Manusia Digital: Apakah Kita Masih Punya Nurani di Era Konten Ekstrim?

Mahasiswa angkatan 2023, prodi Akuntansi, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizka Hanipah Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman sekarang, kehidupan manusia semakin tidak terlepas dari dunia digital. Media sosial menjadi fokus utama di mana jutaan orang setiap hari mengonsumsi berbagai macam konten, mulai dari yang inspiratif sampai konten ekstrem seperti video kekerasan sadis, prank berbahaya yang merugikan, hingga flexing atau pamer kekayaan yang berlebihan. Tren ini tidak lagi sekadar hiburan, tapi sudah menjadi fenomena yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku banyak orang. Konten-konten tersebut sering kali viral, memancing emosi, dan tanpa disadari mulai melemahkan nurani kita sebagai manusia.
Platform-platform media sosial kini dirancang dengan algoritma yang secara khusus menampilkan konten yang paling mampu menarik perhatian, seringkali yang ekstrim dan sensasional. Kondisi ini memicu kecanduan serta desensitisasi kita sehingga terbiasa melihat kekerasan, kebencian, atau keserakahan sebagai hal biasa. Akibatnya, rasa empati terhadap penderitaan sesama melemah. Lebih mirisnya, muncul fenomena viral empati palsu, di mana orang-orang hanya sekadar menampilkan dukungan atau belasungkawa secara superficial demi mendapatkan likes dan perhatian, tanpa ada tindakan nyata yang mengiringi. Ini membuat moral kolektif kita menurun secara signifikan.
Dalam kehidupan sosial, hal ini menimbulkan erosi empati yang cukup berbahaya. Kita mudah menemukan komentar sinis, ejekan, atau bahkan hate speech pada postingan yang menampilkan kesusahan orang lain. Dunia maya, yang seharusnya menjadi ruang untuk saling mendukung, kini kerap berubah menjadi medan pertempuran moral dan sikap egois. Fenomena cyberbullying, intoleransi, dan ujaran kebencian semakin marak, menunjukkan bahwa nurani banyak orang telah tersumbat oleh arus konten negatif yang tak terkendali.
Jika kita menilik dari perspektif Islam, manusia dianugerahi fitrah, naluri suci yang menjadi dasar nurani dan kesadaran moral. Rasulullah SAW pun menegaskan pentingnya kekuatan hati dan akhlak, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, menjaga hati dan nurani adalah kunci utama agar kita tetap menjadi manusia yang beradab di tengah dunia digital yang penuh godaan.
Solusinya dimulai dari diri sendiri, yaitu dengan membangun kesadaran kritis dalam mengonsumsi konten. Kita harus lebih selektif, tidak mudah terpancing sensasi, dan selalu menumbuhkan sikap empati yang tulus. Platform digital juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengatur algoritma dan mengurangi penyebaran konten berbahaya. Selain itu, pendidikan literasi digital yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan agama sangat penting agar generasi muda tidak terjerumus ke dalam budaya digital yang dangkal dan amoral.
Pada akhirnya, manusia digital harus sadar bahwa di balik layar, nurani tetap harus dijaga agar tidak mati terkikis oleh tren konten ekstrem. Nurani adalah akar peradaban yang beradab dan beriman. Tanpa nurani, kita hanyalah makhluk yang kehilangan jiwa kemanusiaan. Mari bangkitkan kembali nurani kita, menjaga hati, dan memuliakan akhlak supaya dunia maya menjadi ruang yang lebih manusiawi dan bermartabat.
Rizka Hanipah. Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang.
