Konten dari Pengguna

Semangka Terakhir

Ilustrasi semangka.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi semangka. Foto: Shutterstock

Ia sedang mengisi formulir di sebuah kantor di Jawa Timur ketika telepon berdering. Kakak perempuannya menelepon dari Sumatra Selatan.

"Kalau sempat pulanglah," kata suara di seberang, pelan, seolah takut didengar tetangga. Keesokan harinya, ia sudah duduk di pesawat.

Rumah Mama masih tampak besar. Pagar hijaunya mulai mengelupas di sudut-sudut. Di atas meja dapur, teronggok sebuah semangka utuh. Kulitnya hijau tua, berbintik-bintik halus.

"Beli tadi pagi," kata Mama dari atas ranjang.

"Yang manis." Mama mengetoknya sekali, pelan.

Bunyi renyah itu langsung membawanya kembali ke dua puluh tahun silam. Dulu, Mama selalu membelikan yang terbaik, meski dompetnya seringkali hanya berisi selembar uang lima ribuan yang dilipat dengan rapi.

Dokter menunjukkan hasil CT scan. "Kanker rektum," ucap dokter itu, suaranya tenang seolah ketenangan itu bisa menular kepada mereka.

"Bisa dirujuk ke Jakarta untuk prosedur lebih lanjut." Mama terbaring diam, matanya terbuka, menatap lurus ke arahnya.

Ia mencoba membuka mulut, namun tak ada suara yang keluar. Hanya rasa bersalah yang perlahan merayap naik dari perut hingga mencekik tenggorokan. Ia ingin sekali menjawab ya, tapi ia sadar betul dirinya tidak sanggup. Ia baru saja kehilangan pekerjaan. Ia tidak punya tanah lagi untuk dijual. Ia tidak punya apa-apa.

Justru Mama yang angkat bicara.

"Di sini saja. Dekat," katanya pelan, namun tegas dan tak bisa dibantah.

Ia mengangguk, lega dan hancur dalam waktu yang sama.

Tiga bulan masa perawatan itu berlalu begitu saja. Atau mungkin, tidak sesederhana itu. Orang-orang bilang ia kehilangan pekerjaan, tapi baginya, ia justru mendapatkan waktu. Waktu yang tak dimintanya, namun kini harus dijalani. Waktu yang dihabiskan untuk menyuapi Mama, membantunya duduk, dan menunggunya menghabiskan obat.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya. Pagi dimulai dengan obat-obatan. Siang diisi dengan istirahat. Dan malam diisi percakapan pendek yang sering kali terputus di tengah jalan. "Kamu sudah makan?" tanya Mama.

Ia mengangguk saja, walau kadang perutnya terasa kosong melompong. Kesabarannya pun perlahan menipis seiring berlalunya hari. Botol-botol obat di meja nakas makin banyak jumlahnya, seperti tamu yang datang tanpa diundang dan menolak untuk pergi. Di tengah malam, ia selalu terbangun saat Mama memanggil.

"Kaki Mama sakit," rintihnya pelan.

Ia bangkit, menggenggam kuat telapak kaki itu, lalu memijatnya perlahan.

Kaki yang dulu berjalan berkilometer-kilometer di tepi sungai mengumpulkan batu, yang dulu menapaki tangga sekolah demi puluhan anak didik, yang dulu berdiri tegap di depan kelas meski malam sebelumnya ia habiskan untuk menangis.

Beberapa menit pertama, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Namun setelah itu, gerakannya melambat, seolah tenaga dan harapannya ikut menyusut bersamaan.

"Makasih, ya," kata Mama, dan ia hanya mengangguk diam.

Di luar jendela, langit masih hitam pekat. Ia bertanya-tanya, jauh di Jawa Timur sana, apakah istrinya juga sedang terjaga sendirian, menatap sisi ranjang yang kosong.

Ada hal-hal yang harus dilakukannya setiap hari yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Membersihkan. Ada bau amis yang tak pernah hilang meski sudah dibersihkan berkali-kali.

Mama selalu menahan rasa sakit saat bergerak, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan memar di dalam tubuhnya.

Ia melihat kain basah yang digunakannya, warnanya bukan cokelat kemerahan seperti biasa.

Ia teringat dulu, saat ia masih kecil, Mama selalu membersihkannya dengan air hangat dan sabun bayi yang wangi. Sekarang, justru ia yang membersihkan orang yang sama, namun dengan air dingin dan kain kasa kasar.

Peran telah bertukar.

Rumah sakit kini menjadi tempat yang biasa ia kunjungi. Lorong panjang dengan langkah-langkah pelan. Nomor antrean dipanggil dari pengeras suara yang berisik, tapi mereka yang belum dipanggil tetap duduk diam, menatap lantai, seolah rasa sakit pun harus mengantre agar bisa diakui keberadaannya.

Daftar pemeriksaan itu seolah tak pernah ada habisnya. Ada yang memilih berobat ke kota besar, konon pelayanannya lebih cepat dan hasilnya lebih pasti.

Tapi ia tak tahu mana yang lebih melelahkan diantara menunggu kepastian, atau terus berharap tanpa jaminan. Pada akhirnya, mereka tetap bertahan di sini.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, ia selalu berhenti sejenak. Membeli buah.

Suatu pagi, ia memilih semangka.

"Yang manis, Bang," pintanya pada penjual.

Penjual itu mengetok kulit buahnya, lalu mengangguk, memberikan senyuman yang seolah membawa secercah harapan, meski hanya sesaat.

Ia membawanya pulang, meletakkannya di meja dapur, bersanding dengan botol-botol obat. Mama melirik dan tersenyum. Senyum yang sama, yang selalu tampak seolah tahu sesuatu yang belum ia ketahui.

"Ini pasti yang manis," kata Mama, dan ia mengangguk.

Ilustrasi Fota AI

Hari-hari terus berjalan, dan tubuh Mama pun berubah perlahan. Ia mulai terbiasa dengan semua itu.

Rasanya menyakitkan, tapi ia berhenti menghitung hari. Kadang, tanpa alasan yang jelas, satu kalimat lama terlintas dalam pikirannya:

"Nedo muno, mati jadilah." Kalimat yang berasal dari Pendopo, Kabupaten Empat Lawang.

Ia tak pernah benar-benar tahu artinya. Tapi ia ingat, setiap kali Mama mengucapkannya, Mama sedang melakukan sesuatu yang berat

Saat menggendong keranjang cucian yang terlalu berat.

Saat menyeberang jalanan yang ramai. Saat menghadapi petugas yang bersikap kasar.

Atau saat menahan rasa sakit yang tak bisa diucapkan.

Mama tak pernah menjelaskan maknanya. Ia hanya mengucapkannya, lalu kembali bergerak menyelesaikan apa yang sedang dikerjakannya, seolah kalimat itu adalah napas berat yang harus dihembuskan sebelum menarik napas berikutnya.

Dua hari lagi, seharusnya adalah jadwal resmi kemoterapi ketiga. Namun hari itu, kondisi Mama menurun drastis. Napasnya menjadi pendek, badannya panas dingin, dan ia tak lagi sanggup mengangkat kepala.

Tak bisa menunggu lagi, Mama harus segera dibawa ke rumah sakit.

Karena datang di luar jadwal rutin dan bukan hari periksa resmi, mereka harus mengantre lama untuk mendapatkan ruang perawatan di bangsal khusus pasien kanker. Lorong rumah sakit terasa makin sempit dan berat. Ia menggendong tubuh Mama yang kini sangat ringan, ringan seperti daun kering yang siap tertiup angin.

Kaki yang dulu kuat mengusung batu, tangan yang dulu cekatan memegang palu dan kapur tulis, kini hanya terkulai lemas di lengannya.

Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya Mama bisa dibawa masuk ke ruang perawatan. Mama memejamkan mata sejak tadi, tenang sekali.

Ia duduk di samping ranjang, tak beranjak, memegang tangan Mama yang makin dingin.

Malam berganti pagi. Satu hari lagi, tinggal satu hari lagi menuju jadwal kemoterapi yang seharusnya dijalani. Tapi pagi itu, Mama sudah tak banyak bicara. Ia keluar sebentar, membeli semangka—yang manis, seperti biasa.

Penjual yang sama, ketokan yang sama, anggukan yang sama pula.

Di ruang rawat, ia memotongnya. Pisaunya menembus daging merah di dalamnya, dan seketika itu juga bau manis yang berair menyebar memenuhi ruangan.

Mama menggigit daging merah semangka itu. Merahnya tampak semakin terang di antara bibir yang pecah-pecah karena sakit. Ia hanya menyantap beberapa suap. Matanya terpejam sejenak, seolah sedang mengingat-ingat rasa itu, bukan sekadar menelannya.

Mama tak pernah meminta suap ketiga.

Siang itu, makanan dari rumah sakit dikirimkan, tapi Mama sama sekali tak menyentuhnya.

Ia yang menghabiskannya, mengunyah perlahan, seolah ada sesuatu yang lebih berat yang harus ditelan selain nasi dan lauknya.

Sore itu, Mama pergi, mendekati waktu Maghrib. Satu hari sebelum jadwal yang ditunggu-tunggu itu tiba.

Tak ada yang berubah di luar ruangan itu. Orang-orang tetap berjalan lalu-lalang, pintu-pintu tetap dibuka dan ditutup.

Ia duduk diam di samping tempat tidur. Tangan Mama sudah tak lagi hangat, tetapi ia masih terus menggenggamnya.

Tak ada kata-kata terakhir. Hanya napas yang semakin pelan, lalu berhenti sama sekali.

Hening.

Ia menatap sisa potongan semangka yang ada di nampan. Dagingnya masih tampak merah, tapi sudah mulai kehilangan kesegarannya.

Kini, rumah kembali seperti sediakala. Tak ada lagi suara yang memanggil namanya. Tak ada lagi jadwal minum obat atau antrean panjang di rumah sakit.

Ia masih sering telat bangun pagi.

Masih sering telat sarapan.

Kadang ia menyiapkan sesuatu, lalu berhenti di tengah jalan karena merasa tak ada gunanya lagi.

Segala hal yang pernah terjadi, segala rasa sakit dan lelah itu, rasanya kini sudah cukup. Semuanya telah berlalu.

Seminggu yang lalu, ia membeli semangka lagi. Memilihkan yang manis. Ia mengetok kulitnya, mendengarkan bunyinya, lalu mengangguk pada dirinya sendiri sebelum membayarnya.

Di rumah, ia memotongnya. Dagingnya merah, berair, terlalu segar untuk ruangan yang begitu sunyi.

Ia memakan satu suap, dan untuk pertama kalinya ia merasakan rasa yang sama persis—manis, tapi ada rasa pahit yang tertinggal di ujung lidah.

Ia teringat Mama, yang selalu mengatakan bahwa semangka yang terlalu manis biasanya sudah terlalu matang waktunya.

Ia mengangkat sendok.

Semangka ini manis.

Mungkin terlalu manis.