Cerita Kapolri Kerap Diminta Loloskan Peserta Akpol, Semua Ditolak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat menghadiri Rakorwas Kompolnas Polri 2026 di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (9/6/2026). Foto: Rayyan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat menghadiri Rakorwas Kompolnas Polri 2026 di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (9/6/2026). Foto: Rayyan/kumparan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan tak ada lagi praktik titipan dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). Ia memastikan tak boleh lagi ada praktik 'membantu' siapa pun untuk meloloskan peserta di tahap rekrutmen.

Sigit mengatakan sistem rekrutmen Akpol kini dibuat lebih ketat dan transparan. Bahkan, setelah hasil diumumkan, menurut dia, tidak ada lagi ruang untuk perubahan.

“Ya saya mohon maaf kepada rekan-rekan di sini, mohon maaf barangkali ada yang putra-putranya masuk Akpol, kami tidak bisa berbuat banyak untuk membantu karena memang sudah menjadi komitmen kita saat itu untuk tidak ada lagi kuota khusus dari Kapolri,” kata Sigit saat memberi sambutan dalam acara Rakorwas Kompolnas-Polri 2026 di Ancol, Jakarta Utara, Rabu (10/6).

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat menghadiri acara Peletakan Batu Pertama Mako Polda DIY. Foto: Dok. Polri

Ia mengaku masih sering menerima pesan agar membantu meloloskan peserta Akpol. Namun, permintaan itu tidak bisa ia dipenuhi.

“Jadi tiap hari Pak Anwar (As SDM Polri, Irjen Anwar) ini selalu saya marahi ‘kok selalu masih ada yang WA saya minta supaya anaknya bisa diloloskan di tahap berikutnya sementara Pak Anwar sudah mengumumkan’.”

Sigit juga meminta maaf kepada sejumlah pejabat hingga mantan pimpinan Polri yang menitipkan anak atau kerabatnya untuk masuk Akpol, karena seleksi Polri harus transparan dan bebas kecurangan.

Suasana seleksi akademik catar akpol, dok SDM Polri Foto: SDM Polri

“Jadi mohon maaf terhadap semuanya karena saya lihat banyak sekali putra atau pun titipan dari pejabat-pejabat termasuk mantan-mantan pimpinan Polri, kali ini kami tidak bisa membantu,” katanya.

Sigit mengaku lebih memilih kena ‘omel’ oleh pihak-pihak yang memohin titipan daripada merusak sistem yang sedang dibangun. Menurut dia, langkah itu diambil sebagai bagian dari upaya pembenahan institusi di tengah tuntutan reformasi Polri.

"Risikonya ya kita lebih baik dimarahi. Tapi mudah-mudahan ini yang kita lakukan bukan karena kita tidak ingin bantu, tapi ini bagian dari upaya kita untuk ingin menunjukkan bahwa institusi Polri saat ini sedang berbenah untuk menjadi lebih baik," kata Sigit.

“Ini bagian dari upaya kita untuk ingin menunjukkan bahwa institusi Polri saat ini sedang berbenah untuk menjadi lebih baik,” tutup Sigit.