Pramono Lantik Duta Antihoaks Jakarta 2026, Libatkan 356 Pelajar SMA

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan penganugerahan Duta Antihoaks Jakarta 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (2/11). Program yang digagas melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta ini melibatkan 356 peserta dari 119 sekolah tingkat SMA di Jakarta.
Pramono mengaku gembira dengan penyelenggaraan program tersebut. Menurutnya, Duta Antihoaks menjadi inisiatif yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia.
"Saya terus terang gembira dengan acara ini, karena ini adalah mungkin yang pertama kali ada Duta Antihoaks di Republik Indonesia ini," kata Pramono dalam sambutannya.
Ia mengatakan, meskipun Pemprov DKI Jakarta telah memiliki program Jakarta Lawan Hoaks (Jala Hoaks), keterlibatan pelajar tetap diperlukan untuk memperluas upaya melawan penyebaran informasi palsu.
Terlebih, Jakarta mencatatkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) tertinggi secara nasional dengan nilai 56,97. Namun, menurut Pramono, tingginya indeks tersebut tidak serta-merta membuat Jakarta terbebas dari persoalan hoaks.
"Jakarta sendiri untuk Indeks Masyarakat Digital berada paling tinggi, yaitu 56,97, tertinggi secara nasional. Tertinggi secara nasional saja hoaks-nya masih banyak sekali," ujarnya.
Pramono berharap para pemenang Duta Antihoaks mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai literasi media. Ia bahkan meminta Dinas Kominfotik menyiapkan anggaran agar dua pemenang bisa mengikuti pembelajaran mengenai penanganan hoaks di luar negeri.
"Saya bisik-bisik sama Bu Dewi (Marulina Dewi Mutiara, Kadis Kominfotik DKI), 'Bu Dewi, ada budget-nya nggak sih kalau mereka kita kirim ke luar untuk belajar hoaks? Dua pemenang ini.' Kata Bu Dewi, 'Ada, Pak,'" tutur Pramono.
Ibrahim dan Winda, Pemenang Duta Antihoaks Jakarta 2026
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga berdialog dengan dua pemenang Duta Antihoaks Jakarta 2026, yakni Muhammad Ibrahim Gumay dan Winda.
Ibrahim Gumay merupakan siswa SMAN 71 Jakarta. Sedangkan Winda berasal dari SMAN 68 Jakarta.
Menurutnya, informasi yang disebarkan di dunia digital dapat menjangkau lebih banyak orang dibandingkan komunikasi di dunia nyata. Karena itu, ia berupaya lebih berhati-hati saat menggunakan media sosial.
Sementara itu, Winda menjelaskan proyek kampanye yang membawanya menjadi salah satu pemenang Duta Antihoaks Jakarta 2026.
Ia mengembangkan proyek bernama Jakarta Cek Saya, sebuah platform digital berbasis gamifikasi yang mengajak masyarakat memeriksa kebenaran informasi melalui pemikiran kritis.
"Tujuan kami bukan untuk 'ini benar' atau 'ini salah', namun bagaimana 'apakah ini benar? Apakah ini salah?'" ujar Winda.
Menurutnya, masyarakat perlu diberikan ruang untuk berpikir dan menentukan kebenaran informasi berdasarkan proses pemeriksaan yang tepat, bukan sekadar menerima penilaian benar atau salah.
Winda juga mengungkapkan cita-citanya untuk berkarier di bidang komunikasi digital. Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).
Ingatkan Pentingnya Peran Orang Tua
Dalam dialog tersebut, Pramono turut mengingatkan para pelajar agar menjadikan keluarga, terutama orang tua, sebagai panutan utama dalam menghadapi berbagai persoalan.
Menurutnya, komunikasi dengan orang tua penting dilakukan agar anak-anak tidak mencari jalan keluar ke tempat yang keliru ketika menghadapi masalah.
"Kalau ada apa-apa, komunikasikan sebaik-baiknya dengan orang tua. Jangan kemudian kalau dalam menghadapi masalah, lari ke sana ke mari. Karena apa pun, orang tua itu pasti menyayangi, mencintai, dan melindungi anak-anakku sekalian," kata Pramono.
Ia juga mendorong para pelajar untuk memanfaatkan berbagai program bantuan pendidikan yang disediakan Pemprov DKI Jakarta, termasuk Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
Pramono menyebut, saat ini terdapat sekitar 16.000 beasiswa KJMU. Ia juga mengatakan bahwa cakupan KJMU telah diperluas sehingga dapat digunakan untuk jenjang pendidikan S2 dan S3.
Selain itu, ia menyinggung rencana program LPDP Jakarta yang ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Pramono berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan para pelajar untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita.
"Membangun Jakarta adalah membangun masa depan. Membangun Jakarta adalah membangun harapan. Membangun Jakarta adalah membangun keinginan. Membangun Jakarta adalah membangun motivasi. Membangun Jakarta adalah membangun cita-cita bersama," tuturnya.
Ia pun berharap para peserta Duta Antihoaks Jakarta dapat berkontribusi dalam memerangi penyebaran informasi palsu sekaligus menjadi pemimpin Jakarta pada masa mendatang.
