Konten dari Pengguna

Pseudo Pemilu

Miftah Rinaldi Harahap

Miftah Rinaldi Harahap

Pegiat komunitas New Native Literasi Gerilyawan Partai Hijau Indonesia Instagram:@rinaldiharahap2023 Medium:medium.com/@miftahrinaldi1928

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Miftah Rinaldi Harahap tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pemilu. Foto: Dok Kemenkeu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pemilu. Foto: Dok Kemenkeu

Pemilu di Indonesia memang sangat menarik untuk diamati sekaligus dicemooh karena mempunyai warna dan ciri khas tersendiri. Di Indonesia pemilu adalah perayaan untuk sebuah janji yang diulang berulang kali. Inilah festival janji-janji terbesar yang pernah ada dalam lembar sejarah peradaban manusia.

Dalam perayaan pemilu janji dilontarkan oleh makhluk yang bernama politikus kepada rakyat yang selalu berstatus sebagai korban. Janji yang diucapkan politikus selalu muncul dalam berbagai nuansa.

Ada yang membakar semangat, mendayu-dayu, dan yang paling unik adalah janji yang diucapkan dalam nuansa ketuhanan. Maksudnya para politikus menggunakan firman-firman Tuhan untuk melegitimasi janji-janjinya.

Janji adalah tanda dari sebuah pengharapan kepada hal-hal yang belum terwujud. Ibarat mantra sakti, janji membuat seseorang mempertaruhkan kepercayaannya untuk orang lain, sembari mengikhlaskan dirinya untuk menunggu realisasi dari janji-janji tersebut.

Namun, ketika janji-janji tidak kunjung terealisasi yang tertinggal hanyalah perasaan untuk mengikhlaskan.Sembari larut dalam kebingungan, dan diakhiri dengan mengutuk diri sendiri. Itulah potret suasana kebatinan warga pada setiap perayaan pemilu.Mereka selalu berstatus sebagai korban dari para politkua.

Meskipun warga selalu berstatus menjadi korban, tidak lantas membuat warga kehilangan pengharapan kepada para politikus. Buktinya, pada saat pemilu tiba. Warga tetap datang ke tempat pemungutan suara untuk memberikan suaranya.

Tentu ini adalah fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Menarik karena warga mempunyai relasi yang unik dengan para politikus. Memprihatikan karena ini adalah potret ketidakpercayaan warga kepada para politikus.

Relasi yang Terbangun Berdasarkan Nuansa

Ilustrasi Partai Peserta Pemilu Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Relasi antara politikus dan rakyat terbangun dan dibangun berdasarkan nuansa. Nuansa yang diciptakan oleh media mainstream dan sosial media. Melalui cara seperti ini warga selalu berhasil ditipu dan tertipu secara halus oleh para politikus.

Selain itu, media juga membantu para politikus untuk membangun citra diri. Melalui citra diri para politikus selalu mampu untuk membius warga.

Terbiusnya warga oleh citra diri para politikus, sampai-sampai membuat warga hanya menilai para politikus berdasarkan penampilan yang sering dicitrakan di berbagai media.

Politikus berhasil membuat media sebagai panggung dagelan yang menempatkan warga sebagai korban yang siap dibolak-balikkan perasaannya.

Seperti aktor dan aktris, para politikus mulai memainkan peran yang sebelumnya telah di-skenario-kan oleh partai. Tentu, skenario yang dibuat oleh partai telah mempertimbangkan dua faktor penting untuk menunjang terciptanya nuansa yang diinginkan.

Dua faktor penting itu adalah budaya like and dislike dan mental feodal yang masih bercokol di benak warga. Dalam dunia media massa dan sosial media saat ini. Ada suatu budaya baru yang berkembang di kalangan warga, yaitu budaya like dan dislike.

Budaya like and dislike membuat warga terbiasa menilai argumentasi seseorang tidak berlandaskan pada apa yang disampaikan melainkan siapa yang menyampaikan.Bukan lagi mencari apa yang benar tetapi mencari siapa yang benar.

Kemudian, tumbuhnya budaya tersebut, semakin menyuburkan mental feodal yang masih bercokol di benak warga. Mental feodal membuat warga mudah percaya dengan orang lain. Apalagi, jika orang tersebut adalah orang terkenal, berpangkat atau mempunyai reputasi.

Dua faktor yang merugikan warga ini selalu dirawat oleh para politikus. Sebab, dua hal ini merupakan faktor agar setiap skenario yang mereka rencanakan bisa dengan mulus dipentaskan.

Politkus seakan menikmati, jika warga selalu berada dalam posisi korban disetiap perayaan pemilu. Seperti efek domino, nuansa yang sesuai dengan skenario akan memudahkan para politikus untuk menyusun janji - janji yang akan semburkan lagi kepada warga.

Melalui penjelasan sebelumnya, bisa dilihat bahwa para politikus seperti ingin menegaskan bahwa perayaan pemilu hanya untuk para bangsawan yang saat ini berwujud politikus. Sementara warga hanya sekumpulan makhluk yang dianggap sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

Puncak Ketidakpercayaan Rakyat

Relasi yang dibangun berdasarkan nuansa adalah relasi yang semu. Persis seperti dua orang yang baru saja berkenalan di sosial media. Lalu, memutuskan untuk mencoba saling mengenal dari foto profil dan percakapan singkat.

Begitulah, relasi politikus dan warga. Politikus selalu merasa mengenal warga hanya karena pernah bertemu mereka pada saat perayaan pemilu. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, siklus pertemuan politikus dan warga bisa digambarkan seperti ini: Mereka berkenalan- lalu tersenyum penuh maksud terselubung - sembari melambaikan tangan kepada warga.

Politkus selalu bertingkah seperti pahlawan yang bertugas untuk membawa pesan - pesan pembebasan. Padahal, yang terjadi justru adalah hal yang sebaliknya. Para politikus tidak pernah bertindak sebagai pahlawan yang membawa pesan - pesan pembebasan yang diakhiri dengan kekecewaan.

Tingkah laku para politikus yang selalu membuat warga mengalami defisit kepercayaan adalah praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Coba bayangkan berapa banyak uang warga yang dirampok oleh mereka.

Sepertinya, tidak ada lagi sektor yang tidak pernah mereka korupsi. Mulai dari kitab suci, haji dan umroh sampai dana bansos untuk warga mereka rampok. Bahkan, bisa dikatakan bahwa setiap kali warga menghidupkan televisi atau melihat timeline sosial media selalu saja ada politkus yang tertangkap karena kasus korupsi.

Betapa menyakitkan menjadi warga yang melihat hal itu. Apalagi, pada saat perayaan pemilu, para politikus ini datang menemui mereka sembari berkata: "Saya dan partai saya tidak akan korupsi." Lalu, tiba saat mereka diberikan mandat oleh warga. Mereka berubah menjadi perampok uang warga yang mondar- mandir dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Hal ini yang kemudian membuat warga menganggap bahwa pemilu bukan merupakan sesuatu hal yang penting. Warga hanya menganggap pemilu seperti kentut yang harus segera berlalu agar mereka lega dan tidak terus - menerus dianggap bodoh oleh para politikus.

Penjelasan sebelumnya terbukti dari ungkapan warga ketika mereka bertemu dengan para politikus pada saat perayaan pemilu, yaitu "Bapak berani bayar saya berapa agar saya mau memilih bapak ?"

Ungkapan ini sejatinya bukan merupakan bentuk kebodohan warga. Tetapi, sebaliknya ungkapan ini adalah bukti dari kecerdasan warga dalam memaknai pemilu. Mereka mengerti bahwa pemilu hanya urusan transaksional semata.

Disisi lain mereka juga mengerti bahwa politikus menggunakan mereka hanya untuk stempel agar bisa berkuasa. Sembari di dalam mereka juga menyimpan rasa ketidakpercayaan yang sangat dalam kepada pemilu dan politikus yang datang menemui mereka.