Konten dari Pengguna

26 Tahun Reformasi: Masihkah Semangat Perubahan Itu Hidup?

Rima Meganingrum

Rima Meganingrum

Nama saya rimameganingrum biasa dipanggil rima saya sedang melanjutkan studi saya di universitas pamulang jurusan ilmu komunikasi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rima Meganingrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 21 Mei 2025 menandai 26 tahun gerakan Reformasi yang mengguncang Indonesia. Gerakan yang dimulai dari jeritan mahasiswa dan rakyat itu berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan membuka jalan bagi demokrasi yang lebih terbuka. Namun, dua dekade lebih berlalu, muncul pertanyaan:

Apakah cita-cita Reformasi masih hidup, ataukah telah dilupakan?

Reformasi: Janji dan Kenyataan

ilustrasdata pribadi simber foto pixabay.com

Reformasi 1998 membawa lima agenda utama: penghapusan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), penegakan supremasi hukum, demokratisasi, reformasi militer, dan keadilan sosial. Dalam dua dekade terakhir, memang ada kemajuan: pemilu langsung, kebebasan pers, dan partisipasi sipil meningkat. Namun, tantangan baru justru muncul dari dalam sistem yang dulu ingin diperbaiki.

Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia stagnan di angka 34/100 menurut Transparency International (2024). Kasus-kasus besar seperti korupsi bansos hingga transaksi janggal di instansi publik menunjukkan bahwa akar korupsi masih kuat mencengkeram.

Demokrasi dan Ancaman Otoritarianisme Baru Jika dulu rakyat melawan satu wajah otoritarianisme, kini bentuknya lebih halus: pengerdilan oposisi, pembungkaman kritik lewat UU ITE, hingga upaya memperpanjang kekuasaan dengan dalih stabilitas.

Fenomena politik dinasti dan pragmatisme elite juga mencoreng semangat keterbukaan. "Reformasi seolah hanya melahirkan kebebasan memilih elite, tapi tidak memberi ruang untuk perubahan struktural," ujar Yenny Wahid, aktivis dan pengamat politik.

Suara Anak Muda dan Harapan Baru

Meski demikian, generasi muda hari ini melek informasi dan tak segan bersuara. Gerakan digital seperti #ReformasiDikorupsi atau #TolakRKUHP menunjukkan bahwa semangat kritis tetap hidup. Anak-anak Reformasi kini tumbuh menjadi pengawas aktif demokrasi, meski medan perjuangan telah bergeser ke ruang virtual.

Reformasi Belum Usai

Reformasi bukan tonggak yang selesai dalam satu waktu, melainkan proses panjang. Ia membutuhkan keberanian terus-menerus untuk melawan ketidakadilan, dan konsistensi dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas.

Pada akhirnya, semangat Reformasi hanya akan terus hidup jika kita tidak lelah bertanya, mengkritik, dan menjaga harapan: bahwa negeri ini bisa lebih adil, lebih bebas, dan lebih baik.