Sinergi Sivitas Akademika dan Masyarakat Lokal Untuk Pembangunan Berkelanjutan

Dosen Universitas Padjadjaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Linda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat ini, topik pembangunan berkelanjutan atau yang dikenal sebagai Sustainable Development telah mulai digaungkan secara luas hingga ke lapisan masyarakat yang berdomisili di wilayah pedesaan dan pesisir pantai. Merujuk pada program Sustainable Development Goals (SDGs) yang diinisiasi oleh United Nations, dimana target-target pemerataan kesejahteraan masyarakat, kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga kesetaraan gender, seluruh instansi pemerintahan, instansi pendidikan, serta masyarakat diajak untuk ikut berkontribusi dalam upaya mewujudkan program SDGs tersebut.
Misalnya, untuk target nomor 1 yaitu No Poverty atau tidak adanya kemiskinan, peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mendata tingkat kesejahteraan masyarakat di level kecamatan, desa, hingga dusun. Selanjutnya, bersama dengan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dapat mendesain program-program pengentasan kemiskinan di level desa seperti upaya swasembada desa, penciptaan lapangan pekerjaan dengan membentuk sentra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) level desa, hingga memberikan subsidi untuk memulai usaha mikro.
Contoh lainnya, untuk target nomor 3 yaitu Good Health and Well-Being, dinas kesehatan, puskesmas, dan relawan posyandu bersinergi untuk saling membantu program pengentasan stunting di level desa dengan cara memberikan edukasi pencegahan stunting pada ibu hamil, memberikan asupan gizi dan vitamin untuk ibu hamil, serta memberikan makanan tambahan bergizi kepada balita yang rawan terkena stunting. Program-program tersebut telah berhasil dilaksanakan dengan bantuan kolaborasi atau sinergi dari berbagai pihak hingga target pengentasan kemiskinan dan penurunan angka stunting dapat tercapai.
Selain contoh-contoh di atas, penerapan SDGs mentargetkan juga pencapaian pada level makro, yaitu kota dan kabupaten di Indonesia. Contohnya, untuk target nomor 11 yaitu Sustainable Cities and Communities, peran instansi pendidikan, kementerian, dan juga tokoh masyarakat diperlukan untuk membangun ekosistem perekonomian maupun promosi di level kota atau kabupaten. Contoh nyata untuk target nomor 11 ini adalah terbentuknya Desa Wisata di berbagai wilayah di Indonesia, seperti yang sudah terbentuk di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Kuningan, Kota Bandung, dan Kabupaten Pangandaran.
Salah satu program sinergi yang telah dilaksanakan di Kabupaten Pangandaran diantaranya adalah pendampingan pembuatan dan pengelolaan website profil desa untuk Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran yang dilaksanakan dalam kurun waktu 2024 hingga 2025. Desa Ciliang memiliki potensi pariwisata dan UMKM yang terbilang cukup bagus. Sayangnya, potensi-potensi yang ada di wilayah tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Sehingga memerlukan bantuan dari sivitas akademika terutama mahasiswa untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada pihak terkait.
Oleh karena itu, sinergi antar lapisan masyarakat sangat diperlukan demi mewujudkan pengembangan wilayah berkelanjutan. Sinergi dapat diperkuat dengan jalinan kolaborasi atau kerja-sama antar institusi dan peran yang mewakili Penta Helix, yaitu Akademisi, Bisnis Swasta, Pemerintahan, Media Massa, serta Komunitas Masyarakat Lokal.
