Bukan Tentang Menang, Tapi Tentang Berani Berlari

Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Risa Alpionita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, setiap lomba lari di sekolah selalu jadi momen yang kutunggu-tunggu. Bukan cuma karena aku suka lari, tapi karena di situlah aku merasa benar-benar bisa bersinar. Setiap kali ada lomba antar kelas, aku ikut. Dan selalu menang.
Rasanya luar biasa ketika nama kita dipanggil sebagai juara, disorakin teman-teman, dan dilihat guru sebagai murid yang "bisa diandalkan". Dari situlah aku mulai percaya diri. Aku pikir, mungkin aku memang cocok jadi pelari.
Sampai suatu hari, aku dipilih untuk mewakili sekolah dalam lomba lari antar sekolah, O2SN. Waktu itu, aku senang banget. Deg-degan juga. Ini kesempatan besar, pikirku. Aku latihan beberapa kali, siapin mental, dan berharap hasilnya bakal sebanding dengan usahaku.
Tapi ternyata, kenyataannya nggak seindah harapanku.
Aku kalah.
Bukan cuma sekali. Aku ikut dua kali O2SN dan dua-duanya berakhir tanpa kemenangan.
Rasanya waktu itu campur aduk: malu, kecewa, sedih. Aku yang biasanya juara di sekolah, kok bisa kalah di luar? Aku sempat mikir, mungkin aku nggak cukup bagus. Mungkin aku cuma jago kandang.
Tapi lama-kelamaan aku sadar, kalah itu bukan aib. Justru dari pengalaman kalah itu aku banyak belajar. Aku jadi tahu bahwa berani mencoba, berani maju, dan tetap semangat meskipun tahu hasilnya belum tentu sesuai harapan itu juga bentuk kemenangan. Bahkan kadang, itu jauh lebih penting daripada sekadar juara satu.
Sekarang aku memang nggak ikut lomba lari lagi. Tapi semangat kecil waktu SD itu masih aku bawa. Karena ternyata, yang paling penting bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang nggak berhenti melangkah.
Aku mungkin nggak bawa pulang kemenagan, tapi aku bawa pulang pelajaran: "Bahwa hidup bukan tentang selalu menang, tapi tentang nggak berhenti berani melangkah"
