Konten dari Pengguna

Dari Kulit Jeruk dan Serai, KKN Unmul Kenalkan Spray Alami di Pinang Mas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ririn Yuliani Azahra Zardan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 6 Universitas Mulawarman bersama warga menunjukkan hasil spray anti nyamuk alami dalam kegiatan program kerja di RT 02 Dusun Pinang Mas, Desa Persiapan Pinang Raya. Kredit foto: Kelompok 6 KKN Bina Desa Universitas Mulawarman.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 6 Universitas Mulawarman bersama warga menunjukkan hasil spray anti nyamuk alami dalam kegiatan program kerja di RT 02 Dusun Pinang Mas, Desa Persiapan Pinang Raya. Kredit foto: Kelompok 6 KKN Bina Desa Universitas Mulawarman.

Sangatta Selatan — Kulit jeruk yang biasanya berakhir di tempat sampah dan tanaman serai yang tumbuh di pekarangan rumah ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai guna. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bina Desa Universitas Mulawarman X Pertamina EP, mahasiswa Kelompok 6 mengajak warga RT 02 Dusun Pinang Mas untuk mengenal pemanfaatan kedua bahan tersebut sebagai bahan dalam pembuatan spray anti nyamuk alami.

Melalui program kerja “Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk dan Tanaman Serai Menjadi Spray Anti Nyamuk Alami” dilaksanakan pada 25 Juli 2026 di Desa Persiapan Pinang Raya, RT 02 Dusun Pinang Mas. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk sosialisasi sekaligus workshop agar masyarakat tidak hanya mengetahui manfaat bahan yang digunakan, tetapi juga dapat melihat dan mencoba langsung proses pembuatannya.

Berawal dari Limbah Rumah Tangga dan Potensi di Pekarangan

Pemilihan program ini berangkat dari fokus Kelompok 6 untuk mendorong optimalisasi pengelolaan limbah yang dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Selama melakukan survei di lingkungan RT 02 Dusun Pinang Mas, mahasiswa menemukan bahwa kulit jeruk masih sering dibuang setelah buahnya dikonsumsi. Di sisi lain, tanaman serai cukup mudah dijumpai di sekitar rumah warga. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan pemanfaatan bahan yang sebenarnya sudah tersedia di lingkungan masyarakat.

Alih-alih melihat kulit jeruk hanya sebagai sampah dan serai hanya sebagai tanaman pekarangan, keduanya diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengajak masyarakat mulai memperhatikan potensi limbah rumah tangga yang ada di sekitar mereka.

Mengenal Potensi Serai dan Kulit Jeruk

Kegiatan diawali dengan penyampaian informasi mengenai bahan yang digunakan dalam pembuatan spray. Mahasiswa menjelaskan bahwa serai memiliki kandungan minyak atsiri, termasuk senyawa sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang menghasilkan aroma khas dan berpotensi membantu mengusir nyamuk. Sementara itu, kulit jeruk mengandung minyak atsiri dengan senyawa seperti limonene yang juga memberikan aroma khas pada kulit jeruk dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengusir nyamuk alami.

Serai menjadi salah satu bahan utama karena tanaman tersebut relatif mudah ditemukan di lingkungan warga. Sementara itu, kulit jeruk digunakan sebagai bahan pendukung sekaligus menjadi bentuk pemanfaatan limbah organik rumah tangga yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Penjelasan tersebut kemudian dilengkapi dengan pembagian brosur kepada warga. Brosur berisi informasi mengenai bahan dan tahapan pembuatan sehingga peserta dapat mengikuti proses sekaligus memiliki panduan yang dapat digunakan kembali setelah kegiatan selesai.

Dari Demonstrasi hingga Warga Ikut Mencoba

Warga RT 02 Dusun Pinang Mas bersama mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 6 Universitas Mulawarman mempraktikkan langsung proses pengolahan serai dan kulit jeruk untuk pembuatan spray anti nyamuk alami. Kredit foto: Kelompok 6 KKN Bina Desa Universitas Mulawarman.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan bahan dan demonstrasi pembuatan spray. Mahasiswa memperlihatkan tahapan pengolahan bahan kepada warga secara langsung.

Suasana kegiatan kemudian menjadi lebih interaktif ketika warga tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga ikut mencoba proses yang telah dijelaskan. Pendekatan praktik langsung ini membuat kegiatan tidak berhenti pada penyampaian informasi, melainkan memberikan pengalaman kepada masyarakat dalam membuat produk dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Keterlibatan warga terlihat dari antusiasme mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan. Beberapa peserta ikut memperhatikan proses pengolahan bahan dan berdiskusi bersama mahasiswa mengenai cara pembuatan serta penggunaan spray yang dihasilkan.

Belajar Memanfaatkan Bahan yang Ada di Sekitar

Salah satu hal yang ingin diperkenalkan melalui kegiatan ini adalah bahwa pengelolaan limbah tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang rumit. Kebiasaan sederhana seperti memanfaatkan kembali kulit buah setelah dikonsumsi dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi limbah rumah tangga yang terbuang begitu saja.

Begitu pula dengan tanaman yang sudah tersedia di pekarangan. Serai yang selama ini mudah ditemukan di sekitar rumah warga dapat dikenali kembali sebagai salah satu bahan alami yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan.

Melalui workshop tersebut, mahasiswa berusaha menghubungkan dua hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu persoalan limbah rumah tangga dan gangguan nyamuk. Keduanya kemudian dipertemukan dalam sebuah kegiatan sederhana yang dapat dipelajari secara langsung oleh warga.

Langkah Kecil dari Lingkungan Rumah

Pemanfaatan kulit jeruk dan serai menjadi spray anti nyamuk alami menjadi salah satu cara Kelompok 6 KKN Bina Desa Universitas Mulawarman X Pertamina EP untuk mengenalkan pengelolaan limbah yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Program ini tidak hanya berfokus pada menghasilkan sebuah produk, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat kembali bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah. Kulit jeruk yang sebelumnya dibuang dan serai yang tumbuh di pekarangan dapat menjadi contoh bahwa sesuatu yang sederhana masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.

Pada akhirnya, pengelolaan lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan kecil. Ketika masyarakat mulai mengenali, memilah, dan memanfaatkan kembali bahan yang ada di sekitar mereka, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di tingkat rumah tangga.