatkan sinar matahari yang baik. Ada juga rumah yang sebagian besar atapnya tertutup bayangan bangunan atau pohon.

Pola penggunaan listrik juga berbeda. Rumah yang banyak menggunakan listrik pada siang hari memiliki pola konsumsi yang berbeda dengan rumah yang sebagian besar penghuninya beraktivitas di luar dan baru menggunakan banyak peralatan pada malam hari.

Karena itu, sebelum memasang PLTS, perlu dilakukan perhitungan kebutuhan energi dan potensi produksi listrik. Dengan begitu, sistem yang dipasang tidak hanya terlihat menarik dari luar, tetapi juga benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Jadi, Benarkah Listrik dari Matahari Gratis?

mataharinya memang gratis, tetapi sistem untuk mengubah sinarnya menjadi listrik tidak gratis. Panel surya membutuhkan investasi, instalasi, inverter, perawatan, dan perencanaan yang tepat.

Namun, setelah sistem terpasang, energi matahari yang digunakan untuk menghasilkan listrik tidak perlu dibeli seperti bahan bakar. Inilah yang membuat energi surya menarik untuk terus dikembangkan.

Apalagi pemerintah pada 2026 mulai mendorong Program PLTS 100 GWp, sementara pembahasan mengenai pemanfaatan atap sebagai lokasi PLTS juga kembali muncul. Pada September 2026, misalnya, terdapat usulan pemberian insentif untuk mendorong pemasangan PLTS atap di rumah, gedung komersial, kawasan industri, dan hotel.

Pada akhirnya, energi matahari bukan sekadar sesuatu yang kita lihat setiap pagi. Dengan teknologi yang tepat, cahaya tersebut dapat berubah menjadi energi listrik yang membantu memenuhi kebutuhan manusia.

Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Apakah matahari bisa menghasilkan listrik?” Tetapi “Seberapa banyak energi matahari yang bisa kita manfaatkan?”