After Breakup: Ketika “Kita” Berubah Jadi “Aku” Lagi

Nama saya rimameganingrum biasa dipanggil rima saya sedang melanjutkan studi saya di universitas pamulang jurusan ilmu komunikasi
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Rima Meganingrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Putus itu bukan cuma soal kehilangan orang, tapi kehilangan rutinitas. Dari chat “udah makan?” sampai notif yang tiba-tiba berhenti. Sunyi yang muncul setelah breakup sering kali lebih menyakitkan daripada kata putus itu sendiri.

Gen Z hidup di era serba update. Setelah putus, yang bikin sakit bukan hanya kenangan, tapi juga story mantan yang tetap jalan seperti tidak terjadi apa-apa. Kita dipaksa terlihat “baik-baik saja”, padahal hati masih berantakan.
After breakup bukan fase lemah, tapi fase jujur. Jujur kalau masih sedih. Jujur kalau belum siap move on. Tidak semua luka harus langsung sembuh, dan tidak semua orang wajib terlihat kuat di media sosial.
Pelan-pelan, kita belajar kembali jadi “aku”. Mengenal diri sendiri tanpa validasi pasangan. Menyusun ulang batasan, mimpi, dan standar cinta yang lebih sehat.
Karena pada akhirnya, putus bukan akhir segalanya. Kadang, itu cuma cara hidup bilang: kamu pantas dapat versi cinta yang lebih baik termasuk dari diri sendiri.
