Haru Rano Karno Saat Bicara Perjalanan Jakarta Menuju Lima Abad

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno tampak tak kuasa menahan haru saat menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD DKI Jakarta dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta, Senin (22/6).
Di hadapan pimpinan dan anggota dewan, Rano menyampaikan refleksi mendalam tentang perjalanan panjang Jakarta yang segera memasuki usia lima abad.
Dalam pidatonya, ia menekankan usia Jakarta bukan sekadar hitungan tahun, melainkan akumulasi dari perjuangan, doa, dan harapan jutaan warganya.
“Rapat dewan yang terhormat, satu tahun lagi Jakarta akan memasuki usia lima abad. Sebuah usia yang tidak sekadar dihitung dari pergantian tahun, melainkan dari jejak jutaan langkah, keringat, doa, perjuangan, dan harapan warga yang telah merawat kota ini dari generasi ke generasi,” ujar Rano dengan suara bergetar.
Ia juga menyinggung perjalanan panjang Jakarta yang tumbuh dari kawasan pelabuhan, kampung, sungai, pasar, hingga jalan-jalan yang menjadi saksi pertemuan beragam manusia.
Menurutnya, Jakarta telah belajar bertahan, bangkit dari berbagai tantangan, dan terus membuka ruang bagi siapa pun yang datang membawa mimpi.
“Jakarta telah menyaksikan banyak zaman berlalu, tumbuh dari pelabuhan, kampung, sungai, pasar, dan jalan-jalan yang menjadi saksi perjumpaan begitu banyak manusia,” katanya.
“Jakarta telah belajar bertahan di tengah perubahan, bangkit dari berbagai tantangan, dan terus membuka ruang bagi siapa pun yang datang membawa mimpi,” lanjutnya.
Rano menegaskan, momentum menuju lima abad Jakarta harus menjadi titik penting untuk menyiapkan masa depan kota yang lebih sungguh-sungguh.
Menurutnya, Jakarta harus menjadi kota global yang berbudaya, berdaya saing, namun tetap berakar pada jati diri dan nilai kemanusiaan.
“Kita ingin menjadikan Jakarta sebagai kota global nan berbudaya, kota yang menatap dunia dengan penuh percaya diri, menjadi pusat pertumbuhan, inovasi, dan peradaban. Namun tidak tercerabut dari akar sejarahnya,” ucapnya.
Rano juga menekankan, kemajuan kota tidak boleh meninggalkan warganya. Jakarta, kata dia, harus tetap inklusif, adil, dan memberi ruang bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Kita ingin menghadirkan Jakarta yang berdaya saing tanpa kehilangan rasa kemanusiaan, Jakarta inklusif tanpa membedakan latar belakang, Jakarta terus bergerak maju tanpa meninggalkan satu pun warganya di belakang,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menegaskan, ukuran kemajuan kota bukan hanya dari gedung-gedung tinggi dan gemerlap lampu kota, tetapi dari sejauh mana warganya bisa hidup layak, bermimpi, dan merasa memiliki kota ini.
“Sebab ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya terletak pada gemerlap lampu dan megahnya bangunan, melainkan sejauh mana setiap anak dapat bermimpi, setiap keluarga dapat hidup layak, setiap lansia dihormati, dan setiap warga merasa memiliki tempat di rumah besar bernama Jakarta,” jelasnya.
