Sekolah Tak Selamanya Jadi Rumah Kedua yang Baik, Mengapa?

Mahasiswi Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Risda Virdea Ananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah merupakan tempat dimana orang-orang menimba ilmu, di tempat inilah para murid menghabiskan waktu yang cukup lama dalam kesehariannya selain di rumah. Kenyamanan dalam bersekolah sangat diperlukan karena lebih dari setengah hari para murid berada di sekolah, itu juga merupakan salah satu alasan mengapa sekolah dapat disebut sebagai rumah kedua bagi para murid.
Sekolah ini juga sering dianggap sebagai tempat yang aman bagi para murid, sebab jika dilihat para murid dapat memiliki banyak teman dan banyak guru-guru yang senantiasa memantau murid-murid di sana, orang tua pun seharusnya bisa menyerahkan anaknya kepada pihak sekolah dengan rasa aman dan menganggap semuanya akan baik-baik saja tanpa memikirkan hal-hal buruk karena memang sekolah ini adalah tempat yang baik.
Para murid yang berada di sekolah ini juga pasti sering berinteraksi dengan teman-teman, guru, kakak kelas, adik kelas, dan warga sekolah lainnya. Kesenangan dalam hati untuk menimba ilmu pasti akan muncul apabila para murid merasa nyaman dan dengan lingungan sekitarnya, seperti teman yang baik, guru yang baik, dan masih banyak lagi, tentu para murid akan merasa bahwa sekolah ini menjadi rumah kedua yang baik.
Tetapi nyatanya tidak semua orang mendapatkan nasib yang baik, seperti mendapatkan lingkungan sekolah yang baik karena ada juga orang yang mendapatkan pengalaman bersekolah seperti menjalani mimpi buruk dan sangat tidak menyenangkan. Jangankan semangat, untuk pergi ke sekolah pun rasanya berat karena diperlakukan buruk oleh lingkungan sekitarnya, teman misalnya.
Seperti yang bisa kita lihat di berita televisi ataupun artikel-artikel yang ada, banyak kasus-kasus perundungan yang berlatarkan di sekolah, entah di SD, SMP, ataupun SMA terjadi, kasus perundungan ini menyadarkan kita bahwa sekolah ternyata tidak selamanya menjadi rumah kedua bagi sebagian orang dan malah terasa seperti neraka juga menjadi tempat yang ditakuti untuk didatangi.
Dalam jurnal (Fitriana & Fauzi, 2023) tertulis riset terhadap tindakan perundungan di lima negara Asia oleh ICRW menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan pertama insiden tindakan perundungan di sekolah dengan persentase 83%8. Sebuah survei juga melaporkan bahwa jumlah tindakan perundungan yang dilaporkan di sekolah mencapai 40% dan 32%, dan mereka mengatakan bahwa mereka mengalami kekerasan fisik.
Kasus perundungan ini menimbulkan sangat banyak dampak buruk untuk para murid yang menjadi korban, seperti korban menjadi takut untuk datang ke sekolah, sehingga akademik dapat terganggu,, mental korban menjadi rusak, cenderung membuat korban menutup diri, juga rasa trauma yang timbul karena tekanan para perundung. Bahkan, di dalam jurnal (Fitriana & Fauzi, 2023) disebutkan bahwa Fujikawa juga menyatakan bahwa 30% dari korban tindakan perundungan dapat mengalami depresi berat dan setengah dari jumlah korban telah berpikir untuk mengakhiri hidup mereka
Dari riset tersebut, kita tahu bahwa sekolah yang selama ini sering disebut sebagai rumah kedua juga bisa menjadi tempat yang buruk bagi sebagian orang yang terkena perundungan. Tidak semua orang dapat menikmati masa-masa sekolah sebagaimana mestinya, dibalik banyaknya murid yang bersemangat pergi ke sekolah, ada murid yang takut untuk hanya datang ke sekolah karena dirundung oleh temannya di sekolah.
Para perundung ini tidak sadar bahwa mereka bisa mengubur mimpi para korban, jangankan untuk mengejar mimpinya, untuk melanjutkan hidupnya saja sudah terasa berat karena dihantui oleh rasa takut dan trauma, memang dampak kasus perundungan ini tidaklah main-main, terlebih terjadi di tempat yang seharusnya para murid menimba ilmu dan mengembangkan diri untuk masa depan.
Membuat para korban sampai berpikiran untuk mengakhiri hidupnya saja sudah menggambarkan bahwa korban menjalani kehidupan yang sangat berat. Mereka merasa bahwa mereka akan lepas dari kesengsaraan apabila mereka mengakhiri hidupnya dan menghilang. Para perundung seringkali tidak memikirkan perbuataannya akan menjadi beban yang berat para korban dan hanya memikirkan kesenangan dirinya saja.
Perbedaan persepsi perundungan antara guru dan murid pun juga dapat menjadi pemicu kelanjutan dari perundungan, seperti yang dikatakan di jurnal (Putri & Ihsana Sabriani Borualogo, 2023) berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Borualogo dan Casas (2021) perundungan verbal merupakan jenis perundungan di sekolah yang sering terjadi yaitu perundungan verbal seperti memanggil dengan sebutan yang tidak baik oleh antar murid di kelas, guru juga menilai bahwa mengejek sesama murid itu sebuah bentuk candaan.
Sedangkan persepsi murid berbeda dengan persepsi guru, murid menilai bahwa ejekan tersebut merupakan bentuk perundungan karena perbuatan tersebut menyakiti hati korban. Jadi, untuk para orang tua ataupun teman-teman harus lebih awareness terhadap lingkungan sekitar, orang tua harus lebih waspada kepada anaknya, dan teman-teman juga harus lebih care dengan temannya, terlebih kita semua sebagai manusia harus saling membantu, dimana terjadi kasus perundungan kita dapat melaporkannya kepada pihak yang semestinya agar dapat ditindak lanjuti sebagaimana mestinya.
Kita tidak pernah tau apa yang orang sekitar kita alami, bahkan di tempat yang sepertinya aman seperti sekolah pun dapat menyimpan kenangan buruk bagi sebagian orang, kita sebagai sesama murid sekolah pun semestinya tidak boleh melakukan perundungan, sekecil apapun itu, alasan hanya bercanda pun sering dilontarkan, padahal bercanda itu dilakukan oleh dua arah, jika yang satu merasa tidak lucu, itu namanya perundungan.
Bagi siapapun yang membaca artikel ini dan merasa bahwa kalian pernah merundung seseorang, segeralah minta maaf kepada mereka, walaupun tidak menutup kemungkinan kenangan buruk dari kejadian tersebut masih akan terekam jelas di ingatan mereka, tetaplah meminta maaf karena setidaknya mereka tahu bahwa kalian sudah menyesali perbuatan yang sudah lalu dan menunjukkan sifat ingin merubah diri menjadi lebih baik.
Daftar Pustaka
Fitriana, M. N. F. A. A., & Fauzi, A. (2023). Analisis Tindak Perundungan Siswa Sekolah Dasar dan Upaya Penanggulangannya Mohamad Noor Fajar Al Arif Fitriana. 3(82), 287–295.
Putri, S. A., & Ihsana Sabriani Borualogo. (2023). Studi Deskriptif Persepsi Siswa, Orang Tua dan Guru Mengenai Perundungan pada Siswa SMP di Kota Bandung. Bandung Conference Series: Psychology Science, 3(2), 935–943. https://doi.org/10.29313/bcsps.v3i2.7427
