Konten dari Pengguna

Mematikan Lampu Saat Keluar Ruangan, Bisa Menghemat Listrik?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Matikan lampunya kalau keluar!"

Kalimat seperti ini mungkin sudah sering kita dengar sejak kecil. Entah dari orang tua, guru, teman sekamar, atau bahkan dari diri sendiri ketika melihat lampu menyala di ruangan yang sedang kosong.

generated by ai gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai gemini

Kebiasaan tersebut memang terdengar sederhana. Namun, apakah benar mematikan lampu saat meninggalkan ruangan bisa membantu menghemat listrik? Jawabannya, iya.

Besarnya energi yang bisa dihemat memang bergantung pada beberapa hal, seperti daya lampu, jenis lampu, dan berapa lama lampu tersebut dibiarkan menyala.

Lampu Menyala, Energi Listrik Tetap Digunakan

Secara sederhana, lampu membutuhkan energi listrik untuk menghasilkan cahaya. Selama lampu menyala, listrik terus digunakan. Ketika lampu dimatikan, konsumsi listrik dari lampu tersebut juga berhenti. Karena itu, mematikan lampu ketika tidak dibutuhkan menjadi salah satu kebiasaan sederhana dalam penggunaan energi yang lebih efisien.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mendorong masyarakat untuk mematikan lampu dan peralatan listrik yang tidak digunakan sebagai bagian dari upaya penghematan energi.

Jadi, kebiasaan yang terlihat sepele ini memang memiliki dasar yang cukup sederhana: kalau tidak dibutuhkan, tidak perlu terus menggunakan listrik.

Lampu LED Tetap Menggunakan Listrik

Lalu bagaimana dengan lampu LED yang dikenal hemat energi?

Lampu LED memang memiliki efisiensi yang lebih baik dibandingkan lampu pijar. Namun, istilah "hemat" bukan berarti lampu tersebut tidak menggunakan listrik.

Misalnya, sebuah lampu LED memiliki daya 10 watt dan digunakan selama 10 jam. Energi yang digunakan secara sederhana dapat dihitung sebagai berikut:

10 watt × 10 jam = 100 Wh atau 0,1 kWh.

Jika lampu tersebut sebenarnya tidak diperlukan tetapi tetap menyala selama 10 jam, energi sebesar itu tetap digunakan. Karena itu, penggunaan lampu yang efisien tetap perlu dibarengi dengan kebiasaan menggunakan lampu sesuai kebutuhan.

Kalau Keluar Sebentar, Perlu Mematikan Lampu?

Tidak semua kondisi harus diperlakukan sama. Jika hanya meninggalkan ruangan selama beberapa detik atau sebentar, energi yang dapat dihemat tentu relatif kecil. Namun, jika ruangan akan ditinggalkan selama beberapa jam, mematikan lampu menjadi langkah yang lebih berarti.

Misalnya, kita pergi kuliah selama lima jam dan lupa mematikan lampu kamar. Selama lima jam tersebut, lampu tetap menggunakan energi meskipun tidak ada orang di dalam ruangan.

Kementerian ESDM juga terus mendorong kebiasaan mematikan lampu ketika tidak digunakan sebagai bagian dari penggunaan energi yang lebih efisien.

Dengan demikian, yang perlu dibangun bukan sekadar kebiasaan mematikan lampu, tetapi kebiasaan menggunakan energi ketika memang diperlukan.

Coba Hitung dari Satu Rumah

Bayangkan sebuah rumah memiliki lima lampu LED dengan daya masing-masing 10 watt. Jika kelima lampu tersebut tidak diperlukan tetapi dibiarkan menyala selama lima jam, energi yang digunakan adalah:

5 × 10 watt × 5 jam = 250 Wh atau 0,25 kWh.

Angka tersebut memang terlihat kecil. Namun, jika kondisi yang sama terjadi setiap hari selama 30 hari, konsumsi energinya menjadi:

0,25 kWh × 30 = 7,5 kWh per bulan.

Perhitungan ini hanya contoh sederhana. Besarnya konsumsi listrik sebenarnya tentu bergantung pada jumlah lampu, daya masing-masing lampu, dan lama pemakaian.

Selain lampu, rumah juga memiliki berbagai perangkat lain seperti televisi, AC, kulkas, pompa air, komputer, dan peralatan elektronik lainnya.

Dari sini terlihat bahwa efisiensi energi tidak selalu tentang satu perangkat yang menggunakan listrik dalam jumlah besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang juga perlu diperhatikan.

Cahaya Matahari Bisa Dimanfaatkan

Menghemat listrik juga tidak selalu berarti membeli teknologi baru.

Pada siang hari, misalnya, kita bisa memanfaatkan cahaya matahari jika pencahayaan alami sudah cukup untuk menerangi ruangan. Membuka tirai atau jendela dapat mengurangi kebutuhan penggunaan lampu pada siang hari. Kementerian ESDM juga mendorong pemanfaatan cahaya alami ketika pencahayaan ruangan sudah mencukupi.

Artinya, penghematan energi bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana. Tidak selalu membutuhkan perangkat mahal. Terkadang, cukup dengan mengubah kebiasaan.

Teknologi Bisa Membuat Lampu Lebih Pintar

Menariknya saat ini, kebiasaan mematikan lampu tidak harus selalu dilakukan secara manual.

Dalam bidang Teknik Elektro dan otomatisasi, terdapat teknologi seperti motion sensor dan occupancy sensor yang dapat mendeteksi keberadaan seseorang di dalam ruangan.

Ketika ruangan tidak digunakan, sistem dapat dirancang untuk mematikan lampu secara otomatis ada juga lux sensor yang dapat mendeteksi tingkat pencahayaan. Jika cahaya alami sudah cukup terang, sistem dapat mengurangi atau mematikan pencahayaan buatan.

Teknologi semacam ini telah digunakan dalam konsep bangunan hemat energi. Kementerian ESDM, misalnya, pernah menjelaskan penggunaan lux sensor dan motion sensor untuk membantu mengurangi penggunaan energi pada sistem pencahayaan gedung.

Dari sini kita bisa melihat bahwa konsep Teknik Elektro sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lampu yang biasanya hanya kita nyalakan dan matikan dengan sakelar ternyata bisa dikembangkan menjadi bagian dari sistem otomatis.

Jadi, Benarkah Mematikan Lampu Bisa Menghemat Listrik?

Jawabannya tetap iya. Ketika lampu dimatikan, lampu tersebut tidak lagi menggunakan energi listrik. Jika sebuah ruangan tidak digunakan dalam waktu lama, mematikan lampu dapat menghindari penggunaan energi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Namun, penghematan listrik bukan hanya tentang mematikan lampu. Kita juga bisa membiasakan diri memeriksa perangkat listrik sebelum meninggalkan rumah, menggunakan cahaya alami ketika memungkinkan, dan memilih peralatan yang lebih efisien.

Jika ingin melangkah lebih jauh, teknologi seperti sensor gerak dan sensor cahaya juga dapat membantu mengatur penggunaan lampu secara otomatis.

Pada akhirnya, hemat energi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Bisa jadi, semuanya dimulai dari satu hal sederhana: menekan sakelar sebelum meninggalkan ruangan.