Pramono Resmikan Dua Embung di Cipayung, Ada Jogging Track hingga Taman Bermain

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam di Cipayung, Jakarta Timur, Senin (19/10). Kedua embung tersebut dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta sejak 2025.
Embung Batu Bangkong memiliki luas 1,3 hektare dengan kapasitas tampung sekitar 20.300 meter kubik. Sementara itu, Embung Bambu Hitam memiliki luas 2,1 hektare dengan kapasitas tampung 16.250 meter kubik.
Pramono menjelaskan, kedua embung tersebut dibangun melalui pendekatan biru-hijau dan solusi berbasis alam (nature-based solution). Infrastruktur ini berfungsi sebagai sarana pengendalian sumber daya air, sumber air baku, sekaligus ruang interaksi publik bagi warga.
“Ini dibangun sebagai sarana pengendali sumber daya air yang ada di tempat ini sekaligus menjadi sumber air baku dan juga ruang interaksi publik,” kata Pramono saat meresmikan Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam di Cipayung, Jakarta Timur, Senin (19/10).
Selain berfungsi sebagai sarana konservasi air, kedua embung tersebut dilengkapi berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan warga, seperti balai warga, sunken plaza, jogging track, taman bermain anak, dan lapangan multifungsi.
Kata Pramono, fasilitas yang tersedia di kawasan embung tersebut dapat digunakan warga secara gratis. Namun, ia menekankan pentingnya pemeliharaan agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Problem kita selalu dalam hal perawatan. Sehingga saya minta karena sudah bagus dan digunakan secara gratis oleh warga, tetapi saya minta perawatannya betul-betul ditangani secara baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pramono mengatakan embung memiliki fungsi berbeda sesuai kondisi cuaca. Saat musim kemarau, kawasan embung dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Sementara saat musim hujan, air akan tertampung dan meresap di kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi air.
“Fungsi utama dari embung ini adalah untuk tempat penampungan air. Jadi bukan kemudian dialirkan, tapi air itu meresap di sini, sehingga dengan demikian namanya menjadi tempat untuk konservasi,” jelasnya.
Pramono pun menegaskan, pembangunan embung merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk mengantisipasi banjir melalui langkah pencegahan.
Selain membangun embung, Pemprov DKI juga melanjutkan normalisasi sejumlah sungai, termasuk Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut, serta pembangunan waduk.
“Embung-embung yang seperti ini saya minta untuk tetap dibangun dan dilakukan, termasuk waduk. Jadi kalau embung rata-rata biasanya luasnya itu dua hektare kurang, kalau waduk itu rata-rata lima hektare,” tutur Pramono.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menerangkan, pihaknya membangun embung di tiga lokasi sepanjang 2026, yakni Embung Kebagusan, Cilandak Pondok Labu, dan Sunter Hulu Tiu.
Selain itu, terdapat tiga embung yang telah terbangun, yakni Embung Batu Bangkong, Embung Batu Hitam, dan Embung Aseni di Jakarta Barat.
