Singgung Perang Yarmuk, Kiai Miftach Pesan Buat Dahulukan Kepentingan Orang Lain

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar (Kiai Miftach) berpesan kepada jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031 agar mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.
Pesan itu disampaikan Kiai Miftach saat memberikan amanat dalam Pelantikan PBNU 2026-2031 di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10).
Dalam amanatnya, Kiai Miftach menyinggung kisah dalam Perang Yarmuk. Ia bercerita tentang seorang sahabat bernama Abu Jaham yang mencari kerabatnya seusai peperangan dengan membawa air minum.
"Begitu juga di Qadisiyyah, bahkan di depan Yarmuk, ada seorang sahabat yang bernama Abu Jaham. Perang Yarmuk ini perang pertama kali Islam menghadapi Eropa. Yang tidak salah umat Islam waktu itu hanya 24 ribu bala tentara, tapi dari Eropa 300 sampai 400 ribu, dimenangkan oleh Islam," kata Kiai Miftach.
Ia menceritakan, Abu Jaham kemudian menemukan kerabatnya dalam kondisi terluka parah dan kehausan. Namun, ketika hendak diberi minum, terdengar rintihan orang lain yang juga membutuhkan pertolongan.
"Setelah ketemu ternyata saudara ipar ini dalam kondisi yang sangat parah, sudah tidak mampu mengeluarkan suara, hanya dengan bahasa isyarat meminta segera diberikan minuman. Begitu mau diminumkan tiba-tiba Abu Jaham ini mendengar suara rintihan tidak jauh dari situ, kendi air sudah ada di mulut," ujarnya.
Menurut Kiai Miftach, kerabat Abu Jaham justru meminta air tersebut terlebih dahulu diberikan kepada orang lain yang terdengar merintih.
"Tiba-tiba rintihan terdengar maka saudara daripada sahabat Abu Jaham memberikan isyarat agar engkau ke sana, dulukan rintihan yang sedang membutuhkan dalam kehausan. Maka Abu Jaham pun mendatangi suara tersebut," katanya.
Orang kedua yang ditemukan, kata Kiai Miftach, adalah Hisyam bin Abil Ash. Namun ketika air hendak diberikan, kembali terdengar rintihan dari orang lain.
"Ternyata setelah ketemu, kalau tidak salah itu adalah sahabat Hisyam bin Abil Ash, saudara daripada sahabat Amr bin Ash, dalam keadaan parah, maka disodorkan air pada Hisyam, sahabat Hisyam tersebut," ujar Kiai Miftach.
"Begitu akan diminum tiba-tiba terdengar rintihan lain, kira-kira 50 meter, ternyata sahabat Hisyam memberi isyarat karena sudah ndak mampu bicara agar engkau ke sana, dulukan suara yang merintih," lanjutnya.
Ketika Abu Jaham mendatangi orang ketiga, orang tersebut telah meninggal dunia. Ia kemudian kembali kepada Hisyam, tetapi Hisyam juga telah meninggal. Begitu pula ketika kembali kepada orang pertama.
"Akhirnya Abu Jaham pun mendatangi suara itu, sampai di tempat, pemilik suara yang ketiga sudah meninggal dunia, ndak sempat meminum air itu tadi. Maka kembalilah Abu Jaham ke sahabat Hisyam bin Abil Ash, sampai di sahabat Hisyam bin Abil Ash ternyata sahabat Hisyam bin Abil Ash sudah meninggal juga," kata Kiai Miftach.
"Akhirnya kembali ke saudara iparnya tadi yang pertama, begitu sampai pada saudara iparnya, juga meninggal dunia," sambungnya.
Kiai Miftach mengatakan kisah tersebut menggambarkan sikap saling mendahulukan kepentingan orang lain karena adanya mahabbah atau rasa cinta yang tertanam dalam hati.
"Ketiga-tiganya saling mendahulukan kepentingan orang lain karena sifat mahabbah, mawaddah yang sudah tertanam dalam hatinya mendahulukan," ujarnya.
"Tiga-tiganya meninggal dunia hanya karena mendahulukan kepentingan orang lain pada dirinya, walaw kaana bihim khasasah. Itulah gambaran Islam yang sampai saat ini kita memahami mungkin hanya setuju kuku hitam kita memahami Islam itu," lanjutnya.
Kiai Miftach kemudian mengingatkan luasnya ajaran dan kekuasaan Allah yang menurutnya tidak mungkin dipahami manusia secara sempurna.
"Datangkan semua lautan dari planet lain, lautan yang ada di dunia di planet dunia ini habis dipakai menulis ayat-ayat Allah kekuasaan Allah menulis tentang Islam, punah kering kerontang walaupun didatangkan dari lautan-lautan planet-planet yang lain tetap tidak mencukupi, habis dan punah," lanjut Kiai Miftach.
Kiai Miftach kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan ajaran pendiri NU, Hadratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, mengenai mahabbah, mawaddah, ukhuwah, dan persatuan dalam berjam'iyyah.
Ia menegaskan kepengurusan PBNU pada awal abad kedua NU harus mengedepankan persatuan dan menyingkirkan kepentingan pribadi.
"Ini ajakan mahabbah, mawaddah, ukhuwah, persatuan, singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi, apalagi ini mengawali daripada abad kedua kepengurusan kita," pungkas Kiai Miftach.
