Konten dari Pengguna

Surat Terbuka untuk Perempuan yang Terus Bertahan

Rini Rendhy

Rini Rendhy

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Magister Manajemen Pendidikan Berprofesi sebagai guru sejak lulus kuliah dan saat ini mengajar Bina Pribadi Islam di SMPIT Cordova -. Mengajar privat bid study MaFiA (Mtk, Fis, IPA)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rini Rendhy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Coz you amazing just the way you are" (Sumber: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
"Coz you amazing just the way you are" (Sumber: Dokumen Pribadi)

Hai, kamu yang sedang diam-diam lelah,

Kamu yang tetap tersenyum meski dunia seperti menarikmu dari segala arah.

Kamu yang menahan tangis di balik “nggak apa-apa kok”.

Kamu bukan lemah, kamu hanya lelah. Dan itu wajar.

Di tengah tuntutan menjadi hebat, mandiri, bijak, kuat, sabar, lembut, cantik, dan cerdas sekaligus, mungkin kamu lupa: kamu manusia. Bukan mesin. Bukan tokoh fiksi superwoman yang nggak pernah rapuh. Kamu nyata. Dan kamu berhak untuk merasa capek.

Lelah Bukan Tanda Gagal

Banyak dari kita tumbuh dengan narasi bahwa perempuan harus bisa segalanya. Tapi pelan-pelan kita belajar: menjadi segalanya itu melelahkan. Dan tidak perlu.

Kalau hari ini kamu tidak semangat, tidak produktif, bahkan hanya ingin tidur seharian, itu bukan kegagalan. Itu sinyal dari tubuh dan jiwamu: “tolong, beri aku ruang untuk bernapas.”

Kamu Sudah Bertahan Jauh. Apresiasi Itu.

Bertahan adalah keberanian.

Bertahan meski kecewa.

Bertahan meski merasa sendirian.

Bertahan meski kadang kamu sendiri tidak yakin masih sanggup atau tidak.

Dan hebatnya kamu, kamu tetap di sini. Masih bangun pagi. Masih menyapa orang lain dengan senyum. Masih bekerja, belajar, merawat orang-orang yang kamu sayangi. Mungkin tidak sempurna, tapi kamu tetap hadir. Dan itu keren, itu luar biasa.

Langkah Nyata: Cara Lembut Merawat Diri Saat Lelah

Berikut ini beberapa hal sederhana namun bermakna untuk kamu yang sedang ingin menyerah:

1. Berhenti sebentar, bukan menyerah.

Ambil jeda. Matikan notifikasi, jauhan dirimu sejenak dari hingar bingar media sosial. Rehat sebentar bukan dosa.

2. Tidur cukup bukan kemewahan, tapi kebutuhan.

Jangan terus-menerus mengorbankan istirahat demi "tanggung jawab". Kamu juga penting. Usahakan tidur di awal waktu, supaya esok pagi kamu bisa bangun lebih awal dan memeluk Robb mu.

3. Pilih satu hal yang kamu nikmati hari ini.

Minum teh hangat, dengar lagu favorit, duduk di teras sambil membaca novel, nonton film favorit kamu, menatap rembulan yang menenangkan, atau berdoa dengan khusu kepada Robb mu . Hal kecil bisa jadi penyelamat energi.

4. Cerita ke satu orang yang kamu percaya.

Tak perlu solusi. Kadang, cukup didengarkan saja bisa meredakan banyak hal. Ceritakan kegundahan atau kesedihanmu kepada orang tua mu, guru mu, atau besti mu. Kamu juga bisa bertukar serotonin dengan saling berpelukan.

5. Ulangi kalimat ini pelan-pelan:

“Aku bukan gagal. Aku cuma butuh istirahat. Dan itu nggak apa-apa.”

Teruntuk Kamu yang Masih Berusaha

Mungkin hari ini kamu merasa tidak cukup kuat. Tapi ingat: bertahan itu bentuk kekuatan paling diam-diam tapi paling dalam. Kamu sudah jauh lebih tangguh dari yang kamu sadari.

Kamu tidak harus selalu kuat. Kamu tidak harus selalu benar. Kamu bahkan tidak harus selalu baik.

Yang penting: kamu tetap kamu. Dan kamu berharga. Becouse you amazing just the way you are