Tenda-Tenda Harapan di Tengah Luka Kebakaran Kemayoran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara usai kebakaran permukiman di Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Foto: Adietiya Haswi/HO via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara usai kebakaran permukiman di Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Foto: Adietiya Haswi/HO via REUTERS

Deretan rumah yang hangus terbakar di Kemayoran, Jakarta Pusat, kini hanya menyisakan puing dan abu. Tempat yang dulu menjadi ruang berkumpul keluarga berubah menjadi lahan kosong yang dipenuhi sisa-sisa bangunan.

Bagi para korban, pilihan yang tersisa adalah bertahan. Dengan pasrah, mereka kini menempati tenda-tenda pengungsian yang berdiri di sekitar lokasi kebakaran.

Di tengah situasi tersebut, bantuan perlahan mulai berdatangan. Salah satunya dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang memberikan bantuan kepada 26 korban kebakaran di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Meski kehilangan tempat tinggal dan banyak barang berharga, para penyintas tampak berusaha tegar. Tidak terlihat raut putus asa di wajah mereka. Salah satunya adalah Darni (57), guru PAUD yang juga menjabat sebagai Ketua RW 04 Kelurahan Kebon Kosong.

Darni (57), Guru PAUD sekaligus Ketua RW 04 Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat yang menjadi korban kebakaran pada Rabu (3/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Di Lapangan Jusuf Hamka, tempat para korban mengungsi, berdiri 10 tenda yang kini menjadi rumah sementara bagi puluhan keluarga.

“Masing-masing tenda rata-rata ada 50 KK, ada 15 KK, ada 35 KK, ya berbeda-beda sesuai kapasitas tenda yang disediakan,” tutur Darni saat berbincang dengan kumparan.

Menurut Darni, kebakaran tersebut berdampak pada sekitar 250 bangunan di wilayahnya. Dari musibah itu, sebanyak 300 keluarga atau 527 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Namun di tengah kehilangan yang begitu besar, Darni melihat satu hal yang menguatkan; ketabahan para warga.

“Kayaknya tidak ada juga yang berlarut-larut apa ya sedih gitu karena apa pun itu cobaan harus kita terima kan gitu,” ujar Darni.

Mendikdasmen, Abdul Mu'ti saat bercengkerama dengan para siswa di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Baginya, kesedihan berkepanjangan bukanlah pilihan. Kehidupan harus tetap berjalan, meski dimulai dari titik yang nyaris nol.

Darni sendiri bersyukur karena aktivitas belajar di PAUD tempatnya mengajar tidak ikut terhenti. Meski sebagian bahan ajar dan koleksi buku miliknya hilang dilahap api, ia masih dapat melanjutkan kegiatan pendidikan bagi anak-anak.

“Saya kebetulan senang membaca di rak-rak buku gitu, jadi itu yang tidak terbawa. Tapi file-file yang berupa lembaran itu saya ada file khusus, itu saya selamatkan,” ungkap Darni.

Harapan warga juga perlahan tumbuh seiring datangnya berbagai bantuan. Setiap hari mereka menerima bantuan pangan dari Kementerian Sosial. Makanan siap saji juga mengalir dari berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

Sementara itu, Kemendikdasmen memberikan santunan sebesar Rp 10 juta kepada Darni dan tenaga pendidik lain yang terdampak kebakaran.

Sejumlah pengungsi menjalani aktivitas di tenda darurat yang disediakan di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menariknya, kondisi serba terbatas tidak membuat semangat berbagi para penyintas ikut padam. Saat bantuan makanan datang dalam jumlah besar, mereka justru memilih membagikannya kepada para petugas yang siang dan malam membantu di lokasi.

“Kadang-kadang mereka tiba-tiba memberikan bantuan berupa Nasi Padang 100 bungkus, itu kan enggak mungkin kami keep ya, jadi langsung kami bagikan. Dan itu biasanya kami bagikan untuk petugas yang membantu seperti PPSU, terus ada Bina Marga, pokoknya yang stay di wilayah,” ungkap Darni.

Selain kebutuhan fisik, perhatian juga diberikan pada kondisi psikologis para korban. Darni menilai secara umum mental warga masih stabil. Meski demikian, pendampingan tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak dan guru yang mengalami langsung peristiwa kebakaran.

Untuk itu, Kemendikdasmen menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) guna memberikan layanan pendampingan psikologis kepada para penyintas.

“Kami sekarang ini sedang asesmen awal untuk terutama para penyintas yang mengalami kebakaran, anak-anak SD yang mengalami kebakaran. Kami sedang melakukan asesmen dan nantinya setelah dari hasil asesmen itu akan dilakukan berbagai intervensi,” ujar Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy.

Sejumlah pengungsi menjalani aktivitas di tenda darurat yang disediakan di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Bisa itu kalau mereka mengalami trauma, ya trauma healing, tetapi sebagian besar biasanya ada dukungan psikososial bagi mereka, terutama sekali pada anak-anak itu,” sambungnya.

Menurut Andik, bentuk pendampingan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing korban. Semakin berat dampak yang dialami, semakin panjang pula proses pemulihannya.

“Kalau memang dalam kondisi yang berat dan tidak bisa, tidak bisa misalnya rumahnya tidak bisa langsung kemudian dibangun lagi, maka juga memerlukan pendampingan yang lebih lama,” sebut Andik.

Pendampingan tidak hanya diberikan kepada siswa. Para guru juga akan dibekali kemampuan dasar untuk mengenali dan menangani persoalan psikologis yang mungkin muncul setelah bencana.

“Biasanya kami memberikan PFA ya, Psychological First Aid, bantuan psikologis awal, terutama sekali kami melatih agar guru-guru dan tendik itu mampu mengintervensi kalau anak-anak mengalami persoalan-persoalan,” ungkap Andik.

“Tetapi kalau sudah sampai pada persoalan yang lebih kompleks, maka harus dirujuk pada psikolog,” pungkasnya.

Di antara puing-puing yang tersisa, warga Kebon Kosong perlahan menata kembali harapan mereka. Rumah boleh hilang dilalap api, tetapi semangat untuk bangkit tampaknya belum ikut terbakar.