BNPB: Lahan Gambut Jadi Penyebab Karhutla di Sumsel Sulit Padam Meski Hujan Mulai Turun

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum sepenuhnya dapat diatasi meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah Sumatera dalam beberapa hari terakhir.
Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, hujan yang turun belum merata di seluruh wilayah terdampak. Selain itu, intensitas dan durasi hujan belum tentu cukup untuk membasahi lapisan gambut yang terbakar hingga ke bagian dalam.
“Hujan memang sudah mulai turun di sejumlah wilayah Sumatera, tetapi masih terdapat titik api karena curah hujan belum merata dan karakteristik lahan gambut membuat kebakaran lebih sulit dipadamkan,” kata Berton saat dihubungi kumparan, Jumat (30/10).
Ia menjelaskan, gambut yang telah mengering dapat terbakar hingga lapisan bawah tanah. Kondisi tersebut membuat api terkadang tidak terlihat dari permukaan, sehingga hujan yang membasahi vegetasi dan permukaan tanah belum tentu mampu memadamkan bara di dalamnya.
“Bara api di bawah permukaan masih dapat bertahan dan kembali memicu kebakaran apabila kondisi kembali kering. Selain itu, hujan yang turun belum tentu memiliki intensitas dan durasi yang cukup untuk membasahi seluruh wilayah terdampak,” ujarnya.
Berton mengatakan, lahan gambut menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan karhutla di sejumlah wilayah Sumatera sulit dipadamkan. Meski demikian, ia menegaskan tidak seluruh wilayah Sumatera didominasi lahan gambut karena kebakaran juga dapat terjadi di lahan mineral dan kawasan vegetasi lainnya.
“Karakteristik gambut adalah mampu menyimpan air, tetapi ketika mengalami pengeringan, lapisan gambut menjadi mudah terbakar. Api bahkan dapat merambat di bawah permukaan tanah dan bertahan meskipun hujan telah turun,” jelasnya.
Untuk itu, BNPB terus mendorong pemantauan dan penanganan terhadap titik api yang masih aktif. Penanganan dilakukan melalui pemadaman, pembasahan atau pendinginan (cooling), serta patroli untuk mencegah api kembali muncul.
“Khusus di lahan gambut, penanganan tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat. Tim juga perlu melakukan pembasahan dan pendinginan pada area terdampak, memastikan bara di bawah permukaan tidak tersisa, serta melaksanakan patroli untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” kata Berton.
Selain penanganan langsung di lokasi kebakaran, BNPB, kata Berton, juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penambahan curah hujan di wilayah sasaran. Pelaksanaannya mempertimbangkan kondisi atmosfer, potensi pertumbuhan awan, serta lokasi yang menjadi prioritas penanganan.
“OMC merupakan upaya pendukung untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan, sedangkan pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran tetap harus dilakukan,” ungkapnya.
Berdasarkan perkembangan penanganan karhutla, Sumatera Selatan masih menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian BNPB. Sejumlah lokasi yang menjadi fokus penanganan berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Pemantauan juga dilakukan di Jambi serta kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung.
Berton menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan kapan seluruh titik api di Sumatera akan padam. Sebab, durasi pemadaman bergantung pada kedalaman gambut yang terbakar, tingkat kekeringan, intensitas dan pemerataan hujan, hingga kemampuan tim melakukan pemadaman dan pendinginan secara menyeluruh.
“Untuk estimasi waktu, kita tidak bisa menetapkan bahwa seluruh titik api akan padam dalam hitungan beberapa hari hanya karena hujan sudah mulai turun,” tuturnya.
Ia menambahkan, hujan memang membantu meningkatkan kelembapan lahan dan menurunkan risiko kebakaran. Namun, pemantauan dan pengecekan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan bara api di bawah permukaan benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
“Hujan tentu membantu meningkatkan kelembapan lahan dan menurunkan risiko kebakaran. Namun, hujan saja belum tentu langsung memadamkan bara di bawah permukaan. Karena itu, setelah hujan turun, pemantauan dan pengecekan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali,” tutup Berton.
