Gerakan Nasionalisme di Asia Tenggara

Saya seorang Mahasiswa di Universitas Jember
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rima Nur Mutmaina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nasionalisme, kata yang tidak asing di dengar oleh kita masyarakat indonesia, apalagi kaitannya dengan materi sejarah Indoneia. Tanpa adanya nasionalisme dan pandangan akan nasional maka Indonesia tidak dapat lepas dari belenggu penjajahan. Akan tetapi istilah nasionalisme sendiri tentunya bukan hanya digunakan di Indonesia saja. Karena sudah pasti banyak negara-negara kolonialsme dan penjajahan bangsa barat terjadi di banyak negara-negara di dunia. Wacana mengenai anti-kolonialisme dan bangkitnya sentimen nasionalis di negara-negara kolonial seringkali berakar pada gerakan dan gagasan yang bermula dari negara-negarapasca-kolonial. Sejarah nasionalise dan imajinasi tentang antikolonialisme di Asia umumnya dipengaruhi dengan adanya penjelajahan para patriot ekspatriat ke luar dari negarnya. Salah satu contoh menarik dalam kasus di India, dimana konseptualisasi pemikiran nasionalisme Mahatma Gandhi yang mempengaruhi imajinasinya tentang bangsa India tahun 1919, sangat dipengaruhi oleh pengalamannyas selama di Afrika Selatan. Contoh lain di Asia tenggara sendiri terdapat Tan Malaka, E.F.E Douwes Dekker, Ho Chi Minh dan Jose Rizal, karena bila di cermati merupakan para Patriot ekspatriat yang pemikirannya mengenai kemerdekaan, nasionalisme bahkan marxime terbentuk dari pengalaman perjalanan mereka yang berpidah-pindah. Sejarah Singkat Gerakan nasionalisme di Asia Tenggara muncul pada abad ke-19 dan ke-20 sebagai respon terhadap kolonialisme bangsa Eropa. Penjajahan selama berabad-abad telah menciptakan rasa kekecewaan dan ketidakadilan di kalangan rakyat Asia Tenggara. Dengan adanya kesamaan budaya, bahasa, dan agama menjadi landasan bagi mereka untuk bersatu dan memperjuangkan kemerdekaannya masing-masing.
Faktor-faktor yang Mendorong Nasionalisme 1. Eksploitasi Ekonomi; Penjajah mengambil keuntungan dari sumber daya alam dan tenaga kerja di Asia Tenggara. Hal ini menyebabkan kemiskinan dan kesengsaraan di kalangan rakyat. 2. Diskriminasi Politik; Rakyat Asia Tenggara tidak memiliki hak politik yang sama dengan orang Eropa. Mereka dipinggirkan dari pemerintahan dan tidak memiliki suara dalam menentukan nasib mereka sendiri. 3. Penindasan Budaya; Penjajah berusaha untuk mengasimilasi budaya rakyat Asia Tenggara dengan budaya mereka sendiri. Hal ini kemudian memicu perlawanan dan keinginan untuk mempertahankan identitas budaya mereka sendiri. Perkembangan Nasionalisme di Asia Tenggara Konsep nasionalisme kemudian muncul di negara-negara Asia Tenggara sebagai upaya untuk mengakhiri kolonialisme dan imperialisme. Gerakan nasionalis Filipina dapat dikatakan sebagai revolusi nasionalis pertama di Asia Tenggara yang berupa Gerakan Propaganda Rakyat Filipina dengan tujuan untuk mengusir Spanyol. Amerika Serikat memiliki banyak andil dalam proses pergerakan nasionalis Filipina, juga adanya pemimpin Filipina pada masa itu, yakni Ferdinand Marcos yang condong ke Amerika Serikat." Myanmar kemudian mulai melakukan gerakan revolusi untuk terlepas dari Inggris, yakni dengan keluar dari negara persemakmuran Inggris." Nasionalisme di Malaysia dan Singapura muncul untuk mengusir Jepang dan pada akhirnya Inggris memberikan kemerdekaan sebagai negara persemakmuran. Namun, pada perjalanannya Singapura dikeluarkan dari federasi Malaysia di tahun 1965 untuk meraih kemerdekaannya sendiri. Di Indonesia, nasionalisme telah muncul dengan adanya organisasi Budi Utomo dan Sumpah Pemuda. Berbagai perlawanan yang dilakukan Indonesia berujung pada kemerdekaan di tahun 1945 saat Jepang menyerah tanpa syarat di Perang Dunia II, dengan pengakuan Belanda di tahun 1949. Begitu juga dengan yang terjadi di Vietnam, Laos, Kamboja, dan Brunai. Meskipun Thailand menjadi negara yang tidak merasakan masa kolonialisme, namun nasionalisme berhasil menyatukan nilai-nilai yang berbeda di Thailand." Perkembangan nasionalisme dan kenyataan bahwa pengaruh Perang Dingin membawa dampak buruk bagi negara-negara Asia Tenggara kemudian menjadi pemicu dari pembentukan ASEAN, yang merupakan wadah negara-negara Asia Tenggara dalam memperkuat kerjasama di bidang ekonomi, administrasi, pengetahuan, perdamaian, budaya, dan politik. Indonesia, Malaysia. Bentuk-bentuk Perlawanan a. Perlawanan Bersenjata; Di beberapa negara, seperti Vietnam dan Indonesia, rakyat melakukan perlawanan bersenjata terhadap para penjajah. b. Pergerakan Reformasi; Gerakan politik dibentuk untuk menuntut dan kemerdekaan. Tokoh-tokoh nasionalis seperti Ho Chi Minh di Vietnam, Sukarno di Indonesia, dan Thakin Aung San di Myanmar memimpin pergerakan ini. c. Pergerakan Budaya; Para cendekiawan dan seniman menggunakan karya mereka untuk membangkitkan kesadaran nasional dan memperkuat identitas budaya. Di Filipina gerkan Nasionalisme di bagi dalam tiga periode, yaitu gerakan yang berlangsung hingga 1872, gerakan yang berlangsung Tngun 1872 – 1896, dan gerakan yang berlangsung antara tahun 1896-1901. Periode pertama berupa perlawanan-perlawanan secara lokal, tergantung dimana perlawanan itu timbul. Umumnya perlawanan ini timbul disebabkan oleh perlakuan yang tidak adil yang dialami oleh berbagai lapisan masyarakat, seperti kaum petan uang tanahnya dikuasai penjajah, kaum gereja an pegawai dengan gaji kecil. Pada periode kedua semakin kuatnya semangat anti Spanyol serta cita-cita untuk membebaskan diri dari penjajahan. Pada masa ini muncullah seorang pemimpin muda Jose Rizal, yang terkenal sebagai tokoh nasional yang muda, dokter lulusan St. Thomes, filsuf, sastrawan pujangga, ahli hokum dan seniman. Pada periode ketiga terdapat berbagai pemberontakan-pemberontakan melawan Spanyol yang dimulai dengan pecahnya pemberontakan Katipun, yang perjuangannmya menggunakan senjata. Dampak Gerakan Nasionalisme Gerakan nasionalisme di Asia Tenggara berhasil mencapai kemerdekaan bagi banyak negara di kawasan ini. Negara-negara seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Myanmar memperoleh kemerdekaan setelah perjuangan panjang dan pengorbanan yang besar. Selaian itu, Gerakan nasionalisme juga memiliki dampak sosial dan budaya yang signifikan. Kesadaran akan nasionalisme dan identitas budaya menjadi lebih kuat di negara-negara Asia Tenggara. Pergerakan ini juga melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang menginspirasi rakyat dan mendedikasikan hidup mereka untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa.
