Calon Kapolri Komjen Suyudi: Saya Siap Dinilai dari Hasil, Bukan Janji

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komjen Pol Suyudi Ario Seto mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Calon Kapolri bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Komjen Pol Suyudi Ario Seto mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Calon Kapolri bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Calon Kapolri Komjen Pol Suyudi Ario Seto menegaskan kesiapannya mempertanggungjawabkan kepemimpinan apabila mendapat amanah memimpin Polri. Dia menyatakan siap dinilai berdasarkan hasil kerja, bukan janji.

Hal itu disampaikan Suyudi saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10).

“Apabila memperoleh amanah, saya siap dinilai dari hasil, bukan dari janji,” kata Suyudi dalam paparannya.

Suyudi mengatakan, perubahan di tubuh Polri harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan melalui pelaksanaan di lapangan. Dia berkomitmen turun langsung untuk melihat persoalan, mendengarkan anggota dan masyarakat, mengambil keputusan, serta memastikan keputusan tersebut dijalankan.

“Perubahan Polri tidak mungkin terjadi apabila pimpinan hanya meminta anggota berubah. Perubahan harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan,” ujarnya.

Suyudi Tekankan Integritas Anggota

Calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto (kanan) memberi hormat seusai uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Suyudi juga menegaskan anggota Polri tidak boleh dipaksa mencapai target dengan cara yang melanggar hukum. Menurutnya, tekanan pekerjaan tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan pelanggaran.

Dia menyebut tindakan seperti pemerasan, menerima suap, merekayasa perkara, menjadi backing kegiatan ilegal, hingga menggunakan kekerasan secara sewenang-wenang tidak dapat dibenarkan.

“Semangat yang ingin saya hidupkan sederhana (yaitu) tidak arogan, tidak berbohong, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak menyakiti masyarakat secara sewenang-wenang,” kata Suyudi.

Jika mendapat amanah sebagai Kapolri, dia juga menyatakan siap mempertanggungjawabkan kepemimpinannya sesuai konstitusi, menjalani pengawasan DPR, menghormati proses hukum, bekerja bersama lembaga pengawas, serta membuka ruang koreksi dari masyarakat.

Kapolri Bukan Puncak Karier

Calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto (kedua kanan) mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Suyudi menilai jabatan Kapolri bukan sekadar puncak karier seorang perwira, melainkan tanggung jawab untuk memimpin institusi kepolisian.

“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier; jabatan Kapolri adalah puncak tanggung jawab,” ujarnya.

Dia ingin keberhasilan Polri nantinya tidak hanya diukur dari banyaknya slogan, aplikasi, operasi, rapat, ataupun publikasi.

Menurut Suyudi, ukuran tersebut harus terlihat dari kondisi yang dirasakan langsung masyarakat, seperti keamanan yang lebih baik, laporan yang lebih mudah diterima, pertolongan yang lebih cepat, kepastian perkara, perlindungan terhadap korban, serta penerapan hukum secara adil.

Selain itu, dia ingin anggota Polri yang berintegritas memiliki ruang untuk berkembang dan setiap penyimpangan dapat dikoreksi tanpa masyarakat harus menunggu kasus menjadi viral.

Suyudi Ingin Polisi Bersama Masyarakat

Suyudi kemudian kembali menekankan gagasan Polisi Bersama Masyarakat yang menjadi tema kepemimpinannya.

Dia menggambarkan polisi yang diharapkan hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan pertolongan.

“Ketika seorang anak melihat polisi, ia merasa aman, bukan takut. Ketika korban datang ke kantor polisi, ia menemukan pertolongan, bukan kerumitan,” kata Suyudi.

Dia juga berharap polisi mampu mendengar kritik masyarakat tanpa kehilangan kewibawaan dan hadir ketika kejahatan mengancam.

“Itulah makna Polisi Bersama Masyarakat (yakni) hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat untuk melayani, adil dan menegakkan hukum, terbuka untuk diawasi, dan adaptif menghadapi perubahan,” ujarnya.

Suyudi menegaskan kepercayaan masyarakat menjadi bagian penting dari ukuran keberhasilan Polri.

“Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya. Polri yang berwibawa bukan karena menjaga jarak, melainkan karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan,” kata dia.

“Menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah, dan mengabdi bersama masyarakat adalah tujuan,” pungkas Suyudi.