Kerugian Kebakaran Desa Adat Sade Rp 34 M: 75 Rumah Adat dan 69 Art Shop Hangus

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Desa Sade, Kabupaten Lombok pada Senin (24/8/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Desa Sade, Kabupaten Lombok pada Senin (24/8/2026). Foto: kumparan

Kerugian akibat kebakaran yang melanda kawasan Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, pada Sabtu (22/8) malam diperkirakan mencapai Rp 34 miliar.

Angka tersebut diperoleh setelah dilakukan pendataan dan penghitungan bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, pemerintah desa, serta aparat kepolisian.

“Jadi total kerugiannya setelah kita hitung bersama Pak Bupati, bersama kepala dusun, kepala desa di sini, Pak Kapolres. Dengan data-data yang ada kita totalkan itu di Rp 34 miliar,” kata Staf Ahli Bupati Lombok Tengah Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Lalu Sungkul, Selasa (25/8).

Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan rumah warga saja, tetapi juga sejumlah bangunan dan fasilitas penting bagi kehidupan masyarakat adat Sade.

Warga membersihkan puing sisa kebakaran rumahnya di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (24/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO

Sungkul menjelaskan, salah satu bangunan penting yang turut terbakar adalah Masjid Jami' Sade. Masjid tersebut selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tempat untuk berinteraksi dan berkumpul di hari hari keagamaan, karena, kehidupan sosial masyarakat Sade selama ini selalu hidup bersama dengan tradisi dan adat Sasak.

Sementara dari sektor ekonomi, kebakaran juga menyumbang kerugian besar bagi masyarakat adat Sade. Sebanyak 69 unit art shop atau toko seni yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian warga yang menjual berbagai kerajinan khas Lombok juga hangus terbakar.

Art shop ini, kata Sungkul, adalah satu satunya penggerak ekonomi. Karena tempat itu merupakan toko seluruh hasil tenunan dan pernak pernik tradisional yang dibuat langsung oleh warga dan diminati oleh ribuan wisatawan yang berkunjung.

Kerugian akibat hilangnya toko dan barang dagangan pun sangat berpengaruh terhadap pendapatan warga. Karena Sade selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya utama di Lombok.

75 Rumah Adat Terbakar

Kemensos menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran di Kampung Adat Wisata Sade, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Kemensos RI

Kerusakan paling besar dari sisi warisan budaya adalah musnahnya puluhan rumah adat Sasak. Sebanyak 75 unit rumah adat dilaporkan hangus terbakar. Di antara bangunan tersebut terdapat bale beleq, yakni rumah berukuran besar yang memiliki fungsi penting bagi warga adat karena di dalam Bale Beleq terdapat sejumlah benda pusaka peninggalan leluhur masyarakat Sasak.

"Rumah adat termasuk Bale Beleq, merupakan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Sade yang diwariskan dari generasi ke generasi," kata Sungkul.

Sungkul juga menyebut terdapat bangunan lain yang ikut terbakar, yakni menara panggang atau yang dalam penyebutan lokal disebut Pelunggu.

“Ada juga menara panggang yang disebut Pelunggu, bahasa sini,” ujar Sungkul.

Hingga Selasa (25/8), penyebab pasti kebakaran yang melanda Desa Adat Sade masih belum diketahui.

Belum ada kesimpulan resmi mengenai sumber api maupun faktor yang menyebabkan kebakaran dengan cepat meluas di kawasan tersebut.

Di tengah masyarakat, muncul dugaan bahwa kebakaran dipicu oleh korsleting atau hubungan arus pendek listrik. Namun, dugaan tersebut masih belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.

Karena itu, penyebab kebakaran perlu dibedakan antara informasi yang berkembang di masyarakat dengan hasil penyelidikan resmi dari Laboratorium Forensik Polri.