Dede Rohali Ungkap Pengalaman Halunya Membawa Siaran Langsung Breaking News

kumparan Buddies - Universitas Airlangga
Konten dari Pengguna
26 November 2022 12:22
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rimaya Akhadiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dede Rohali memberi materi di bootcamp kumparan Buddies hari pertama tentang reportase breaking news yang diadakan di Kantor kumparan pada Jumat (25/11/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dede Rohali memberi materi di bootcamp kumparan Buddies hari pertama tentang reportase breaking news yang diadakan di Kantor kumparan pada Jumat (25/11/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Menjadi pembicara di bootcamp kumparan Buddies hari pertama pada Jumat (25/11/2022), tidak lantas membuat seorang Dede Rohali berusaha tampil sempurna. Seorang Video Manager kumparan tersebut mengaku dirinya pernah membuat beberapa kali kesalahan saat melakukan live reporting untuk siaran berita. Di kesempatan memberikan materi workshop terkait “Becoming a Competent Journalist” kepada para Buddies, Dede sempat menceritakan pengalaman halunya berhadapan dengan kamera.
Dalam memberitakan breaking news, ia menekankan beberapa poin yang harus dipegang oleh seorang reporter, diantaranya tercepat, terbaru, terpenting, faktual, tidak meresahkan, dan tidak membingungkan. “Kita bisa cari cerita yang mungkin bisa lebih bikin orang nggak parno, nggak bikin orang resah, dan informatif,” ujarnya. Cara kerja breaking news yang dituntut harus bergerak cepat, menjadikan apapun yang bersinggungan dengan kelima indra reporter dapat menjadi sebuah informasi bagi masyarakat.
Agar dapat menyajikan penampilan terbaik, seorang reporter harus melakukan riset terlebih dahulu sebelum melakukan siaran langsung. Di pengalamannya melakukan liputan terhadap kematian Santoso, seorang teroris paling dicari di Poso tahun 2016 lalu, Dede harus siaga dan melakukan siaran langsung dalam waktu yang panjang. Selama berangkat dari Jakarta, ia gunakan waktu tersebut untuk riset dan meresapi semua bahan berita yang harus ia sampaikan saat siaran langsung breaking news.
“Kita sampai sana langsung live. Terus ada live lagi malem, jam 12 malem,” ungkapnya. Dede memberitahukan bahwa tidak banyak waktu tidur yang bisa dimanfaatkan oleh seorang reporter ketika harus standby melakukan liputan breaking news. Di titik inilah seorang reporter perlu menjaga konsentrasinya agar tetap dapat memberitakan informasi yang benar kepada khalayak. Namun, pengalaman membuat kesalahan tidak terlepas dari perjalanan yang membentuk Dede menjadi seorang video manager seperti sekarang.
Saat itu, ia diberitahu bahwa rombongan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) belum bisa hadir saat siaran berlangsung. Namun, entah apa yang merasukinya, “terus gue lihat kayak ada rombongan nih rame-rame.” Melakukan siaran langsung breaking news memang bisa mendapati hal-hal di luar ekspektasi dari apa yang sudah reporter siapkan. Melihat rombongan tersebut melintas di hadapannya, Dede melaporkan bahwa rombongan kapolri telah tiba di lokasi pendeteksian mayat Santoso.
Saat Dede dengan percaya dirinya mengarahkan kemera agar mengikuti rombongan yang melintas tersebut, “lah anjir ini siapa? Gue diteriakin ‘De ini siapa? Lo apa-apaan?’ gitu. Otak gue bener-bener nggak bisa bekerja.” Alhasil, Dede harus menerima semua bentuk olokan hingga cacian dari rekan-rekan kerjanya. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, Dede memberikan sedikit saran kepada para Buddies yang datang di Kantor kumparan saat itu.
“Usahakan minum yang cukup. Dulu gue kurus banget. Tiap kali mau liputan selalu kepikiran, ‘duh nggak enak nih, makan malah enek’, padahal itu bisa memengaruhi informasi yang disampaikan,” terangnya.
Meski begitu, dalam melaporkan breaking news seorang reporter tidak harus menunjukkan wajahnya di depan kamera. Laporan bisa berisi kumpulan video yang hak ciptanya sudah menjadi milik publik. Keputusan tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari khalayak.
Sebagai penutup, Dede pun mengikhiri sesi workshop-nya dengan tiga pertanyaan sekaligus yang ditujukan kepada para Buddies. Gimana sudah paham ya gambaran kerja wartawan? Tertarik? Sudah tahu kan caranya?
Salah satu Buddies maju untuk mencoba menjadi seorang reporter yang menyampaikan siaran langsung. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu Buddies maju untuk mencoba menjadi seorang reporter yang menyampaikan siaran langsung. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Setelah ditutup, para Buddies pun ditantang untuk dapat menunjukkan kelihaiannya dalam menyampaikan reportase breaking news secara langsung dari lokasi kejadian. Meski awalnya malu-malu, namun tiga dari sepuluh diantara mereka memberanikan diri untuk mencoba menjadi seorang reporter. Dibantu oleh Dede yang bersandiwara sebagai presenter studio, ketiganya menampilkan laporan siaran langsung dengan topik yang berbeda-beda.