Konten dari Pengguna

Siklus Mahasiswa Akhir Semester Ketika "Tugas Dulu Napas Kemudian" Jadi Realita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rio Aryatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi pribadi, diolah dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi pribadi, diolah dengan bantuan AI

Pendahuluan

Lampu kamar kos yang menyala hingga larut malam dan suara ketikan papan ketik di pertengahan malam kini bukan lagi sekadar pemandangan langka, melainkan pemandangan rutin bagi mereka yang berada di penghujung semester. Bagi para mahasiswa, fase akhir semester selalu datang membawa beban akademis yang memuncak—mulai dari tumpukan tugas, laporan penelitian, hingga tenggat waktu revisi yang saling berkejaran. Ironisnya, di tengah tuntutan perfeksionisme akademis tersebut, kesehatan fisik dan mental sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Realita inilah yang melahirkan siklus hidup baru di kalangan mahasiswa: sebuah dinamika di mana waktu istirahat dipangkas habis dan batas kemampuan diri diuji hingga titik terendah.

Ruang kamar ukuran 3x4 meter itu cuma diterangi layar laptop yang cahayanya membakar mata. Di pojok kanan bawah layar, jam digital menunjukkan pukul 02.14 WIB. Di sebelah laptop, ada gelas kopi hitam yang sudah dingin, menyisakan ampas yang menempel di dinding gelas—sama seperti sisa-sisa tenaga pemiliknya.

Bagi mahasiswa semester akhir, kata "libur" kadang terasa seperti mitos yang diciptakan untuk menghibur mahasiswa di awal semester. Deadline yang datang bersamaan bisa berupa makalah belasan halaman, laporan penelitian yang datanya belum selesai diolah, hingga revisi proposal kelompok yang belum juga beres.

Fenomena "mabuk tugas" ini bukan cuma dialami oleh satu mahasiswa. Kalau membuka grup WhatsApp kelas pada pukul dua pagi, statusnya bisa saja masih dipenuhi aktivitas. Ada yang sedang mengetik bab tugas sambil menahan kantuk, ada yang sibuk memperbaiki koding yang terus error, dan ada juga yang hanya bisa menatap layar kosong sambil mempertanyakan keputusan memilih jurusan ini.

Beban akademis yang menumpuk sering kali datang bersamaan seperti ombak tsunami. Dosen A memberikan tugas mini research dengan deadline seminggu, Dosen B meminta presentasi kelompok untuk lusa, sementara Dosen C dengan santainya mengatakan bahwa minggu depan akan ada kuis dengan materi dari bab 1 sampai 8.

Dampaknya? Jangan tanyakan pola tidur. Konsep tidur delapan jam sehari bisa saja digantikan dengan power nap 20 menit di sela-sela jeda kuliah. Makanan sehat berubah menjadi mi instan dan kopi sasetan. Lebih dari sekadar lelah fisik, yang paling menguras energi adalah rasa cemas karena terus merasa ada hal yang belum diselesaikan, bahkan saat sedang berusaha istirahat.

Kadang, ketika sudah memejamkan mata untuk tidur, pikiran justru kembali mengingat file PDF yang belum diubah ke format yang dibutuhkan, tugas yang belum dikumpulkan, atau formulir pengumpulan yang belum di-submit. Tubuh memang sedang beristirahat, tetapi pikiran masih sibuk menyusun daftar pekerjaan.

Namun, di balik kepala yang mau pecah dan lingkaran hitam di bawah mata yang makin menebal, ada satu hal unik dari mahasiswa Indonesia: kemampuan bertahan hidup (survival mode) yang luar biasa. Di tengah keputusasaan itu, selalu ada dorongan kecil untuk terus mengetik satu paragraf lagi, menyelesaikan satu slide lagi, atau memperbaiki satu bagian tugas sebelum akhirnya bisa beristirahat.

Untuk kamu yang malam ini lagi mengutuki laptop, meminum kopi gelas ketiga, dan merasa tugas tidak ada habisnya: breathe. Kamu tidak sendiri. Layar laptopmu mungkin panas, tetapi masa depanmu sedang ditempa. Rehat sejenak 10 menit, tarik napas dalam-dalam, dan ingat kalau semester ini pasti akan berlalu.

Kesimpulan

Pada akhirnya, fenomena "tugas dulu, napas kemudian" merupakan cerminan dari kerasnya fase pendewasaan akademis yang harus dilalui setiap mahasiswa. Meskipun tumpukan tenggat waktu dan rasa lelah mental kerap memicu kecemasan, periode ini sekaligus menjadi bukti ketangguhan daya tahan tubuh dan pikiran mereka dalam menghadapi tekanan. Lingkaran hitam di bawah mata dan sisa kopi dingin di meja mungkin menandai malam-malam yang berat, namun setiap paragraf yang terselesaikan adalah bentuk perjuangan nyata menuju garis akhir. Siklus padat ini memang melelahkan, tetapi ia bersifat sementara; sebuah proses penempaan diri yang kelak akan menjadi kenangan tentang betapa kuatnya mereka bertahan.

Sumber Kutipan:

RIO ARYATAMA. (2026, 3 Oktober). Siklus 24 Jam Mahasiswa Akhir Semester: Ketika "Tugas Dulu, Napas Kemudian" Jadi. Pers Kampus Online. Diakses pada 3 Oktober 2026, dari https://www.perskampus.com/siklus-24-jam-mahasiswa