Konten dari Pengguna

Jadi Dewasa Itu Berat Untuk Perempuan: Tapi Kita Nggak Sendiri

Rini Rendhy

Rini Rendhy

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Magister Manajemen Pendidikan Berprofesi sebagai guru sejak lulus kuliah dan saat ini mengajar Bina Pribadi Islam di SMPIT Cordova -. Mengajar privat bid study MaFiA (Mtk, Fis, IPA)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rini Rendhy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sistermance ^_^ (Sumer: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sistermance ^_^ (Sumer: Dokumen Pribadi)

Waktu kecil, kita pikir jadi dewasa itu menyenangkan. Bebas. Punya uang sendiri, bisa beli apa aja yang kita suka, bisa pergi kemana-mana sendiri, dan bisa bikin keputusan sesuka hati.

Ternyata… jadi dewasa itu berat. Apalagi buat perempuan.

Ternyata dewasa itu bukan cuma soal umur, tapi juga tentang belajar bertahan. Tentang jatuh dan bangkit tanpa banyak yang tahu. Tentang jadi kuat padahal ingin dipeluk. Tentang menjalani hidup dengan seribu tuntutan tapi tetap harus terlihat baik-baik saja.

Beratnya Peran yang Sering Tak Terlihat

Sebagai perempuan, kita sering merasa harus bisa semuanya:

• Harus mandiri, tapi tetap lembut.

• Harus kerja keras, tapi tetap punya waktu untuk rumah.

• Harus pintar, tapi jangan “terlalu” dominan.

• Harus kuat, tapi tetap terlihat anggun.

Capek, ya?

Dan lebih capek lagi ketika kita merasa sendirian. Padahal, sesungguhnya kita nggak sendiri. Ada banyak perempuan lain yang sedang memikul beban yang mirip dengan bentuk dan cerita yang berbeda.

Sisterhood: Kita Bisa Lelah, Tapi Nggak Perlu Sendirian

Satu hal yang sering menyelamatkan perempuan dari tenggelam dalam lelah adalah sisterhood: lingkaran perempuan yang saling memahami, saling mendengar, dan saling menguatkan.

Teman yang nggak menghakimi saat kamu bilang, “Aku capek.”

Sahabat yang tahu kapan harus memeluk, bukan menasihati.

Komunitas yang nggak menuntut sempurna, tapi merayakan proses.

Tips Nyata: Bertahan Tanpa Kehilangan Diri

Berikut beberapa langkah sederhana agar kamu bisa melewati masa-masa berat sebagai perempuan dewasa:

1. Punya minimal 1 orang perempuan tempatmu bisa jujur.

Bukan soal jumlah, tapi kualitas. Seseorang yang kamu bisa bilang: "Aku lelah dan rapuh" tanpa takut dihakimi.

2. Jangan malu minta tolong.

Tangan yang terbuka untuk meminta bantuan adalah tanda keberanian, bukan kelemahan. Jangan merasa sendirian saat kamu sedang sedih, ingat: "Innalloha ma'ana, sesungguhnya Allah bersama kita"

3. Atur ekspektasi: kamu nggak harus bisa semua hal.

Pilih prioritas, dan izinkan dirimu gagal di beberapa hal lain, karena kamu tidak harus mumpuni di segala hal.

4. Rayakan pencapaian kecil.

Masak sendiri setelah minggu penuh kerja? Bangun pagi setelah semalaman galau? Itu hebat. Rayakan.

5. Gabung dengan komunitas perempuan yang sehat.

Bisa online atau offline. Tempat berbagi cerita, belajar, dan tertawa.

Kita Nggak Harus Hebat Sendirian

Jadi perempuan dewasa itu memang nggak mudah. Tapi kamu nggak harus menjalaninya sendirian. Kita punya satu sama lain. Dalam sunyi, dalam tawa, dalam tangis, dalam pelukan virtual yang tetap terasa hangat.

Kalau kamu lagi capek hari ini, tarik napas dalam.

Kamu nggak sendiri. Dan kamu tetap luar biasa.