Konten dari Pengguna

Tanpa Sensor, Teknologi Pintar Bisa Apa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mungkin tidak sadar bahwa banyak teknologi yang digunakan setiap hari sebenarnya bekerja dengan bantuan sensor. Ketika layar ponsel mati saat ditempelkan ke telinga, lampu otomatis menyala ketika ruangan gelap, smartwatch membaca detak jantung, atau kendaraan mengetahui adanya objek di sekitarnya, ada sensor yang bekerja di baliknya.

generated by ai Gemini
zoom-in-whitePerbesar
generated by ai Gemini

Sensor dapat diibaratkan sebagai “indra” bagi sebuah perangkat. Kalau manusia menggunakan mata, telinga, kulit, dan hidung untuk mengenali kondisi di sekitar, perangkat elektronik menggunakan sensor untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan.

Karena itu, semakin berkembang teknologi pintar, semakin penting pula peran sensor. Pada 2026, perkembangan ini bahkan mulai bergerak ke arah yang lebih jauh: sensor tidak hanya mengumpulkan data, tetapi datanya dapat langsung diproses oleh perangkat menggunakan kecerdasan buatan atau AI.

Dari Sensor Sederhana hingga Teknologi Pintar

Pada dasarnya, sensor merupakan komponen yang mendeteksi perubahan tertentu dan mengubahnya menjadi informasi yang dapat diproses oleh sistem.

Contohnya adalah sensor cahaya yang dapat mengetahui kondisi terang atau gelap. Ada juga sensor suhu untuk mengetahui temperatur, sensor gerak untuk mendeteksi pergerakan, sensor tekanan, sensor kelembapan, hingga sensor percepatan yang banyak ditemukan pada perangkat elektronik.

Dalam kehidupan sehari-hari, sensor mungkin bekerja tanpa pernah kita sadari. Misalnya, Smartphone memiliki berbagai sensor seperti accelerometer dan gyroscope yang membantu perangkat mengetahui perubahan posisi dan gerakan. Teknologi wearable juga memanfaatkan sensor untuk mengumpulkan informasi terkait aktivitas pengguna.

Artinya, sebuah perangkat tidak benar-benar “pintar” hanya karena memiliki prosesor atau aplikasi. Perangkat membutuhkan data agar dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Dan salah satu sumber utama data tersebut adalah sensor.

Sensor Menjadi Semakin Kecil

Perkembangan teknologi sensor juga tidak berhenti pada fungsi. Ukurannya semakin kecil, sementara kemampuannya semakin meningkat.

Salah satu teknologi penting di balik perkembangan tersebut adalah MEMS atau Micro-Electro-Mechanical Systems. Teknologi ini memungkinkan komponen mekanis dan elektronik dibuat dalam ukuran yang sangat kecil.

Di Indonesia sendiri, pasar MEMS diperkirakan bernilai sekitar US$120,2 juta pada 2025 dan diproyeksikan mencapai US$147,4 juta pada 2030, dengan pertumbuhan rata-rata 4,2 persen per tahun. Perkembangannya didorong antara lain oleh penggunaan pada perangkat elektronik konsumen, otomotif, dan perangkat IoT.

Semakin kecil sensor, semakin mudah pula sensor tersebut ditempatkan di berbagai perangkat Inilah salah satu alasan mengapa teknologi pintar sekarang bisa hadir dalam bentuk yang semakin kecil. Sensor tidak harus berupa perangkat besar. Komponen yang sangat kecil pun dapat menjadi bagian penting dari sebuah sistem.

Sensor Tidak Lagi Hanya Mengumpulkan Data

Perubahan menarik terjadi ketika sensor mulai dipadukan dengan AI dan teknologi edge computing. Sebelumnya, sebuah perangkat mungkin hanya membaca data dari sensor kemudian mengirimkannya ke server. Sistem di server kemudian memproses data tersebut dan memberikan respons.

Sekarang, sebagian proses dapat dilakukan langsung di perangkat atau di dekat sumber data.

International Telecommunication Union (ITU) pada Juni 2026 bahkan menerbitkan rekomendasi mengenai AIoT atau Artificial Intelligence of Things. Konsep ini menggabungkan AI, data, dan IoT sehingga perangkat dapat melakukan pemrosesan dan pengambilan keputusan secara lebih dekat dengan sumber data.

Contohnya sederhana. Bayangkan sebuah kamera keamanan yang memiliki kemampuan AI. Kamera tidak hanya merekam gambar, tetapi dapat menganalisis apakah yang muncul di depannya adalah manusia, kendaraan, atau objek lain.

Sensor dan kamera menyediakan data. AI kemudian membantu memahami data tersebut. Dengan cara seperti ini, teknologi tidak sekadar “merasakan” kondisi lingkungan, tetapi mulai mampu memberikan respons berdasarkan informasi yang diterimanya.

Contohnya Sudah Ada di Indonesia

Perkembangan teknologi sensor juga terlihat pada penelitian dan inovasi di Indonesia.

Pada April 2026, BRIN mengembangkan Water Quality Monitoring System atau WQMS untuk memantau kualitas air di kawasan Waduk Cirata secara real-time. Sistem tersebut menggunakan sensor dan IoT untuk memantau beberapa parameter seperti pH, suhu, konduktivitas, dan dissolved oxygen atau oksigen terlarut. Data kemudian dikirim ke server sehingga dapat dipantau dari komputer maupun perangkat seluler.

Contoh lainnya datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Pada Oktober 2026, ITS memperkenalkan BMSense, sebuah baterai cerdas yang menggabungkan Battery Management System, mikrokontroler, sensor, dan IoT. Sistem tersebut dapat memantau tegangan setiap sel, arus, suhu, hingga kondisi baterai secara real-time.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa sensor tidak hanya digunakan untuk perangkat konsumen seperti smartphone atau smartwatch. Sensor juga mulai digunakan untuk kebutuhan lingkungan, energi, industri, hingga infrastruktur.

Kalau Tanpa Sensor, Apa yang Terjadi?

Pertanyaan sederhananya kemudian muncul: bagaimana jika teknologi pintar tidak memiliki sensor? Jawabannya, perangkat akan kehilangan salah satu sumber informasi terpenting mengenai kondisi di sekitarnya.

Sebuah lampu otomatis, misalnya, membutuhkan informasi mengenai kondisi pencahayaan jika ingin menentukan kapan harus menyala atau mati. Sistem pendingin ruangan membutuhkan informasi suhu untuk menentukan apakah ruangan terlalu panas atau sudah mencapai temperatur yang diinginkan.

Begitu pula dengan sistem keamanan. Tanpa informasi dari kamera, sensor gerak, atau sensor lainnya, sistem akan kesulitan mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Karena itu, sensor dapat dianggap sebagai bagian yang membuat perangkat “sadar” terhadap lingkungan.

Tantangannya Bukan Hanya Membuat Sensor

Meskipun sensor semakin canggih, bukan berarti semakin banyak sensor otomatis membuat sebuah perangkat semakin pintar. Data yang dikumpulkan harus akurat dan dapat diproses dengan baik.

Sensor yang menghasilkan data keliru dapat menyebabkan sistem mengambil keputusan yang salah. Pada sistem sederhana, kesalahan tersebut mungkin hanya membuat lampu terlambat menyala.

Namun pada sistem yang lebih penting, seperti pemantauan kualitas air, baterai, kendaraan, atau industri, kesalahan data dapat memiliki dampak yang lebih besar.

Selain itu, semakin banyak perangkat yang terhubung berarti semakin banyak pula data yang harus dikelola. Masalah keamanan dan privasi juga ikut muncul.

Karena itu, perkembangan teknologi sensor pada 2026 tidak hanya berbicara mengenai membuat sensor semakin kecil atau sensitif. Sistem juga harus mampu mengelola data, melakukan pemrosesan dengan cepat, menjaga keamanan, dan menentukan informasi mana yang memang perlu dikirim ke cloud.

Masa Depan Teknologi Bukan Sekadar “Lebih Pintar”

Perkembangan sensor menunjukkan bahwa masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat prosesor atau seberapa canggih AI yang digunakan.

AI membutuhkan data. IoT membutuhkan perangkat yang dapat merasakan kondisi lingkungan. Dan sensor menjadi salah satu bagian penting yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia digital.

Karena itu, ketika melihat lampu otomatis, smartwatch, kendaraan listrik, robot, atau perangkat smart home, sebenarnya ada proses panjang yang terjadi di balik layar.

Perangkat tersebut harus terlebih dahulu mengetahui apa yang terjadi di situlah sensor bekerja.

Mungkin kita jarang melihatnya karena ukurannya kecil dan tersembunyi di dalam perangkat. Namun tanpa sensor, banyak teknologi yang kita sebut “pintar” mungkin tidak akan sepintar sekarang.

Pada akhirnya, teknologi masa depan bukan hanya tentang membuat mesin bisa berpikir. Sebelum bisa berpikir dan mengambil keputusan, mesin harus memiliki cara untuk merasakan dan memahami dunia di sekitarnya dan sensor adalah salah satu pintu masuknya.