Cerita Warga soal Kasus Muntaber di Serpong Lagoon: Anak Diare Hingga Pingsan

Novi, warga Perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, menceritakan awal mula keluarganya mengalami gangguan pencernaan sebelum mengetahui banyak anak lain di lingkungan tempat tinggalnya mengalami gejala serupa.
Anak bungsu Novi yang masih berusia tujuh bulan mengalami diare selama dua hari. Awalnya, ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang baru dikonsumsi anaknya.
“Saya pikir karena dia baru MPASI juga, apa karena ada kesalahan dari makanan atau gimana. Cuma setelah dipelajari, sebenarnya enggak ada masalah sih dari makanannya,” kata Novi saat ditemui kumparan di kediamannya, Rabu (14/10).
Namun, diare yang dialami anak bungsunya terus berlangsung. Sebelum sempat membawa bayi tersebut ke dokter pada pagi hari, anak sulungnya justru mengalami diare dan muntah pada tengah malam.
Menurut Novi, kondisi anak sulungnya terus memburuk hingga menjelang subuh. Setelah muntah di toilet, anaknya sempat pingsan sehingga langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Jam setengah satu malam tiba-tiba diare, muntah, diare, muntah. Dan itu terus intens sampai kira-kira jam setengah lima subuh. Terakhir dia muntah di toilet, dia pingsan, langsung kita bawa ke UGD,” ungkap Novi.
Setelah kejadian tersebut, Novi melihat unggahan "story WhatsApp" tetangganya yang juga menceritakan anaknya masuk IGD. Ketika mengetahui gejalanya serupa, Novi mulai berkomunikasi dengan warga lain.
“Ada saya lihat story tetangga, anaknya juga masuk UGD,” tutur Novi.
Percakapan itu kemudian berlanjut dengan warga lain. Mereka saling bertanya mengenai kemungkinan penyebab anak-anak mengalami diare dan muntah. Dari komunikasi tersebut, Novi mengetahui bahwa sejumlah keluarga lain menghadapi kejadian serupa.
Warga kemudian mendata anak-anak yang mengalami diare dan muntah melalui grup WhatsApp lingkungan. Menurut Novi, jumlah anak yang tercatat terus bertambah hingga sekitar 150 orang.
“Setelah di-list, ada ibu yang bikin list anak siapa saja yang kena diare dan ternyata banyak sampai detik ini pun masih bertambah terus, sekitar 150-an ya, 150-an anak,” katanya.
Novi mengatakan, kualitas air di lingkungan tempat tinggalnya sebenarnya telah lama menjadi perhatian. Ia sudah tinggal di Serpong Lagoon sejak 2016 dan mendapati kondisi air yang menurut pengalamannya kurang baik sejak awal menetap.
“Sejak awal kita tinggal di sini tuh sebenarnya juga udah enggak yakin ya dengan keadaan air, memang kurang baik sih.” ujar Novi.
Meski demikian, Novi mengaku baru benar-benar mempertanyakan kondisi air setelah kedua anaknya mengalami gangguan pencernaan.
“Setelah 10 tahun tinggal di sini, baru concern karena kebetulan anak dua-duanya kena, jadi ya aku kayak, ‘Ada apa sih ini air ini sebenarnya?’” katanya.
Novi menjelaskan, selama ini keluarganya menggunakan air dari WTP untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Sementara itu, untuk minum, keluarganya menggunakan air kemasan atau air isi ulang.
Ia juga mengatakan kondisi air keran di rumahnya terkadang keruh dan berpasir. Bahkan, ketika air terlihat jernih, ia tetap mempertanyakan kualitasnya setelah mendengar pemaparan hasil pemeriksaan air dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Tangerang Selatan. Dalam rapat tersebut terungkap bahwa sampel air yang diambil dari salah satu rumah warga mengandung bakteri E.coli. Bakteri tersebut diduga menjadi penyebab banyaknya warga Serpong Lagoon yang mengalami muntaber.
"Kondisi airnya ya gitu, nanti keruh, nanti jernih, kayak hari ini saya jernih. Tapi kan jernih pun belum tentu kandungannya baik baik aja juga kan setelah kita tahu tadi dari Dinkes juga ngasih tau hasil lab-nya mereka seperti itu kan," kata Novi.
Warga kini berharap persoalan kualitas air yang telah lama dikeluhkan mendapat penyelesaian, terlebih setelah sejumlah keluarga melaporkan anak-anak mereka mengalami diare dan muntah.
"Jangan sampai ini masalahnya menguap lagi karena sudah ada korban, gitu. Jadi dari ibu-ibu tuh penginnya closing-nya tuh ya jangan kita lagi yang dirugikanlah penginnya gitu," tutup Novi.
Hingga saat ini terpantau 146 orang warga yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak yang mengalami mual, muntah, hingga diare hebat akibat air yang tercemar ini. Sebagian masih dirawat di rumah sakit, sementara yang lainnya sudah dipulangkan.
