Viral Belum Tentu Benar: Jangan Sampai Jempol Lebih Cepat dari Pikiran
Tulisan dari Riky Rifai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap hari, media sosial membuat kita bertemu dengan informasi baru. Sebagian berupa berita, sebagian lagi video pendek, potongan percakapan, foto, atau unggahan yang tiba-tiba menjadi viral.

Kadang kita bahkan melihat informasi yang sama berkali-kali dalam satu hari. Pertanyaannya, apakah sesuatu yang sering muncul berarti benar? Belum tentu.
Sebuah informasi bisa menjadi viral karena banyak orang membagikannya. Namun, jumlah orang yang membagikan sebuah unggahan tidak otomatis membuktikan bahwa isinya akurat.
Justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Kenapa Informasi yang Diulang Terasa Lebih Benar?
Ada alasan psikologis mengapa informasi yang sering kita lihat bisa terasa semakin meyakinkan.
Fenomena ini dikenal sebagai illusory truth effect. Secara sederhana, seseorang dapat lebih mudah menerima sebuah pernyataan sebagai benar ketika pernyataan tersebut sudah pernah didengar atau dilihat sebelumnya.
Artinya, pengulangan dapat membuat sebuah informasi terasa familiar. Masalahnya, familiar tidak sama dengan benar. Sebuah informasi yang salah tetap bisa muncul berkali-kali jika banyak orang terus membagikannya.
Karena itu, ketika sebuah unggahan muncul di TikTok, Instagram, X, Facebook, dan grup WhatsApp secara bersamaan, kita tetap perlu membedakan antara seberapa sering informasi tersebut muncul dan seberapa kuat bukti yang mendukungnya.
Emosi Bisa Membuat Kita Lebih Cepat Bereaksi
Selain pengulangan, cara sebuah informasi disampaikan juga berpengaruh. Konten yang membuat kita terkejut, takut, marah, atau penasaran biasanya lebih mudah menarik perhatian.
Misalnya, sebuah unggahan menggunakan kalimat:
"Sebarkan sekarang sebelum dihapus!"
Kalimat seperti itu dapat membuat seseorang merasa harus segera membagikannya. Padahal, justru ketika sebuah informasi mendorong kita untuk bereaksi dengan cepat, ada baiknya kita berhenti sebentar dan memeriksanya.
Bukan berarti semua informasi yang membangkitkan emosi adalah informasi palsu. Namun, emosi yang kuat dapat membuat kita lebih mudah bereaksi sebelum memeriksa isi informasi secara lengkap.
Satu Video Tidak Selalu Menceritakan Seluruh Kejadian
Masalah lain yang sering muncul adalah konteks. Kita mungkin melihat video berdurasi 20 detik dan merasa sudah mengetahui apa yang terjadi.
Padahal, kejadian sebenarnya mungkin berlangsung selama beberapa menit atau bahkan lebih lama. Potongan video juga bisa diberi keterangan baru ketika dibagikan oleh akun lain. Akibatnya, orang yang melihat unggahan terakhir belum tentu mengetahui konteks aslinya.
Hal yang sama dapat terjadi pada foto.
Sebuah foto lama bisa kembali beredar dan dikaitkan dengan peristiwa baru. Jika hanya melihat gambarnya tanpa mencari informasi tambahan, kita bisa saja menarik kesimpulan yang keliru.
Karena itu, saat menemukan konten yang viral, beberapa pertanyaan sederhana bisa membantu:
Siapa yang pertama kali mengunggahnya?
Kapan dan di mana kejadian tersebut berlangsung?
Apakah ada versi video atau informasi yang lebih lengkap?
Apakah media atau sumber lain melaporkan hal yang sama?
Viral Bukan Berarti Hoaks
Di sisi lain, kita juga tidak perlu menganggap semua informasi viral sebagai berita palsu. Informasi yang benar juga bisa menjadi viral.
Sebuah berita penting, penemuan ilmiah, pengumuman resmi, atau kejadian besar bisa mendapatkan perhatian luas karena memang memiliki nilai informasi.
Jadi, persoalannya bukan apakah sebuah informasi viral atau tidak. Yang perlu diperiksa adalah sumber dan bukti di balik informasi tersebut. Kita juga perlu berhati-hati dengan pola berpikir yang terlalu sederhana: "viral berarti benar" ataupun "viral berarti hoaks."
Keduanya sama-sama bisa membuat kita mengambil kesimpulan sebelum memeriksa fakta.
Sebelum Menekan Tombol Bagikan
Kita sebenarnya tidak perlu menjadi ahli untuk melakukan pemeriksaan sederhana terhadap sebuah informasi.
Kita bisa mulai dengan empat langkah sederhana, kita bisa menggunakan empat tahap sederhana: STOP.
S — Stop
Berhenti sebentar sebelum langsung membagikan informasi.
T — Telusuri
Cari sumber awalnya. Jangan hanya membaca caption dari akun yang mengunggah ulang.
O — Observasi
Perhatikan tanggal, lokasi, judul, foto, video, dan konteksnya.
P — Periksa
Bandingkan informasi tersebut dengan sumber lain yang kredibel.
Langkah ini memang sederhana. Tetapi dibandingkan langsung menekan tombol "bagikan," meluangkan beberapa menit untuk memeriksa informasi bisa membantu mengurangi kesalahan penyebaran informasi.
Jangan Biarkan Jempol Lebih Cepat dari Pikiran
Kecepatan menjadi salah satu karakter utama media sosial. Sebuah informasi yang baru muncul beberapa menit lalu bisa segera menyebar ke ribuan orang.
Namun, kita tidak harus selalu menjadi orang pertama yang membagikannya. Terkadang, justru tidak langsung bereaksi adalah pilihan yang lebih sederhana.
Sebelum membagikan sebuah unggahan, kita bisa bertanya:
"Saya membagikan ini karena sudah memeriksa kebenarannya, atau karena saya melihat banyak orang membagikannya?"
Pertanyaan sederhana tersebut tidak akan menjamin kita selalu benar. Tetapi setidaknya, kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berpikir sebelum ikut menyebarkan sebuah informasi.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kemampuan untuk berhenti sejenak mungkin sama pentingnya dengan kemampuan menemukan informasi dengan cepat.
Karena sebelum jempol menekan tombol "bagikan," sebaiknya pikiran mendapat kesempatan untuk memeriksa.

