Setu Cilodong Makin Dangkal, Sampah dan Lumpur Mengepung dari Berbagai Penjuru

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Setu Cilodong yang dipenuhi sampah dan endapan lumpur, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Setu Cilodong yang dipenuhi sampah dan endapan lumpur, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Setu Cilodong di Jalan Abdul Gani, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat, tak lagi tampak seperti hamparan air yang utuh. Di beberapa bagian, permukaan air menyusut dan tepiannya berubah menjadi tanah berlumpur bercampur sampah dengan aroma tak sedap menusuk hidung.

Saat kumparan mendatangi wilayah tersebut pada Kamis (3/9), tumpukan sampah dan endapan lumpur terlihat di berbagai sisi. Salah satu bagian bahkan tampak lebih parah dengan endapan yang menumpuk hingga membuat area tersebut mengering.

Di tengah kondisi itu, aktivitas warga masih berjalan normal. Ada yang datang untuk sekadar bersantai, berdagang, hingga memancing. Namun, perubahan wajah setu Cilodong perlahan mulai dirasakan oleh mereka yang sehari-hari beraktivitas di sekitarnya.

Salah satunya Usep (34), pedagang di sekitar Setu Cilodong. Usep telah menempati kawasan tersebut sejak 2022. Saat itu, Setu Cilodong masih ramai dengan aktivitas wisata.

Usep Suhendri (34), pedagang di sekitar Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

"Waktu di sana itu masih ada bebek-bebekan, masih aktivitasnya ada, masih wisata lah gitu kan," kata Usep saat berbincang dengan kumparan.

Kini, pemandangan itu perlahan berubah. Sampah yang mengendap dan kondisi lingkungan di sekitar membuat aktivitas wisata tidak seramai sebelumnya.

"Ya dulu waktu saya 2022 itu ramai. Tapi sekarang udah makin sepi karena kotor," keluhnya.

Bagi warga yang memanfaatkan Setu Cilodong untuk memancing, persoalan sampah juga terasa di dalam air. Usep bilang dia dan kelompok pemancing terkadang menebarkan ikan sebagai bagian dari upaya menjaga aktivitas perikanan disana. Namun, saat bagian bawah Setu dikeruk secara sederhana, sampah masih ditemukan.

Suasana warga yang tengah memancing ikan di Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

"Kita juga kan ada grup mancing, suka nyeburin ikan gitu kan. Kayak sebagai apa, pelestarian lah gitu kan. Cuma waktu saya ngeduk di situ meskipun kelihatan bersih bawahnya banyak sampah gitu," ungkap Usep.

Di sisi lain, Memet (53), pemancing di Setu Cilodong, mengaku tetap merasa nyaman berada di sana. Baginya, selama aktivitas memancing masih bisa dilakukan, kondisi tersebut belum ingin membuatnya berpindah.

Memet (53), pemancing ikan di Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

"Nggak ada terganggu. Yang penting kitanya yang mancing aman, enak, gitu aja," kata Memet.

Memet bahkan mengatakan ikan yang diperolehnya masih bisa dikonsumsi tanpa terkontaminasi baik bakteri ataupun sejenisnya.

"Ya alhamdulillah ikannya dikonsumsi pun nggak apa-apa, enak kok. Masih sehat ya nggak ada terkontaminasi apa gitu, alhamdulillah," ujarnya.

Sedimentasi Lumpur Capai 30 Persen

Deni (42), Petugas Operasional Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) di sekitar Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Persoalan yang lebih besar dari sekadar sampah terlihat dari endapan lumpur yang terus bertambah. Deni (42), petugas operasional Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) yang bertugas di Setu Cilodong, menyebut sedimentasi di wilayah Setu Cilodong saat ini sudah mencapai sekitar 30 persen.

"Ya hampir 30 persen lah," kata Deni.

Kondisi tersebut sudah terlihat sejak tahun 2024. Sementara pengerukan atau revitalisasi terakhir yang diketahuinya dilakukan pada 2019.

"Ini memang kondisinya dari 2024 kayaknya Mas. Soalnya terakhir kali kita revitalisasi apa pengerukan itu 2019," ungkapnya.

Endapan itu, kata Deni, terus bertambah seiring berjalanannya waktu. Sampah yang terbawa dari aliran air kemudian ikut mengendap di kawasan Setu Cilodong.

Kondisi Setu Cilodong yang dipenuhi sampah dan endapan lumpur, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

"Ya karena banyaknya sampah dari kali-kali yang ngalir ke sini Mas. Jadi semakin numpuk sedimennya, gulmanya pun semakin ngendap gitu Mas," tutur Deni.

Saat hujan, aliran air dengan debit yang lebih tinggi membawa sampah menuju Setu Cilodong. Sampah itu kemudian ikut mengendap bersama material yang terbawa aliran.

"Ya betul Pak, terbawa air hujan, debit air tinggi, dia ngalir ke sini ya makin ngendap dia," kata Deni.

Kondisi itu diperparah dengan masih adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Deni menyebut pengawasan tidak mungkin dilakukan sepanjang waktu sehingga diperlukan keterlibatan pemerintah wilayah dan pihak lain.

"Ya pasti ada itu mah. Cuman kita kan yang namanya sampah itu kan nggak mungkin 24 jam ngawasin gitu," tegasnya.

Kepala Regu PUPR wilayah Kecamatan Cilodong, Andi (45), mengatakan Setu Cilodong memiliki tiga inlet yang menjadi jalur masuk air dimana sampah ikut terbawa melalui inlet tersebut.

"Sampah. Sampah yang masuk melalui inlet-inlet itu, inlet yang air-air masuk," kata Andi.

Andi (45), Kepala Regu PUPR di Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Saat ini, petugas PUPR masih melakukan pembersihan dengan mengangkat tanaman teratai dan sampah yang berada di Situ Cilodong. Sampah yang diangkat dari situ terlebih dahulu dikumpulkan menggunakan perahu sebelum dipindahkan ke mobil untuk kemudian dibawa ke tempat pembuangan.

“Untuk kita dari SDA, paling kita angkat untuk sementara teratai dulu sama sampah-sampahnya yang ada di Setu. Ada kita angkat ke mobil sepenuh kita buang,” jawab Andi.

Namun, pembersihan sampah belum menyelesaikan persoalan sedimentasi. Menurut Andi, pengerukan memang diperlukan dan pengajuannya sudah dilakukan. Tetapi masih belum berjalan karena alat berat dan operator masih digunakan di lokasi lain.

“Untuk endapan ini kita kan harusnya dikeruk memang pengajuan tuh udah ada. Cuma emang belum ada tindak lanjut, mungkin nunggu timing-nya apa gimana karena emang alat disebar se-Kota Depok. Di Cilangkap udah lagi bergerak alat, di Setu Pengarengan itu lagi bergerak, Setu Pengasinan semua, cuma di Cilodong nih kayak mungkin belum bergerak ke mari," tutur Andi.

Penampakan Eceng Gondok yang muncul di Setu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Deni juga menyebut rencana normalisasi atau pengerukan kembali telah dikoordinasikan. Namun, terdapat kendala dalam mencari tempat untuk membuang sedimen hasil pengerukan.

"Cuma permasalahannya kita mau normalisasi lagi pengerukan itu kita bingungnya untuk pembuangannya," katanya.

Rencana pengerukan tersebut diperkirakan dilakukan dalam waktu satu tahun ke depan.

"Ya progres sih kemungkinan satu tahun ke depan kita mau normalisasi lagi, pengerukan lagi," ungkapnya.

Sambil menunggu pengerukan, pembersihan sampah tetap dilakukan. Andi menyebut kondisi Situ Cilodong memang menjadi salah satu yang cukup terlihat parah dibandingkan situ lain di wilayah kerjanya.

"Yang lumayan parah ya ini Setu Cilodong ini kelihatan banget," ungkapnya.

Kondisi Setu Cilodong yang dipenuhi sampah dan endapan lumpur, Kamis (3/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Bagi Andi, persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Pencegahan juga bergantung pada perilaku masyarakat yang tinggal di sekitar aliran air menuju situ.

"Kalau untuk pencegahan ya balik lagi ke SDM ya, sumber daya manusia yang ada di bantaran kali inlet-inlet yang masuk ke Setu Cilodong," tutur dia.

Foto udara Situ Cilodong yang airnya menyusut di Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
Foto udara Situ Cilodong yang airnya menyusut di Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Kini, Situ Cilodong masih menjadi ruang bagi warga untuk memancing dan beraktivitas. Namun, air yang menyusut, lumpur yang terus mengendap, serta sampah yang datang dari aliran inlet membuat wajah Setu Cilodong perlahan berubah.

Di tengah penantian pengerukan, petugas masih mengangkat sampah yang datang dan warga masih menjalankan aktivitas mereka. Harapannya sederhana, Setu Cilodong kembali memiliki air yang cukup, tepian yang bersih, dan lingkungan yang nyaman seperti yang pernah mereka kenal.