Pramono: Jakarta Sudah Siapkan 37 Bus Sekolah Khusus Disabilitas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Pembukaan Spekix 2026 di JICC, Jakarta, Sabtu (10/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Pembukaan Spekix 2026 di JICC, Jakarta, Sabtu (10/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyediakan 37 unit bus sekolah khusus penyandang disabilitas. Bus tersebut diperuntukkan bagi penyandang disabilitas dan tidak digunakan untuk penumpang umum.

Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri pembukaan Special Kids Expo (SPEKIX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (10/10).

“Bahkan kami sudah menyiapkan 37 unit bus sekolah ramah disabilitas, bus yang hanya untuk disabilitas, tidak untuk umum, dan saya yakin mungkin salah satu di ruangan ini yang sudah memanfaatkan itu, dan ada 10 rute untuk anak-anak keluarga disabilitas,” kata Pramono.

Selain menyediakan bus sekolah khusus, Pramono mengatakan Pemprov DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan aksesibilitas transportasi publik bagi penyandang disabilitas.

Empat siswa penyandang disabilitas menaiki bus sekolah ramah disabilitas saat peluncuran armada tersebut di Pendopo Balai Kota, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Ia menyebut pemerintah telah menyediakan guiding block di sejumlah halte utama agar penyandang disabilitas dapat mengakses layanan MRT, LRT, Transjakarta, hingga Transjabodetabek.

Pramono juga mengaku telah meminta agar LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto memiliki fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.

“Memang belum sepenuhnya semuanya mempunyai lift, dan saya harus mengatakan dengan jujur, tetapi di beberapa pemberhentian utama sekarang ini sudah ada,” ujarnya.

Petugas Dishub membantu siswa penyandang disabilitas menaiki bus sekolah ramah disabilitas saat peluncuran armada tersebut di Pendopo Balai Kota, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Di bidang kesehatan, Pramono mengatakan Jakarta memiliki 44 puskesmas, 31 rumah sakit, dan 292 puskesmas pembantu yang disebutnya telah ramah disabilitas.

Pemprov DKI juga memiliki 584 personel Pasukan Putih yang memberikan pelayanan dari kampung ke kampung, terutama bagi lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Bahkan kalau kemudian perlu ambulans, perlu dokter, dan sebagainya, silakan dimanfaatkan, digunakan ini. Karena tanpa keberpihakan dengan hati, enggak mungkin ini bisa dilakukan,” kata Pramono.

Selain akses transportasi dan kesehatan, Pemprov DKI menyediakan dukungan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Jakarta saat ini memiliki 88 sekolah luar biasa (SLB), terdiri dari 13 SLB negeri dan 75 SLB swasta.

Pramono juga membuka peluang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk memperoleh beasiswa melalui program LPDP Jakarta yang direncanakan mulai berjalan tahun depan.

Ia menegaskan, pemerintah perlu memberikan ruang dan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan mereka, termasuk dalam memperoleh pekerjaan.

Zidan (penyandang disabilitas) menghadiri Job Fair Disabilitas 2025. Foto: Instagram/@pramonoanungw

Pramono mencontohkan Zidan, seorang penyandang disabilitas yang kini bekerja di Transjakarta setelah menunjukkan kemampuannya dalam bidang desain saat mengikuti bursa kerja khusus disabilitas.

“Yang paling penting bagi saya adalah kita harus memberikan ruang selain kasih sayang diberikan adalah memberikan kepercayaan kepada anak-anak ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan akses yang setara bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Arifatul menekankan pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait.

Ia mengatakan anak-anak penyandang disabilitas tidak meminta perlakuan istimewa, tetapi ingin didengar, diterima, dihargai, dilindungi, dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

“Mereka tidak ingin diistimewakan, tapi berilah kesempatan yang sama untuk mereka,” kata Arifatul.