Konten dari Pengguna

Makin Canggih Artificial Intelligence (AI), Makin Besar Kebutuhan Listriknya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membicarakan artificial intelligence atau AI, hal yang biasanya muncul di pikiran adalah chatbot, gambar yang dibuat dalam hitungan detik, atau aplikasi yang bisa membantu mengerjakan berbagai pekerjaan. Namun, ada satu bagian dari perkembangan AI yang sering luput dari perhatian yaitu listrik.

generated by ai Gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai Gemini

Di balik satu pertanyaan yang kita kirimkan kepada AI, terdapat sistem komputer dengan server berkemampuan tinggi yang bekerja untuk memproses permintaan tersebut. Semakin besar penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi.

Artinya, perkembangan AI ternyata tidak hanya menjadi persoalan teknologi digital. Di belakangnya terdapat persoalan lain yang sangat dekat dengan bidang Teknik Elektro: bagaimana menyediakan listrik yang cukup, stabil, dan efisien?

AI Tidak Hanya Membutuhkan Internet

Selama ini kita mungkin menganggap bahwa menggunakan AI hanya membutuhkan koneksi internet dan sebuah perangkat seperti laptop atau smartphone.

Padahal, proses komputasi sebenarnya berlangsung di pusat data atau data center. Di dalam data center terdapat ribuan perangkat komputer dan server yang bekerja secara terus-menerus.

Perangkat tersebut membutuhkan listrik untuk beroperasi dan menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan.

Semakin besar kapasitas komputasi yang digunakan, semakin besar pula tantangan untuk menyediakan energi dan sistem pendinginnya.

Hal tersebut mulai terlihat di Indonesia.

Pada September 2026, pembangunan AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur, Purwakarta, dimulai dengan kapasitas yang dirancang mencapai 640 MW. Tahap pertama sebesar 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Proyek tersebut juga didukung kapasitas jaringan PLN sebesar 845 MVA.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur AI bukan lagi sekadar persoalan komputer dan software. AI juga membutuhkan infrastruktur energi dalam skala besar.

Lalu, Apakah Listrik Kita Sudah Siap?

Pertumbuhan data center membuat kebutuhan listrik menjadi perhatian penting.

Menurut proyeksi yang dikutip APTIKNAS berdasarkan RUPTL PLN 2025–2034, kebutuhan listrik data center diperkirakan meningkat dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026 dan 5.226 MW pada 2034.

Ini bukan berarti seluruh angka tersebut hanya disebabkan oleh AI. Data center digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti cloud computing, penyimpanan data, layanan digital, streaming, aplikasi, hingga AI.

Namun, perkembangan AI generatif dan meningkatnya penggunaan komputasi berkapasitas tinggi membuat kebutuhan terhadap data center semakin penting. Di sinilah sistem kelistrikan menghadapi tantangan baru.

Bukan hanya soal berapa banyak listrik yang dapat diproduksi, tetapi juga bagaimana listrik tersebut dapat disalurkan secara stabil ke lokasi yang membutuhkan daya besar.

Bukan Cuma Listrik, Server Juga Harus Didinginkan

Ada hal menarik lainnya yaitu server menghasilkan panas ketika bekerja.

Bayangkan jika ribuan server beroperasi secara bersamaan. Tanpa sistem pendinginan yang baik, temperatur perangkat dapat meningkat dan memengaruhi performa maupun keandalannya.

Karena itu, data center membutuhkan sistem cooling yang bekerja terus-menerus. Beberapa teknologi bahkan mulai menggunakan metode pendinginan yang lebih khusus untuk menangani perangkat dengan kepadatan komputasi tinggi.

Dalam pembangunan AI Campus 2 di Jatiluhur, misalnya, fasilitas tersebut dirancang menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling untuk menangani kepadatan hingga 500 kW per rack.

Jadi, ketika kita menggunakan AI hanya dalam beberapa detik, sebenarnya terdapat sistem kelistrikan dan pendinginan yang bekerja di belakang layar.

AI dan Energi Bersih Mulai Bertemu

Pertumbuhan kebutuhan listrik juga membuat pembicaraan mengenai energi bersih semakin relevan.

Dalam Electricity Connect 2026 di Indonesia, berbagai solusi yang berkaitan dengan digitalisasi dan energi hijau turut diperkenalkan, termasuk panel surya, inverter, home charging, Smart PJU, dan sistem manajemen energi. inilah.com

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital dan transisi energi tidak lagi berjalan sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah.

Justru keduanya mulai bertemu.

Kita membutuhkan lebih banyak komputasi untuk menjalankan teknologi digital, tetapi pada saat yang sama perlu memikirkan bagaimana energi yang digunakan dapat dikelola secara efisien.

Apakah AI Berarti Kita Akan Kehabisan Listrik?

Belum tentu. Pertumbuhan kebutuhan listrik tidak secara otomatis berarti Indonesia akan mengalami kekurangan listrik.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana pertumbuhan permintaan tersebut diimbangi dengan kapasitas pembangkitan, jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi, efisiensi, serta pengelolaan beban yang tepat.

Perkembangan teknologi justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih cerdas. Misalnya dengan memanfaatkan sensor, IoT, AI, smart grid, dan sistem monitoring untuk mengetahui kapan dan di mana energi digunakan.

Jadi, AI bukan hanya teknologi yang membutuhkan listrik dan AI juga berpotensi membantu manusia mengelola listrik dengan lebih cerdas.

Masa Depan AI Ternyata Juga Bergantung pada Listrik

Kita sering membayangkan masa depan AI sebagai sesuatu yang penuh dengan robot, kendaraan otonom, dan perangkat pintar. Namun ada sesuatu yang jauh lebih mendasar di balik semua itu yaitu Energi.

Tanpa listrik yang cukup dan stabil, server tidak dapat bekerja. Tanpa server, AI tidak dapat memproses informasi. Dan tanpa sistem kelistrikan serta pendinginan yang andal, infrastruktur digital dalam skala besar akan menghadapi keterbatasan.

Karena itu, ketika AI semakin berkembang, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya:

“Seberapa pintar AI berikutnya?”

Tetapi juga:

“Seberapa siap infrastruktur energi kita untuk menjalankannya?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia mulai memasuki era di mana AI, data center, energi, dan sistem kelistrikan semakin terhubung satu sama lain.