Di Balik Ombak ada Kota yang Kutuju dan Rindu yang Kutinggalkan

Rini Anggreani adalah mahasiswi Farmasi di Universitas Islam Indonesia (UII) yang tertarik pada dunia kesehatan dan pengembangan obat. Ia aktif belajar dan membagikan pengetahuan melalui berbagai platform.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari RINI ANGGREANI - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diantara batas laut dan langit bertemu, ada ombak yang tak pernah Lelah. Dan dibalik ombak itu, ada sebuah kota yang kusebut tujuan. Kota itu bukan sekedar tempat dipeta tapi harapan yang cukup besar tentang masa depan dari benang-benang mimpi. Tapi setiap Langkah menuju kota itu, selalu kuiringi dengan sebuah kerinduan yang tak pernah selesai. Perjalanan ini bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan juga tentang kenangan yang ditinggalkan. Setiap keberangkatan adalah perpisahan kecil. Di belakangku, ada wajah-wajah yang dulu akrab, aroma masakan yang menenangkan, suara tawa yang pernah menyemarakkan hari. Semua itu kini berubah jadi kenangan yang kurindukan. Kutinggalkan, bukan karena tak sayang, tapi karena ada senyuman yang menunggu di ujung jalan.
Kota yang kutuju menawarkan janji baru tentang perkuliahan, impian, atau mungkin sekadar ruang untuk tumbuh. Tapi sesekali, di tengah kelonggaran, hatiku menyelinap pulang. Pulang ke lorong sempit tempat aku dibesarkan, senyuman ibu yang menunggu dengan sabar. Rindu memang tak pernah pandai berpamitan ia datang tanpa diundang, diam-diam, seperti ombak yang mencuri pasir di malam hari. Namun hidup, seperti laut, selalu bergerak. Ombak mengajariku untuk berani, bahkan saat harus meninggalkannya. Karena setiap tujuan, sekokoh apa pun, akan selalu diiringi perpisahan. Dan di situlah hidup menemukan maknanya dalam perjalanan, dalam keberanian memilih, dan dalam kerelaan melepaskan.
Menuntut ilmu sering kali menuntut keberanian untuk pergi dan meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan kenyamanan yang selama ini mendekap hangat. Bagi banyak anak muda dari pelosok negeri, perjalanan menuntut ilmu bukan hanya soal duduk di bangku kuliah atau belajar di kelas, melainkan juga tentang bertahan di tengah rindu, menjinakkan sepi, dan membangun masa depan dari tanah yang asing.
Aku adalah salah satu dari mereka, berangkat dari sebuah desa pesisir, hidupku tak jauh dari suara debur ombak dan aroma garam yang tertiup oleh angin laut. Namun di balik ombak yang terus bergulung itu, ada kota yang memanggil kota tempat kampus berdiri, tempat ilmu berkembang, tempat mimpi-mimpi muda menanti untuk diwujudkan.
Perjalanan ini bukan tanpa air mata. Rindu pada rumah sering datang di malam hari, saat suara ombak seolah menyelinap lewat jendela kos yang sempit. Terbayang wajah ibu yang selalu menyelipkan doa dalam setiap bekal, dan ayah yang diam-diam menahan air mata saat melepas kepergianku di pelabuhan. Namun, tekad untuk menuntut ilmu lebih besar dari rasa takut. Aku percaya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat tempat aku berasal. Kota yang kutuju mungkin asing, keras, bahkan melelahkan, tapi ia adalah gerbang menuju cita-cita.
Ilmu tak hanya kutemukan di ruang kelas. Ia hadir dalam perjuangan sehari-hari dalam pekerjaan paruh waktu, dalam berdiskusi di perpustakaan, hingga dalam diam saat menata ulang harapan yang sempat goyah. Setiap lembar buku yang kubuka adalah bagian dari perjuangan yang tidak ingin sia-sia.
Rindu memang tak bisa dihindari. Tapi setiap tetes rindu adalah pengingat bahwa ada rumah yang menanti, ada alasan mengapa aku memulai perjalanan ini. Dan kelak, ketika semua lelah ini terbayar, aku akan pulang. Bukan lagi sebagai anak pesisir yang biasa, tapi sebagai anak bangsa yang membawa cahaya dari ilmu yang kutimba di balik ombak.
Dan hari itu akan datang hari ketika langkahku kembali menjejak tanah kelahiran, bukan sebagai sosok yang sama saat aku pergi, melainkan sebagai pribadi yang telah menjadi sosok keberanian untuk menuntut pengalaman, dan ilmu pengetahuan. Aku ingin pulang tidak hanya membawa gelar di atas kertas, tetapi juga membawa perubahan. Perubahan dalam cara berpikir, dalam cara bermimpi, dan dalam cara membangun harapan bersama masyarakat. Aku membayangkan kembali ke desa dengan semangat baru. Membuka ruang belajar bagi adik-adik yang dulu, seperti aku, hanya bisa memandangi kota dari kejauhan. Semangat dan harapan di mata mereka, meskipun kita tumbuh di tempat yang jauh dari kota, kita punya hak yang sama untuk bermimpi tinggi dan berjuang mewujudkannya.
Jalan di depan tak akan mudah. Membangun perubahan bukan hal yang instan. Tapi bekal yang kubawa bukan hanya pengetahuan, melainkan juga keteguhan hati yang telah teruji oleh jarak, rindu, dan pengorbanan. Aku telah belajar bahwa pendidikan bukan sekadar tujuan, tetapi perjalanan yang membentuk jiwa dan mengajarkan arti keberanian. Dan saat aku berdiri kembali di tepi pantai, memandang laut yang dulu mengantar kepergianku, aku akan tahu ombak yang sama kini menyambut kepulanganku membawa ilmu, harapan, dan cinta yang tak pernah luntur untuk tanah tempat semua ini bermula.
